Psikodrama dalam Pelatihan Singkat Membangun Team Work dan Melatih Problem Solving di Tasikmalaya


Melakukan psikodrama dengan tim pegawai model inhouse training merupakan pengalaman baru bagiku. Beberapa hari aku merenungkan skenario apa yang harus kulakukan, berhubung kegiatan ini bukan karena keinginan peserta alias kewajiban pegawai mengikuti proses training, maka tujuan pun sudah ditentukan owner. Peranku sebagai trainer merenungkan apakah target dapat tercapai, dengan peluang apapun dapat terjadi selama proses psikodrama. Padahal kegiatan hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, hanya 5 jam saja.

Adapun Psikodrama ini diharapkan mampu membangun kesadaran terhadap situasi yang terjadi di perusahaan, melatih kepekaan terhadap masalah yang muncul, membangun team work dan melatih problem solving. Kira-kira itulah harapannya. Apakah hal ini dapat diperoleh dalam waktu singkat?

Kegiatan psikodrama di mulai dengan perkenalan. Perkenalan ala psikodrama dengan menunjukkan pose tertentu. Namun tantangan selanjutnya adalah sebelum berpose peserta harus mengulang pose kawan di sebelahnya mulai dari awal, sehingga peserta selanjutnya mengharuskan mengingat makin banyak pose., serta urutannya. Keriuhan mulai terasa sejak peserta menyadari bahwa mereka harus mencari ide pose yang berbeda dari yang lain, harus berkonsentrasi dan mengingat semua pose kawannya, sehingga kegiatan perkenalan diwarnai gelak tawa bahkan meningkatnya suhu tubuh. Satu kata “heboh”. Walau mereka sesungguhnya sudah saling mengenal, namun ternyata mereka sulit untuk melakukan mirroring dengan kawannya melakukan ekspresi dan bahasa nonverbal.

Dalam spektogram, peserta terpolarisasi pada skala keinginan untuk berubah dari posisi saat itu atau memilih ada di posisi tetap. Tampak 90 % memilih posisi tetap, merasa nyaman dan stabil adalah sifat kebanyakan orang. Katanya mereka merasa sudah nyaman dalam posisi tersebut. Menunjukkan tingkat stress kerja yang rendah. Hanya 1 orang yang merasa bingung, sering diminta melakukan macam-macam tugas. Ada keinginan untuk memiliki posisi yang tetap. Kembali sebuah kemapanan. Pegawai level operasional sesungguhnya memiliki kemampuan untuk melakukan tugas rutin, teratur dan stabil. Daya tahan, rasa aman dan posisi yang tetap adalah ciri khasnya. Hanya para supervisor yang merasa ingin berubah semata karena mereka merasa bersalah bila target tidak tercapai, merasa tidak sanggup bila harus menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan perusahaan. Ketakutan khas seorang leader.

Sosiometri selanjutnya Lokogram adalah memberikan tantangan pada peserta untuk merubah pendekatan yang selama ini mereka lakukan, ada yang merasa lelah harus selalu mempertimbangkan perasaan dan ingin hanya bertindak saja, walaupun salah tak apa-apa. Ada yang merasa perlu untuk mencoba dengan menguji pendekatan berpikir dan abaikan sementara rasa. Rasa seringkali membebani. Semua orang tampak makin antusias mencoba peran yang berbeda. Kadang perlu juga mempertimbangkan rasa dan pikir sekaligus, ada pula orang yang memilih perasaan atau pikiran sebelum bertindak. Semua orang memiliki cara dan diperbolehkan belajar dan mencoba.

Berpose sebagai pohon, tidaklah terlalu sulit, namun menamai pohon apakah yang mereka peragakan, sepertinya membutuhkan proses lebih lama. Tidak mudah untuk bersikap spontan. Walaupun terlihat sulit, kegiatan dipenuhi tawa dan saling menertawakan orang lain. Ada peserta yang sangat ingin mengatur pose dan pilihan orang lain. Perlu belajar berulang kali untuk menerima apapun pilihan orang lain dan bahwa setiap orang punya kesempatan. Aku mengingatkan bahwa semua orang boleh memilih dan menentukan sendiri tanpa harus mentertawakan ataupun mengatur orang lain.

Pada tahap action, dibutuhkan beberapa skenario untuk membangun empati peserta, bahwa mereka bagian dari suatu situasi yang saling berhubungan, terbiasa berkomunikasi melalui verbalisasi atau mungkin pola kerja yang cenderung mandiri pada masing-masing bidang membuat peserta kesulitan memahami peran apa yang perlu dimainkan dalam situasi yang tidak sepenuhnya mereka duga. Pada skenario di car free day, hampir semua orang adalah pengunjung. Pada pasar malam, hampir semua orang menjadi penjual. Tampak mereka begitu terbiasa bekerja secara mandiri dan “kurang peduli” pada orang lain di sekitarnya.

Pada upaya ketiga, semua peserta mampu mengambil bagian dari skenario yang diciptakan. Dan semua peserta antusias untuk memberikan semangat serta dukungan bagi peran-peran teman-temannya yang seringkali tak terduga namun ternyata bisa saling menyambung dan membentuk suatu situasi yang lebih utuh dan lengkap. Akhirnya mereka melihat bahwa apapun mereka, semua dibutuhkan.

Refleksi dari peran yang dimainkan masing-masing menggugah kesadaran semua peserta mengenai peran simbolik mereka. Semua peserta bercerita penuh emosi, menangis, curhat dan menyadari pesan yang begitu mendalam dari peran yang mereka pilih. Bahkan yang awalnya tidak menangis, menjadi terpicu suasana dan pada akhirnya semua orang bercerita tentang “diri” mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tentang harapan, ketakutan, cita-cita, kemarahan, kekesalan, tentang duka, rasa syukur dan juga kerapuhan diri.

Pada istirahat siang, semua orang tampak begitu lelah sehingga aku memberi waktu beristirahat tidur siang selama setengah jam. Tidur tergeletak di lantai ruang pelatihan beralaskan karpet. Kegiatan break biasanya di isi minum teh dan bergosip. Meskipun tidak ada kegiatan presentasi dan quis. Psikodrama telah menguras energi yang begitu besar.

Pada sesi ke dua, aku membuat skenario drama tentang suatu situasi kerja yang ditampilkan oleh setengah grup dan drama lain oleh grup lainnya. Ketika setengah grup bermain drama, setengah grup lain berbagi peran sebagai pengamat, director dan para supporter yang mendukung pemeran protagonis untuk melakukan adegan. Ini sepenuhnya ideku saja mencoba cara berpsikodrama secara bergiliran. Proses drama menjadi ajang katarsis mereka terhadap tekanan kerja yang dihadapi, tetapi juga ada pemikiran tentang situasi yang lebih akurat serta problem solving terhadap masalah yang dihadapi. Proses Refleksi memunculkan kesadaran baru terhadap masalah, cara pandang yang berbeda dan gagasan muncul begitu spontan, sehingga emosi yang negatif pun dapat berubah menjadi lebih positif.

Aku tahu bahwa psikodrama mampu membangun kesadaran diri yang mendalam, namun tak menyangka bahwa hal ini tampak begitu serempak dan dapat dikatakan menular sehingga peserta saling dukung , lebih spontan untuk saling membuka diri dan pada akhir acara merasa bersyukur telah menemukan sebuah “keluarga yang saling mendukung”.

Acara diakhiri dengan pelukan teletabis, doa. Tidak lupa photo2 pada setiap adegan. Haru, Seru!

Bandung, 7 Mei 2019

Iip Fariha

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.