Kesadaran dan Pengendalian Diri menjadi Dasar Memaafkan


Lanjutan dari apa perlu memaafkan orang lain…

Saya merasa sangat terbantu sekali dengan materi kotbah bapak dan juga saat doa setelah kotbah dimana saya bisa benar benar bertemu musuh saya. Oleh karena itu saya ingin berdiskusi dengan bapak. Pak Didik langsung mensetujui kita akan bertemu di akhir pekan.

Kemudian saat yang paling aku nantikan tiba juga, Sabtu 6 april 2019 aku memiliki relasi dengan orang yang berasal dari teologia dan masih nyambung dengan psikologi. Jarang sekali aku bertemu orang yang berasal dari teologia namun ketika bertemu kasus psikologi bisa membantu. Adapun aku bertemu pasti usianya sudah hampir 60 tahun. Untuk isi percakapan detailnya aku sudah lupa karena aku mengetik ini 1 minggu kemudian, jadi aku mencoba menjadikan berdasarkan memoriku.

Pak Didik: Pagi Setiti saya kira kamu tidak datang karena suatu hal…

Aku: (tersenyum) pagi juga pak.

Pak Didik: ayo masuk ruang makan

Aku: Ya pak…

Di ruang makan pak Didik menyalakan  AC kemudian duduk, sedangkan aku duduk duluan saat pak Didik masih menyetel suhu dari remote AC. Kemudian baik aku maupun pak Didik saling memperkenalkan diri.

Pak Didik: kamu kuliah semester berapa?

Aku: 4 pak (tersenyum sambil menunduk), tahun depan semester 6 aku ada mata kuliah psikologi konseling.

Pak Didik: jadi apa yang bisa saya bantu?

Aku: Ya pak jadi aku ini menjalin relasi dengan seorang konselor, hubungannya sudah jalan 1 tahun tapi aku mistrust sama konselorku soalnya dia jahat pak. Aku dikatain bohong pak, padahal dia sendiri motong pembicaraanku dengan berkata aku berbohong, padahal aku memang dari awal gak nyaman, dari konsel pertama bahkan. Aku mengulang semua perkataanku dengan menambahkan beberapa kata baru setiap aku mengulang pembicaraan. Misalnya: Aku mau ngomong. Oh ya ngomong saja… Ya aku mau ngomong kalau… Iya ngomong saja kalau apa? Ya aku mau ngomong kalau aku… ya intinya kepenggal-penggal gitulah. (ekspresi bingung).

Pak Didik: (ekspresi lebih bingung) konseling 1 tahun sedangkan kamu tidak trust ke konselormu…

Aku: ya aku tahu ini gak masuk akal, bagiku hal ini wajar terjadi soalnya aku sudah biasa menjalani sesuatu dengan terpaksa.

Pak Didik: jadi kedepan kamu akan kembali melanjutkan hubungan dengan konselormu?

Aku: entahlah, pinginku itu aku coba buat hubungan lagi bentar habis itu aku putuskan lanjut atau enggak. (hening 1 menit) Sebenarnya konselorku sudah minta maaf si tentang perilakunya itu, tapi aku gak mau maafin dia soalnya dia jahat, dia kebacut/keterlaluan. Aku gak mau maafin dia pokoknya. Berjuta kata maaf gak akan buat aku maafin dia pokoknya. Tapi sekarang sudah gak soalnya pak Didik abis kotbah, teruskan doa bareng tu… nah dia sama temenku yang nyebelin itu aku tampilkan di bayanganku.

Pak Didik: apa manfaat dari kamu tidak memaafkan dia? Dia sudah minta maaf, hidupnya dia jadi tenang, dia bebas mau melakukan apapun tanpa beban, kamu, Kamu yang masih memendam rasa benci jadi gak enak kan?

Aku: (dalam hati aku berkata bahwa Anda tidak tahu masalahnya, dia sudah keterlaluan, kamu kira bisa dengan gampang minta maaf i am sorry gitu)

Pak Didik: coba sekarang kamu perkenalkan siapa dirimu. Aku mulai dengan perkenalkan diriku dulu. Aku adalah kesadaran.

Aku: Aku gak mau soalnya aku pernah kenalan bentuk begitu, hasilnya malah dikatain macam anak kecil. Ya aku tahu akhirnya dikatain kaya anak kecil itu dalam konteks supaya berani mimpi besar. Cuma kalau bapak buat apa? gak penting.

Pak Didik: coba sekarang kamu angkat ibu jarimu?

Aku : hmm… (angkat ibu jari)

Pak Didik: Sekarang gerakan memutar.

Aku: (meniru gerakan pak Didik)

Pak Didik: Kamu kenapa niru?

Aku: Lha kan bapak minta buat niruin?

Pak Didik: Saya cuma berkata coba angkat jari, lalu coba gerakan jari.

Aku: menutup mata kanan dan berkata dalam hati (shit ini apaan si)

Pak Didik: inilah yang saya maksud dengan kesadaran, kamu bisa saja tidak menggerakan jarimu karena kamu adalah kesadaran. Kamu punya kontrol pada dirimu, kamu tidak dapat mengontrol respon orang lain.

Aku: Oh… tentang respon dan kontrol diri.

Pak Didik: Kamu ini coba rekam pembicaraan tadi terus hitung seluruh perkataanmu, kau terlalu di dominasi oleh pikiran. Kamu banyak sekali berkata tapi, soalnya.

Aku: (astaga anjirlah ini orang, tau saja kalau aku pingin ngerekam pembicaraan Cuma ga aku lakuin)

Ya begitulah ceritanya, jadi pak Didik itu memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah seorang teolog yang juga belajar NLP, dan ketika bertemu klien pak Didik menggunakan pendekatan client center. Pak Didik menyemangatiku untuk terus belajar psikologi bahkan sampai level magister, walaupun dalam hatiku aku juga pingin ambil doktoral. Pak Didik memintaku untuk mengkontrol diri, dan juga memperhatikan perkataanku agar tidak menyakiti orang lain serta refleksi.

Harapan pak Didik mengenai hubunganku dengan konselorku adalah Pertama, selesaikan saja ributnya dg damai.Kedua, belajarlah dari pengalaman. Apa faktor keributan? Supaya ke depan ada pembelajaran dan tak perlu terulang. “Dalam hidup, kehilangan satu teman, tak bisa gantikan kalahkan 1000 musuh dengan tangan sendiri” Aku tidak terlalu paham arti quotes pak Didik, namun itu ide bagus untuk memperbaiki relasi yang sudah renggang. Akhir dari pertemuannya adalah pak Didik tetap menyelesaikan masalah dan membuat keputusan mengenai kelanjutan konseling, serta tetap belajar pesan moral akan apapun.

 Surabaya, 13/14 april 2019

(terserah mau panggil siapa)

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Kesadaran dan Pengendalian Diri menjadi Dasar Memaafkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.