Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?


Era saat ini sudah tidak tepat untuk berkompetisi, Era sekarang saatnya berkolaborasi, kerjasama dan bersinergi. Sistem Ranking memacu tiap siswa berkompetisi untuk menjadi juara dengan mengalahkan siswa lain.

Sudah banyak kejadian bahwa yang dulu pernah ranking satu setelah dewasa dan menjalani kehidupan nyata, prestasinya tidak dapat dibedakan dengan yang tidak menduduki ranking.

Karir profesional lebih banyak ditentukan olah kemampuan mengendalikan emosi dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain, atau dengan kata lain lebih ditentukan oleh karakter. Dan kebahagiaan lebih banyak ditentukan dengan memiliki makna hidup, bermakna bagi orang lain dan kehidupan.

Aku tidak bermaksud merendahkan kemampuan berpikir dan logika, atau pun kepemilikkan pengetahuan dan wawasan. Kesemuanya itu juga penting, yang ingin kuajak adalah kemampuan itu tidak diperbandingkan dalam sistem ranking, melainkan dipakai untuk lebih mengenali kelebihan diri dan kelebihan orang lain. Selanjutnya dikembangkan sesuai dengan minat dan bakat masing masing.

Pengenalan kelebihan diri dan kelebihan orang lain dijadikan dasar untuk berkolaborasi dan bersinergi. Tiap pribadi memiliki kelebihan yang berbeda satu sama lain, kelebihan diri dapat untuk membantu kekurangan orang lain, dan kelebihan orang lain dapat membantu kekurangan diri. DIsini dibutuhkan kerelaan berbagi dan kesediaan membuka diri. Sikap-sikap yang beresiko dalam dunia persaingan. Persaingan adalah dasar dari sistem ranking. Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem Ranking di sekolah tidak mendukung dalam membangun kemampuan berkolaborasi.

Lalu bagaimana jalan tengahnya?

Siswa-siswi diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas bersama agar tercipta kerjasama, contohnya Pentas Seni, Pekan Olah Raga persahabatan antar kelas, Camping, Pendakian Gunung massal, dll. yang kesemuanya dilakukan oleh Siswa-siswi sendiri. Para guru dan orang tua mengawasi dan menjaga keamanan dan keselamatan mereka saja.

Kesemua aktivitas tersebut tidak hanya melatih kemampuan berpikir, namun juga melatih merasa, melatih fisik dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di sekolah (kelas). Mereka dapat memberikan kontribusi dan menemukan arti (makna) dari tindakannya. Makna yang didapatkan ketika mereka berhubungan dengan orang lain, membantu orang lain, bersentuhan langsung dengan alam, merasakan bersahabat dengan alam dan lebih mengenal dirinya sendiri.

Pengalaman yang didapatkan tersebut akan membangun rasa percaya diri, serta membentuk karakter yang mandiri. Mereka akan mengenal dirinya, mengenal orang lain, mengenal alam lingkungan yang dapat dijadikan dasar untuk berkolaborasi dan bersinergi.

Jadi tidak perlu menjadi Ranking I untuk menjadi istimewa dan bahagia. Cukup mengenali diri, orang lain dan lingkungan dengan keanekaragamannya, serta mengembangkan diri agar lebih mampu berkontribusi.

 

Yogyakarta, 12 Juni 2019

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

6 tanggapan untuk “Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?”

  1. Rangking 1 mmg bukan jaminan kesuksesan dan kebahagiaan. Kesuksesan itu bgmn anak mampu mengatasi hambatan. Banyak anak cerdas krn merasa mudah men jadi cenderung malas atau krg puas dg hasil yg di peroleh shg tetap tak bahagia.

    Bahagia itu bgmn bersyukur dg hasil perjuangan, menerima dan menghargai.
    Mencapai rangking satu perlu berjuang juga. Tetapi rangking satu juga tdk hrs nilai akademik. Rangking satu dlm hal kebersihan,kesopanan, paling semangat dan teguh pendirian mgn lebih mendukung sikap mental yg positif.
    Sebab jika ukuran nilai hanya psda angka akademik, maka suatu hari akan selalu bertemu dg org yg nilainya pasti lbh tinggi. Bila demikian tak heran ada kasus beli nilai, menyontek,mencari bocoran soal,berbuat curang,dll demi rangking satu.

    Maka bila bahagia ukurannya angka, angka sangatlah relatif dan beresiko.

    Bila anak bahagia ketika proses belajar nya. Maka walaupun nilainya tdk mencapai tertinggi di kelas, org lain dpt tetap menghargai krn kerja kerasnya. Anak akan lbh bahagia krn itu hsl perjuangan nya.

    Suka

  2. terima kasih ini sangat berguna sekali.
    kebetulan saya tdk pernah bertanya ttg rangking anak saya kepada gurunya. karena menurut saya, yang penting saya telah berusaha mengajarkan anak saya melalui guru les atau pun saya sendiri.
    Seandainya sistem rangking dihapus saya akan sangat senang sekali.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.