15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno


Moreno Academy, Beacon, N.Y.

Pertumbuhan permintaan akan pekerja berketrampilan psikodrama telah membuat kita memperhatikan kebutuhan untuk menstruktur suatu pernyataan komprehensif dari aturan-aturan fundamental[1] dalam praktik metode ini, dan survei dan penjelasan singkat mengenai berbagai versi intervensi psikodramatis. Survei-survei lain metode ini telah menjelaskan beberapa darinya,[2] tapi penting untuk memiliki sejumlah aturan dasar untuk menjadi panduan bagi praktisi.

ATURAN

I

“Subyek (pasien, klien, protagonis) memeragakan konfliknya, bukannya berbicara mengenainya.”

Untuk tujuan ini, suatu alat khusus atau panggung psikodrama dapat digunakan, walaupun prosesnya mungkin harus dilakukan di kamar atau ruang informal apapun ketika sarana khusus tersebut tidak tersedia. Idealnya, sarana khusus menghasilkan keterlibatan yang lebih intens. Proses ini juga memerlukan seorang sutradara (atau terapis utama), setidaknya satu ego pembantu terlatih (walaupun sutradara mungkin terpaksa juga bekerja sebagai ego pembantu ketika tidak ada orang yang tersedia). Pembelajaran maksimal dapat tercapai ketika asisten-terapis-aktor tersebut digunakan.

Harus diingat bahwa psikodrama dapat diterapkan sebagai suatu metode perawatan individual—seorang pasien dengan satu sutradara dan ego pembantu, atau seorang pasien dan sutradara. Jika ini diterapkan sebagai suatu metode perawatan kelompok, pasien-pasien lain dalam kelompok dapat menjadi ego pembantu untuk satu sama lain. Dalam cara ini, bahkan sesi yang berpusat pada individual melibatkan anggota-anggota lain dari kelompok yang kemudian mendapatkan manfaat terapeutik dari fungsi ego pembantu ini. Ini semakin mengintensifkan pembelajaran semua orang yang ada.

II

“Subyek atau pasien memperagakan ‘disini dan pada saat ini,’ tanpa memandang kapan kejadian yang sebenarnya terjadi atau mungkin terjadi, masa lalu, masa kini atau masa depan, atau kapan kejadian yang dibayangkan dilamunkan, dan kapan situasi penting di mana pemeragaan ini muncul sebenarnya terjadi.”

Ini juga berlaku untuk situasi yang belum dan mungkin tidak pernah terjadi. Salah satu pengalaman menarik dalam psikodrama adalah yang tidak memberi dampak itu, lemah, tidak lengkap dan terdistorsi di mana pengingatan dan pemeragaan dihasilkan. Ini telah diverifikasi secara eksperimenal dengan pemeragaan adegan yang terjadi hanya lima menit sebelumnya dengan menggunakan orang identik yang terlibat dalam adegan yang sebenarnya. Pengingatan verbal dan tindakan, juga persepsi interpersonal tidak mungkin diproduksi ulang, walaupun semua pasangan yang sebenarnya berusaha secara sistematis dan jujur untuk menangkap kembali “apa yang benar-benar terjadi.”

Subyek berbicara dan bertindak “saat ini,” dan bukan masa lalu, karena masa lalu berhubungan dengan ingatan dan membicarakan waktu lampau mengeluarkan subyek dari kesegeraan pengalaman, membuatnya menjadi seorang penonton atau pencerita bukannya seorang aktor.

Ketidakmampuan untuk mengingat kembali secara sempurna mengindikasikan bahwa pengingatan kembali secara praktis tidak mungkin, pengingatan kembali mutlak adalah tidak ada dan reproduksi tepat adalah ideal yang tidak bisa dicapai. Lebih lanjut, spontanitas dan “kesekarangan” dikendalikan untuk mengoreksi reproduksi dan karena itu menjadi menghilang. Untuk melepaskan spontanitas dan meningkatkan kesekarangan disini dan saat ini, protagonis secara spesifik diinstruksikan untuk membuat waktu menjadi pembantunya, bukan majikannya, untuk “bertindak seakan ini terjadi pada Anda saat ini, sehingga Anda dapat merasakan, mempersepsikan dan bertindak seakan ini terjadi pada Anda untuk pertama kalinya.”

III

“Subyek harus memeragakan ‘kebenarannya,’ seperti yang dirasakan dan dipersepsikannya, dalam cara yang sepenuhnya subyektif (tidak peduli bagaimana penonton memandang ini terdistorsi).”

Proses pemanasan tidak dapat berlaku dengan tepat kecuali kita menerima pasien dengan semua subyektivitasnya. Pemeragaan adalah yang pertama, pelatihan ulang dilakukan selanjutnya. Kita harus memberinya kepuasan penyelesaian adegan terlebih dahulu, sebelum mempertimbangkan latihan ulang untuk perubahan perilaku.

IV

“Pasien didorong untuk memaksimalkan semua ekspresi, tindakan, dan komunikasi verbal, bukannya menguranginya.”

Untuk tujuan ini, delusi, halusinasi, percakapan seorang diri, pikiran, fantasi, proyeksi, semuanya diperbolehkan menjadi bagian dari produksi. Sekali lagi, ekspresi harus mendahului batasan, walaupun batasan tidak boleh dilewatkan. Namun, tanpa mendapatkan ekspresi keseluruhan, batasan hanya dapat bersifat sebagian.

V

“Proses pemanasan dimulai dari bagian luar ke tengah.”

Karena itu, sutradara tidak akan memulai dengan kejadian paling traumatis dalam kehidupan pasien. Ini diawali pada tingkat yang lebih dangkal, memungkinkan keterlibatan diri pasien untuk membawanya lebih dalam menuju intinya. Ketrampilan sutradara akan ditunjukkan dalam konstruksi adegan dan pilihan orang atau obyek yang diperlukan untuk membantu pasien dalam pemanasannya.

VI

“Kapan pun dimungkinkan, protagonis akan memilih waktu, tempat, adegan, ego pembantu yang diperlukannya dalam produksi psikodramanya.”

Sutradara menjadi penulis sandiwara dalam membantu sang protagonis. Sutradara dan protagonis adalah mitra; pada suatu waktu sang sutradara mungkin lebih aktif, tapi sang protagonis selalu berhak untuk menolak memeragakan atau untuk mengubah suatu adegan. Lebih lanjut, ketika interaksi antara pasien dan sutradara menjadi negatif, pasien menolak sutradara juga proses, sutradara dapat:
(1) meminta pasien untuk memilih sutradara lain—jika ada lebih dari satu; atau
(2) meminta pasien untuk duduk dan menonton produksi cerminan mengenai dirinya yang diperankan oleh ego pembantu; atau
(3) menyerahkan pengarahan pada pasien sendiri, yang kemudian dapat melibatkan orang lain dalam kelompok sebagai ego pembantu; atau
(4) meminta pasien untuk memilih adegan lain; atau
(5) menjelaskan pada pasien kenapa dia memilih suatu adegan tertentu dan, walaupun adegan itu tidak dilakukan sekarang, pasien harus memahami alasannya membuat pilihan itu; atau
(6) kembali ke peragaan itu nantinya jika dia terus percaya bahwa pasien memerlukan hal ini; atau
(7) memaksakan memperagakannya jika dia percaya manfaat yang akan didapatkan pasien lebih besar daripada penolakannya.

VII

“Psikodrama merupakan metode pengendalian, dalam hal ini adalah metode  mengendalikan ekspresi.”

Sifat represif budaya kita telah menempelkan suatu nilai pada “ekspresi” yang sering di luar imbalan aktualnya. Dalam metode seperti pertukaran peran, atau pemeragaan peran yang memerlukan pengendalian, pelatihan ulang dan/atau pengkondisian ulang kemampuan yang dapat dikembangkan, terdapat penerapan psikodrama yang sangat diremehkan dan diabaikan.

Disini dipikirkan mengenai aktor yang buruk-parah dalam kehidupannya, anak nakal atau psikopat, yang kemampuan mengendalikan dirinya belum diperkuat oleh pemanasan (terlatih/ditempa) tekanan kehidupan.

VIII

“Pasien diizinan untuk menjadi tidak spontan atau tidak ekspresif pada saat ini.”

Ini mungkin tampaknya merupakan kontradiksi Aturan Keempat di atas, tapi ini tidak benar. Karena itu “memaksimalkan ekspresi” juga dapat mengacu pada ketidakmampuan pasien untuk mengekspresikan, penarikan dirinya, kemarahan yang dipendamnya, dll. Pertama kita harus menerima ketidakmampuan ini, dan membantunya menerima dirinya sendiri; secara bertahap kita berusaha melepaskannya dari belenggunya sendiri dengan berbagai metode seperti berbisik (asides) atau berbicara pada diri sendiri (soliloquies), penggunaan pengganti (double), dll.

Fakta bahwa pasien tidak spontan tidak menghalangi produksi psikodrama. Ini adalah alasan adanya ego pembantu yang dilatih untuk mendukung, membantu dan memperkuat pasien. Karena itu, mereka juga telah mengembangkan teknik seperti bicara pada diri sendiri, pengganti, cermin, pertukaran peran, dll. Orang yang tidak dapat bersifat spontan sebagai dirinya snediri, dalam perannya, dapat menjadi sangat spontan dalam pertukaran peran sebagai istri, ayah, bayi, anjing peliharaannya, dll. Ekspresivitasnya akan tumbuh ketika spontanitasnya meningkat. Ekspresivitas setiap saat tidak selalu merupakan spontanitas. Ini mungkin menyembunyikan perasaan sebenarnya, seperti contohnya, dengan menghasilkan aliran kata-kata dan tindakan terus menerus. Seorang pasien mungkin sepenuhnya spontan, contohnya, ketika duduk diam di kursi,  atau mengamati orang lain di sekitarnya.

IX

“Interpretasi dan pemberian wawasan dalam psikodrama bersifat berbeda dari tipe psikoterapi verbal.”

Dalam psikodrama, kita membicarakan mengenai wawasan tindakan, pembelajaran tindakan, atau katarsis tindakan. Ini adalah suatu proses integratif yang dihasilkan oleh sintesis berbagai teknik pada puncak pemanasan protagonis. Psikodrama sebenarnya adalah metode yang paling interpretatif, tapi sutradara bertindak sesuai interpretasinya dalam konstruksi adegan. Interpretasi verbal mungkin penting, atau sepenuhnya dihilangkan sesuai kebijaksanaan sutradara. Karena interpretasinya ada dalam tindakan, jika berulang menjadi mubazir.

X

“Bahkan ketika diberikan interpretasi, tindakan adalah yang utama. Tidak bisa ada interpretasi tanpa tindakan sebelumnya.”

Interpretasi boleh jadi dipertanyakan, ditolak atau sepenuhnya tidak efektif. Tindakan membuktikan dirinya sendiri. Lebih lanjut, interpretasi diwarnai oleh orientasi oleh terapis individual. Karena itu, seorang pengikut Freud akan menginterpretasi dari suatu kerangka yang berbeda dari pengikut Adler, Jung, Horney, dll. Tapi ini sama sekali tidak mengubah nilai produksi itu sendiri. Ini hanya memberikan nilai penting yang lebih kecil pada interpretasi. Memang, kadang-kadang interpretasi dapat merusak bukannya membangun; mungkin apa yang diperlukan pasien bukan analisis, tapi identifikasi emosional.

XI

“Pemanasan untuk psikodrama dapat dilakukan dengan berbeda pada setiap budaya dan perubahan yang tepat dalam penerapan metode ini harus dilakukan.”

Mungkin tidak mungkin untuk memulai psikodrama di Kongo dengan pertukaran verbal; mungkin perlu untuk memulai dengan menyanyi dan menari. Apa yang mungkin merupakan pemanasan yang baik di Manhattan mungkin tidak sesuai di Tokyo. Adaptasi budaya harus dilakukan. Yang penting bukan bagaimana cara memulainya tapi apa yang kita mulai.

XII

“Sesi psikodrama terdiri atas tiga bagian: pemanasan (warming up), bagian tindakan (action), dan berbagi (sharing/reflektion) pasca-tindakan dengan kelompok.”

Gangguan pada salah satu bidang ini mempengaruhi proses total. Namun, “berbagi” kadang mungkin bersifat nonverbal, kesunyian yang dipenuhi emosi sering merupakan cara yang paling cocok untuk berbagi dengan seorang protagonis, atau minum kopi bersama, atau membuat rencana untuk bertemu lagi, atau yang lainnya.

XIII

“Protagonis tidak boleh memiliki kesan bahwa dia sendirian dengan jenis masalah ini dalam kelompok ini.”

Sutradara harus menarik identifikasi dengan subyek dari kelompok pada fase diskusi pasca-tindakan. Ini akan menetapkan dasar dalam kelompok untuk hubungan yang saling memuaskan antara anggota kelompok, meningkatkan kohesi dan memperluas persepsi interpersonal.

Ketika tidak ada seorangpun di penonton yang secara terbuka mengidentifikasi dengan subyek, protagonis merasa ditelanjangi, dirampok dari bagian paling suci dari dirinya, psikis pribadinya. Maka tugas sutradara adalah mengungkapkan dirinya sebagai orang yang tidak hanya bersimpati dengan protagonis, tapi merasa atau pernah merasa terbebani sepertinya. Yang diindikasikan disini bukan analisis, tapi kasih dan berbagi diri. Satu-satunya cara membayar kembali orang yang memberikan dirinya adalah melakukan hal ini. Ini sering akan menghangatkan orang-orang lain di posisi penonton untuk juga maju, sehingga melibatkan penonton dalam suatu pemanasan murni yang sekali lagi mencakup protagonis, dan membantu menetapkan penutupannya.

XIV

“Protagonis harus belajar untuk mengambil peran semua orang yang memiliki hubungan bermakna dengan dirinya, mengalami orang-orang lain dalam atom sosialnya, hubungan mereka baginya dan bagi satu sama lain.”

Melangkah lebih jauh, dalam psikodrama pasien harus belajar untuk “menjadi” apa yang dia lihat, dia rasakan, dia dengar, dia cium, dia impikan, dia cintai, dia benci, dia takuti, dia tolak, menolaknya, disukainya, menginginkannya, ingin dia hindari, ingin ditirunya, takut untuk ditirunya, takut untuk tidak ditirunya, dll.

Pasien telah dengan berbagai tingkat kesuksesan “mengambil ke dalam dirinya” orang-orang, situasi-situasi, pengalaman-pengalaman dan persepsi-persepsi yang membuatnya menderita saat ini. Untuk mengatasi distorsi dan manifestasi ketidakseimbangan, dia harus mengintegrasikan ulang mereka pada suatu tingkat baru. Pertukaran peran adalah salah satu metode yang unggul untuk melakukan hal ini, sehingga dia dapat mengintegrasikan ulang, mencerna kembali dan tumbuh melebihi pengalaman-pengalaman yang memiliki dampak negatif, membebaskan dirinya dan menjadi lebih spontan dalam hal positif.

XV

“Sutradara harus mempercayai metode psikodrama sebagai penengah dan pemandu terakhir dalam proses terapeutik.”

Aturan ini bersifat sangat universal sehingga ini dikonfirmasi banyak sutradara-terapis psikodramatis. Ketika pemanasan direktur bersifat objektif, spontanitas kehadirannya dan ketersediaannya untuk kebutuhan pasien dan kelompok, atau dapat dikatakan ketika tidak ada kegelisahan dalam kinerja, maka metode psikodramatis menjadi media fleksibel yang mencakup semua orang yang secara sistematis menuntun ke inti penderitaan pasien, memungkinkan sutradara, protagonis, ego pembantu dan anggota-anggota kelompok untuk menjadi suatu kekuatan yang kohesif, menyatu ke dalam pemaksimalan pembelajaran emosional.

 

Terjemahan bebas dari :

Psychodramatic Rules, Techniques and Adjunctive Methods  by Zerka T Moreno,
Beacon House, Inc., Horsham Foundation, Ambler, Pa., 1982
Psychodrama and Group Psychotherapy Monograps, No. 41

 

[1] Lihat J.K. Moreno, Bab mengenai Psikodrama, American Handbook of Psychiatry, Basic Books, New York, 1959.
[2] Zerka T. Moreno, Suatu Survei Mengenai Teknik Psikodramatis, Group Psychotherapy, Vol. XII, 1959.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.