Sebuah Kesadaran yang Menohok


Selama ini saya menargetkan setiap klien yang datang pada saya harus saya bantu dia selesaikan masalahnya dalam satu kali pertemuan. Kebetulan klien klien yang selama ini datang kepada saya memang mampu saya selesaikan dalam satu kali pertemuan. Niat ini membuat saya terkadang melakukan terapi sampai 4 jam lebih. Bagi saya pribadi ini lah wujud totalitas dan “profesionalitas” yang bisa saya berikan bagi profesi saya. Pikiran seperti ini yang membuat saya kadang – kadang berpikiran ‘negatif’ pada rekan rekan seprofesi yang membatasi waktu dalam melakukan terapi.

Sampai saya bertemu dengan seorang klien istimewa, di mana dia memiliki banyak lapisan persoalan, sehingga untuk mendapatkan cerita yang ‘utuh’, saya menginterviu dia selama hampir 3 jam. setelah interviu dengan waktu selama itu, saya masih memutuskan untuk melanjutkan terapi. Saya menghabiskan waktu selama 6 jam dan…. saya masih harus menerima satu kenyataan lagi, kasusnya belum selesai saya kupas tuntas.

Pulang ke rumah dalam keadaan letih. saya mendapatkan diri mengalami demam. jadi harus makan obat, makanan panas dan juga istirahat. Saya ngobrol dengan seorang teman, dengan niat curhat dan ingin mendapatkan penghiburan saya ceritakan capeknya terapi selama 6 jam. Ternyata saya mendapatkan ‘tamparan’ cukup keras.

Teman saya ini berkata bahwa saya tidak profesional. wah… saya protes keras.. karena demi klien saya sampai harus demam seperti ini. Namun penjelasan lanjutan yang saya dapatkan yang kemudian membuatku paham, kenapa saya disebut tidak profesional karena memberikan terapi selama 6 jam.

Teman saya ini berkata, kamu yang dalam kondisi normal membimbing dia yang sedang dalam masalah saja, kamu kecapekan.. apalagi dia yang kondisinya memang sudah bermasalah. Kamu yang hanya memberi petunjuk saja sampai sakit, bisa bayangkan keadaan dia yang harus mengalami kembali ingatan, dan emosi atas masalah yang dia hadapi. Secapek apa dia?

Rasanya seperti diguyur air. Akhirnya saya memahami alasan mengapa waktu terapi harus dibatasi. Terima kasih untuk remindermu

Medan, 20 April 2019

Mina Wongso

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.