Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi


Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan yang mengolah pikiran, sesuatu yang penting dalam membangun bekal untuk menjalani kehidupan. Telah banyak contoh penemuan hebat dari hasil mengolah pikiran ini. Teknologi Informasi, 4.0, Hape, internet, AI, adalah capaian capaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Sekarang saatnya  mengolah Rasa juga. Bagaimana pun adanya Rasa, pastilah memiliki guna. Puncak dari kemampuan merasa adalah Empati, dan lembah dari kemampuan merasa adalah Baper terlalu Sensi. Masyarakat umum lebih sering menghindari rasa ini, karena fokus pada kondisi yang di Lembah (Baper terlalu sensi), bahkan mengusahakan jika mungkin untuk tidak berurusan dengan Rasa. Sebuah konsekuensi dari terlalu fokus mengolah pikiran sehingga mengabaikan berkah Rasa ini. Rasa juga merupakan anugerah yang perlu diolah agar mampu berfaedah.

Bagaimana mengolahnya?

  1. Mulai dari menyadari bahwa rasa itu ada dalam diri.

Rasakan apa yang telah terjadi, dari mana rasa itu muncul, stimulus apa yang memicunya.

Bangkitkan Memori Emosi, kapan pertama kali merasa seperti ini, peristiwa apa pemicunya.

Bagaimana itu terjadi dari peristiwa itu, memicu emosi ini.

Pahami konteksnya waktu itu usia berapa, kemampuan yang masih terbatas, pilihan respon juga terbatas.

Bandingkan dengan diri sekarang, haruskah memilih respon emosi seperti ini (seperti waktu kecil dulu)? atau aku punya pilihan respon lain.

Kalaupun respon emosi tetap sama, aku masih punya kemampuan untuk mengekspresikan dengan cara yang dewasa.

2. Menyadari bahwa Rasa juga dimiliki oleh orang lain. (lihat Mengembangkan Kesadaran Diri)

Kesadaran bahwa ada rasa juga diorang orang lain, menjadi dasar pilihan ekspresi apa yang ingin kita lakukan (aktingkan), tetap dengan jujur pada perasaan diri.

Respon emosi apa yang aku harapkan dari orang lain itu, apakah akan membawa kebaikan bagi diriku, bagi dirinya, dan bagi semua.

Bagaimana jika aku berada pada posisi orang lain itu, dan respon apa yang akan kulakukan (mempraktekkan empati). Dalam setting Workshop Psikodrama dapat dilakukan dengan teknik Role Reversal (pertukaran peran)

3. Membangun Suasana yang tercipta dari pertemuan Rasa itu

Perasaan yang diekspresikan menjadi stimulus bagi orang lain, dan mempengaruhi rasa orang lain itu. Orang lain akan mengekspresikan Perasaan itu dan terjadi hubungan timbal balik. Dari aksi – reaksi ini muncul Suasana,….Nah Sadari Suasana ini, apakah memberi dampak yang baik, untuk diri sendiri, orang lain itu, dan orang orang yang ada di sekitar yang terpapar oleh suasananya. Dalam Pentas Drama atau Teater, dialog yang terjadi di panggung memberikan dampak ke Penonton, kesadaran akan hal ini menjadi dasar kemampupuan kita dalam membangun suasana, atau dampak ke khalayak.

Dari paparan di atas dapat diliat poin intinya bahwa Sensi dan Baper menjadi modal awal untuk membangun empati dan meningkatkan kecerdasan emosi.

Semoga bermanfaat.

 

Yogyakarta, 13 Juni 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi”

  1. Asosiasi dari empati memang sering dikaitkan dengan ketidakmampuan menahan diri.. baperan. Tanpa sadar, kadar empati menipis dari hari ke hari. Tulisan ini mengingatkan saya untuk bersyukur atas kebaperanku. Terima kasih ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Mina Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.