Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama


Kembali mengikuti kelas psikodrama, teknik favorit saya. Kali ini untuk komunitas orang orang yang peduli dan mau bersiap untuk menghadapi bencana. Di kelas ini, kami belajar bagaimana caranya menggunakan Psikodrama untuk membantu korban bencana.

Namun cerita saya bukan terkait dengan hal itu. ada sebuah kejadian yang sangat berkesan bagi saya. Dalam sesi praktek di kelas Psikodrama tersebut, seorang peserta terpilih untuk menjadi tokoh protagonis. Dia memainkan adegan dirinya di usia 75 tahun. Saat Mas Didik menyatakan akan menggunakan teknik mirroring, jadi dia akan memilih orang lain untuk memerankan diri dia yang berusia 75 tahun, saya langsung mendapat ‘insight’ bahwa peserta ini akan memilih saya di antara 30 an orang peserta. Ternyata benar, peserta ini memilih saya untuk memerankan dirinya yang berusia 75 tahun.

Dalam Psikodrama, fenomena seperti ini disebut Tele Phenomenone, keterhubungan antara tokoh protagonis dengan pemeran pembantu yang dipilihnya sehingga tiap peran yang dimainkan oleh semua orang dalam adegan tersebut memiliki arti tersendiri bagi pemainnya, meskipun tokoh protagonis yang memilih peran pembantu itu tidak mengetahuinya sama sekali.

Saya sendiri kemudian mencari dalam diri saya. Apa gerangan gelombang yang ditangkap oleh peserta itu sehingga memilih saya yang tidak dia kenal sebelumnya. banyak sekali kemungkinan yang muncul dalam pikiran saya. Kemudian saya mendapatkan jawabannya setelah di rumah. Saat membaca sebuah kertas isian yang sudah saya jawab sendiri. isinya ditulis begini : jika keadaan seperti yang saya harapkan, maka saya akan hidup sampai usia…. ternyata di sana saya menulis usia 75 tahun. persis seperti usia yang saya perankan dalam adegan itu.

Memainkan peranan itu membuat saya mendapatkan pencerahan dan kebahagiaan, bagaimana tidak.. dalam usia itu, saya begitu sehat, bugar dan memiliki banyak sahabat serta melakukan kegiatan yang menyehatkan dan membahagiakan. Sebuah potongan drama kecil, membawa bahagia dan optimisme, bukan saja bagi sang protagonis tapi juga peran pembantunya.

Saya percaya pada kekuatan pikiran, Law of Attraction ; bahwa pikiran adalah magnet yang mampu menarik apa yang dipikirkan. Jika saya mampu membayangkan kondisi tersebut, maka saya akan mampu mewujudkannya dalam kehidupan nyata. di psikodrama ini, saya bukan Cuma membayangkan, saya sudah memerankannya. Saya sudah tahu bagaimana rasanya. Bermain dalam psikodrama membuat saya optimis, bahwa saya prima dan bahagia sampai akhir hayat saya. SADHU

Medan, 20 April 2019

Mina Wongso

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

15 tanggapan untuk “Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.