Praktek Psikodrama di Tasikmalaya, Membuat Skenario Role Play yang Memberdayakan…


2 Mei 2019

Keledai tak pernah takut terkubur, dia bergembira karena dapat melompati timbunan pasir yang menimpanya.

Ada rasa haru dan harapan baru yang menyeruak dari proses psikodrama yang dilakukan pada hari ini.

Setelah proses perkenalan dengan pose pohon gue bangetz yang seru dan heboh, peserta memilih posisi yang paling ingin mereka coba. Sebagian besar ingin belajar lebih mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak, sebagian lainnya ingin belajar lebih empati pada orang lain sebelum berbuat sesuatu, sebagian lain hanya ingin spontan bertindak.

Pada bagian action, aku memilih mengajak peserta untuk menciptakan skenario bersama mengenai problem aktual yang sedang dihadapi oleh perusahaan terkait dengan kompetitor dan tentu saja konflik yang terjadi. Seorang peserta menjadi Director mendiskusikan adegan drama yang akan dimainkan.

Peserta berinisiatif untuk memerankan suatu tokoh yang akan muncul dalam adegan drama. Mereka memilih sendiri selendang sebagai simbol dari peran tersebut. Ada juga yang dipilihkan Director dan menerima peran tersebut. Peserta memberikan masukan peran apa saja yang harus di hadirkan sehingga semua peserta memiliki peran sesuai dengan yang mereka harapkan. Peserta membagi peran sebagai pegawai dari dua perusahaan yang berkonflik. Setiap peserta kini memperkenalkan diri sebagai tokoh yang akan mereka mainkan.

Adegan drama diajukan oleh seorang peserta, selebihnya peserta saling melengkapi satu adegan demi adegan sehingga menjadi lengkap suatu kisah yang dimaksudkan. Aku hanya mengarahkan Direktor untuk memastikan bahwa peserta telah berperan sesuai dengan tokoh yang dimainkan.

Dan action!!

Saling mengamati, menyemangati, memprovokasi, chatarsis keluar dengan deras. Aku membuat jarak dari ruang dan waktu hanya untuk mereka.

Selanjutnya setiap peserta merefleksikan pengalaman menjadi tokoh yang mereka mainkan.

Peserta mampu menunjukkan empati yang sangat baik, merasa, berpikir dan bertindak seperti tokoh yang dimaksud. Peserta lain memberikan tanggapan. Dalam proses ini muncul secara spontan usulan-usulan suatu kejadian lain yang dapat terjadi pada kisah yang baru yang lebih diharapkan dan dianggap “seharusnya” dan akan lebih menguntungkan. Sesungguhnya adegan alternatif merupakan solusi kreatif atas problem yang dihadapi pada skenario drama pertama.

Kejutan dari proses empati dan mengamati adegan psikodrama membuatku terpesona. Solusi atas konflik muncul begitu saja dan peserta sepakat bahwa mereka dapat melakukan hal tersebut.

Peserta sepakat mengubah dan membuat adegan baru dalam drama kedua. Adegan kedua tampak lebih menyenangkan dan menguntungkan bagi perusahaan peserta pelatihan. Paling tidak itulah yang dikira (diyakini red) para peserta.

Dalam proses refleksi mengenai peran yang telah mereka mainkan, pemeran merasa puas telah menemukan cara menghadapi masalah, namun tidak semua merasa senang dengan perubahan adegan, ada tokoh lain yang menjadi sedih. Kelebihan dan kemenangan pada satu pihak berarti kekurangan dan kekalahan pada pihak lainnya.

Peserta menyimpulkan bahwa fokus perusahaan bukanlah mengalahkan pihak lain, bersikap kompetitif tidak selalu menyelesaikan masalah, bahwa fokus pada tujuan sendiri akan membuat mereka lebih produktif dan mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan sendiri.

Yang lebih penting adalah bahwa semua orang sama-sama berusaha, bisa jadi kemenangan akan dipergilirkan dan tidak ada yang kalah atau menang tetapi siapa yang bersungguh-sungguh dan tetap menjalankan tugas dengan baik dalam masing-masing perannya di perusahaan akan menjadi yang terbaik. Hal itu dapat berarti membuat penawaran program yang menarik, memenangkan hati konsumen dengan layanan terbaik, memenuhi kebutuhan dan kelengkapan produk yang menjadi andalan dalam proses transaksi jual beli serta bagaimana membangun komunikasi dan kerja sama dengan mitra.

Mendengarkan pemikiran yang bijaksana dari tim perusahaan seperti menemukan oase, sebuah harapan dan semangat baru dari situasi konflik yang semula dirasakan pegawai. Empati memunculkan bukan saja mengubah emosi menjadi lebih positif dan memberdayakan, tetapi pemikiran yang lebih matang dan bijaksana muncul dengan spontan dan menyebar menjadi semangat dan keyakinan bahwa perusahaan akan tetap maju dan berkembang dalam situasi apapun.

Peserta memberikan kalimat-kalimat penguat seperti berikut ini : “marilah kita fokus saja pada apa yang kita kerjakan”, “jangan mikirin orang lain”, “seperti sejak awal memilih pohon beringin yang kuat tak akan goyah oleh angin dan badai”, “sebenarnya kita tak memiliki kepentingan dengan perusahaan orang lain, mengapa kita harus takut?”, “Bahkan kita sudah lebih berpengalaman dan memiliki rekam jejak yang dapat membuat kita tetap mampu melampaui mereka para pemain baru”. Nasehat pun muncul, mengingatkan pada diri sendiri masing-masing pemain; “mari kita konsisten”, “ayo semangat dan tidak perlu takut”, “jalani saja dan sertai dengan doa”, “kita perkuat dan tingkatkan semua usaha yang ada”, “sholat dan ingat bahwa Allah yang menentukan”. Dll. Begitu banyak energi positif.

Sementara itu rasa kesal, marah, dan takut berubah menjadi pemaafan, bahkan yang muncul adalah rasa syukur dan kegembiraan , sepanjang hari itu telah ditemukan solusi, harapan baru, juga arah baru yang lebih positif.

Big smile 

Bandung, 8 Mei 2019

Iip Fariha

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.