Refleksi Bulan Puasa, Perlu Keberanian untuk Memaafkan.


Deg-degan, tiba-tiba ada orang yang protes, mendominasi dan memaksa. Terpikir bahwa kapasitas dan kompetensi digugat, seolah tidak tahu apa-apa, mungkinkah telah melakukan suatu tindak kebodohan yang membuat orang lain patut mengoreksinya.

Faktanya, yang protes pun tidak tahu apa-apa mengenai persoalan yang di hadapi. Justru karena tidak tahu dan menjadi cenderung mempertanyakan, meskipun dengan cara yang kurang sopan.

Situasinya, tidak semua hal patut untuk dijelaskan dan diketahui semua orang. Ketika merasa sebal, nafas terasa lebih sesak dan jantung berdetak lebih cepat, diiringi pikiran yang negatif tentang si penuntut yang mungkin so toy atau belagu, bagiku tindakan itu tetaplah tidak sopan.

Ada pilihan sikap lain yang muncul dalam benak dewasaku, agar lebih damai dan produktif. Aku berpikir kemungkinan lain, seseorang ingin mendapatkan peran lebih besar, dan siap di beri tugas lebih banyak, maka Ia kepo dan terus bertanya?

Hemm… mungkin memberikan penghargaan dalam bentuk ucapan terima kasih sudah mengingatkan atau menuntut untuk melakukan sesuatu dengan standar lebih tinggi bisa meningkatkan kualitas dan kapasitasnya sebagai leader. Faktanya, tugasnya hanya level operasional yang justru tidak diperkenankan untuk membuat keputusan. Keputusan sudah dilakukan. Tetapi Leader yang baik pun harus belajar menjadi pengikut.

Bagaimana bila rasa sebal muncul sebagai akibat dari kekhawatiran akan penilaian terhadap kapasitas yang terbatas? Mungkin perlu berendah hati untuk menerima dan mengakui bahwa memang ada pihak lain siap memberikan dukungan perubahan yang lebih baik.

Memaafkan kekurangan diri dan merendah pada saran orang lain, dan tetap bersikap tenang dan bijaksana. Berpikir bahwa solusi ada di depan mata, tinggal kerjakan atau tindak lanjut dan delegasikan kembali kepadanya. Alih-alih menganggap ada pihak yang bermaksud mendominasi atau menggungat otoritas yang di miliki. Sesungguhnya semuanya hanya amanah sementara. Ada saatnya seseorang yang lain akan menggeser dan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk menjadi pemimpin.

Ya bisa saja. Kenapa tidak?

Aku bahkan tidak ingin terganggu sama sekali dengan kehadiran orang-orang yang memang terasa ‘kadang-kadang’ mengganggu, ku akui ada manusia penganggu, memicu emosi negatif dan suasana yang tidak nyaman. Walau bisa kuabaikan karena aku ingin memilih menikmati rasa damai dalam diri dan memaafkan tindakan mereka yang amit-amit itu.

Perlu keberanian untuk memaafkan orang yang menyebalkan tetapi dekat selalu. Tepatnya terpaksa dekat walaupun bisa saja tak perlu dekat dengannya. Aku bisa memilih untuk menentukan pola hubungan apapun dengan orang-orang macam ini.

Yang mereka tak tahu, aku selalu berdoa pada Tuhan, agar aku berada di sekeliling orang baik, dan aku yakin tak akan ada orang jahat pun yang dapat melaksanakan tindakan jahatnya padaku, tanpa Tuhan tahu, bahwa semua skenarionya di kehendaki Tuhan. Bila pun ada keburukan di sekelilingku.

Nyatanya seperti memilih menu makan siang di restoran Padang. Apakah aku akan melahap saja semuanya? Tentu saja tidak. Terserah pelayan yang mau bersusah payah menampilkannya di hadapanku, aku punya kehendak bebas menentukan. Akulah pemilik kemerdekaan dalam berpikir, berasa dan bertindak.

Ku maafkan orang jahat sekalipun, walaupun aku tentu tak sudi dijahati. Ku maafkan pengganggu seperti ulat yang membuatku selalu gatal. Mungkin mengingatkanku untuk selalu mandi, bersih-bersih pikiran agar tetap waras, logis dan rasional. Tak perlu sedu sedan untuk dia. Aku akan menangisi diriku sendiri yang mungkin masih banyak kurang di hadapan Tuhan, sehingga aku perlu selalu berterima kasih padaNya karena aku akan selalu punya kesempatan mengeluh dan berbincang denganNya dengan cara yang mesra. Sesungguhnya jeritan hati yang luka dapat menghadirkan ketundukan yang mendalam. Kini kutahu, kenapa Tuhan mempertemukan aku dengannya.

Kini aku merasa malu padaNya. Akan kulaporkan si pendzalim? Bukankah seseorang dapat pula melaporkanku padaNya sebagai si pendusta atau penipu atau apapun sejahatnya aku di hadapan manusia lain.

Maafkanlah aku wahai Rabb… aku hanya mampu bersimpuh di hadapanMu tanpa kata. Kau tahu apa yang tampak dan tersembunyi di dalam hati. Jangan Kau biarkan aku sendiri. Cukup ampunilah aku ini. Dan sayangilah aku…

Di penghujung malam Ramadhan ini, saat hanya ada aku dan Engkau. Ku ingin kemesraan ini tidak berakhir.

Maafkanlah aku, karena aku sungguh tak patut mengadukan ini pada-Mu.
…..

 

Bandung, 5 Mei 2019

Teman Pembelajar Tanpa akhir

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.