Boke Saat Mau Menikah, Cerita Motivasi bagi Pasangan Dewasa yang akan Menikah


Mendampingi adik-adik SPN yang mau menikah, membuatku harus flashback. Ini adalah cerita sebelum galau beneran datang. Semoga menghibur.

“Uang itu mengalir seperti air,” kata suamiku.
Dulu aku mahasiswa yang selalu merasa galau saat boke, namun berusaha memasrahkan diri dengan apa yang ada. Apa boleh buat, Aku tak pernah berani minta uang saku pada orang tua. Aku sangat tahu diri bahwa mereka sedang menghadapi biaya adik-adikku yang perlu susu, popok dan perangkat wajib lain yang tak bisa di tunda. Aku sungguh bersyukur dengan kesulitanku di masa lalu. Dan bersyukur saat aku akan menikah adalah saat paling boke diriku. Lulus belum, uang saku tak ada lagi, beasiswa sudah akan di stop. Pada saat seperti itu mungkin orang akan berpikir bahwa, “ Ah bentar lagi kan ada suami”.

Aku terbiasa membalik keadaan agak ekstrim akibat pengalaman boke. Ku katakan pada diriku, Aku tahu rizkiku, hidupku dari Allah bukan dari siapa-siapa. Bukan dari orang tua, bukan dari suami, bukan dari manusia. Aku hanya makhluk yang sepenuhnya hidup dari yang Maha Hidup. Sepertinya keren pemikiran seperti itu. Tapi itu suatu keadaan penuh perjuangan, tak pernah demikian konsisten. Karena itu saat boke adalah saat paling indah, karena prinsip hidup itu akan kembali menguat. Dan seperti air itulah gaya hidup kami kemudian dalam bimbingan suami.

Menikah perlu uang, tentu saja . Apakah pantas galau?, sangat. Tapi untuk kasus ini aku punya pengalaman berharga. Bayangan orang tentang menikah yang sempurna, berkesan, bertabur kenang-kenangan pastinya akan membawa nilai budget tak sedikit. Karena boke, impianku itu tak pernah ku hitung, seperti biasa ku balik keadaannya. Aku tak mengharapkan apapun, nyaris seperti gadis pungut yang apapun ku terima. Tapi di balik itu, aku sadar dengan tujuanku. Jikapun aku punya uang tentu akan kupakai untuk masa pasca menikah, bukan untuk satu hari H yang kurang dari 24 jam itu. Ah sayang sekali.

H-1 itu aku cek rekeningku satu-satunya, hanya ada uang 10 ribu rupiah, itu adalah uang minimal saldo agar rekening tidak di blokir. Boke itu indah kawan! Bila keyakinan pada Tuhan perlu diciptakan dengan boke dulu, maka hidup ini menjadi indah pada waktunya.

Maka jadilah pernikahanku bermodalkan kepercayaan seorang kawan orang tua yang mengurus segala sesuatunya. Kostum, dekor, upacara sederhana, dll. di bayar lunas dan persis sebanyak uang yang masuk ke kotak tanda kasih pengantin. Memang hanya itu yang kami butuhkan. H+1, Aku dan sekarang malah berdua, merupakan orang paling boke hari itu. Tapi kami tersenyum saling tatap, berpegangan tangan dan berjalan di trotoar jalanan kota, cara kami merayakan hari penting kami. Dengan rasa diri paling kaya sedunia, karena kami saling berjanji untuk menjaga.

 

Bandung, akhir Mei 2019

Iip Fariha

#catatan: hati-hati meniru efeknya bisa berbeda 🙏😇

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.