Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo


Sungguh hal yang awalnya tidak bisa saya terima bahwa saya adalah orang yang terlalu logis dan kurang bisa memahami orang lain. Ya meskipun itu sudah sangat sering saya dengar dari berbagai orang. Sejujurnya, dahulu saya berpikir bahwa itu adalah pujian, namun lambat laun justru saya pikir itu adalah judgement yang orang lain berikan pada saya yang sebenarnya memiliki arti “Kamu tuh ga pake perasaan ya cik?! Gampang banget ngomong gituan”.

Disini, saat sebuah sesi, judgemet itu diungkap, dan dalam sebuah forum besar dimana sejujurnya ada orang yang saya takuti akan merubah cara pandangnya terhadap saya ketika dia mengetahui bahwa saya adalah orang dengan tingkat berpikir logis yang mungkin keterlaluan. Karena dengan orang tersebutlah saya berusaha untuk menggunakan perasaan saya sebanyak mungkin – ya meski saya juga tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang saya.

Satu kali, berusaha saya terima dengan logika “oh, okey berarti saya memang begitu, mari buktikan bahwa kamu bisa tidak begitu” setidaknya kalimat itu yang terlintas dalam pikiran saya.

Baik, mari coba di sesi berikutnya. Dan hasilnya? Waw, sama saja. Ya saya masih t-e-r-l-a-l-u-l-o-g-i-s-! Pada kesempatan itu, hati saya yang tergetar, melakukan penolakan yang jauh lebih besar “demi apa aku ga punya perasaan? Sungguh se-robot itu kah aku?” ya kira-kira itu yang saya pikirkan. Lalu terlintas wajah orang yang dengannya saya merasa saya lebih berusaha berperasaan, lalu yang terjadi adalah HEI, dia mengangguk, dia mengiyakan, dia menyepakati bahwa saya adalah orang yang TERLALU LOGIS.

Selanjutnya saya sama sekali tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang saya alami. Tetapi, saya berusaha terlihat baik saja dengan mencoba menjadi “perasa” dengan bantuan arahan dari seorang bapak – orang yang mengatakan dengan lugas bahwa saya terlalu logis. Ya, di titik itu saya berhasil. Tapi dibalik itu, yang saya lakukan adalah menangis, meratapi diri saya mengapa untuk menjadi perasa saja saya butuh instruksi yang terlalu detail. Lalu, apakah selama ini orang di sekitar saya juga berpikir bahwa saya terlalu logis. Yang muncul adalah, “pantas saja, saya tidak terlalu memiliki teman yang cukup dekat dan akrab secara emosional, pasti mereka tidak merasa bahwa saya mengerti mereka” lalu menerka apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang mendengar dan melihat kejadian tadi.

Perjalanan di sesi berikutnya, saya lalui dengan nyaman dan enjoy karena tidak menyinggung diri saya sama sekali, saya hanya melihat sudut pandang orang lain terhadap diri mereka dan fenomena-fenomena yang terjadi didalamnya sambil sesekali membayangkan apa yang akan saya lakukan dan katakan ketika berada di posisi orang tersebut.

Ya berfokus pada saya, lagi dan lagi. Saya jadi ingat bahwa ada seseorang yang pernah mengatakan pada teman saya bahwa ia tidak terlalu suka bercerita pada saya karena saya terlalu dominan, saya lebih sering mendominasi percakapan dan cerita, sehingga dia merasa bahwa ceritanya tidak ada apa-apanya dibanding saya.

Yap sejak itu tentunya saya berusaha untuk mengurangi – entah jelek atau tidak, ya mengurangi percakapan saya dengan dia, saya tetap menyapa dan layaknya biasanya, namun saya tidak menceritakan apapun lagi padanya. Dan ternyata dia juga tidak bertanya. Ya saya yang sering bertanya apa yang terjadi padanya di hari ini, dan sebagainya. Ya sekali, dua kali, tiga kali akhirnya dia bercerita. Tapi saya yang semakin lama tidak kuasa menahan beban sendirian, ego saya untuk meluapkan cerita saya, saya tekan hingga akhirnya saya memikirkan terlalu banyak hal dan dampaknya saya terlalu sensitive dalam berbagai situasi. Ya saya tak kehabisan akal, saya cobalah dengan terapi menulis, meluapkan apa yang saya rasa dalam kertas atau catatan di telepon genggam. Cukup membantu awalnya, memberi efek lega, tapi terkadang justru ini yang menjadi penguat diri saya sendiri bahwa saya tidak memiliki teman.

Singkat cerita, sesi hari itu usai, dan saya kembali ke kos kemudian menceritakan pada teman saya tentang apa yang tadi saya lalui dan alami setelah ia menanyakan, Entah bagaimana prosesnya, teman saya menangis, dan saya hanya “lah, kok kamu ikut nangis? Kenapa?” dijawab “gapapa, sedih aja dengernya”. Yang saya pikirkan adalah “oh ya sudah, mungkin dia tidak ingin digali, toh saya juga belum siap menenangkan” Lalu saya terlelap dan bangun dalam keadaan cukup baik.

Hari berikutnya tiba, dan saya bercerita mengenai apa yang terjadi sepulang saya hari lalu kepada seorang bapak yang sama dengan hari sebelumnya. Hal yang sungguh mengejutkan dan tak terpikirkan oleh saya adalah kata “terus kamu ga nangis? Teganya”. Padahal yang saya pikirkan hanya sekedar bercerita dan itu adalah pengalaman yang saya kira baik, berarti saya dapat membawa suasana dalam sebuah kalimat sehingga teman saya menangis.

Tapi, ya, itu yang saya dapat. Kembali disuguhkan kepada saya kenyataan bahwa saya adalah manusia logis yang minim kesensitifannya pada emosional seseorang. Penolakan yang terjadi dalam diri saya sudah tidak sebesar hari sebelumnya berkat penjelasan bahwa itu bukanlah hal yang buruk, itu adalah modal untuk menjadi orang yang lebih baik dan dapat menyelamatkan orang lain yang terhanyut dalam arus deras emosinya.

Tapi, apabila saya jujur pada diri saya, saya ingin bilang bahwa, “pak, saya juga sensitive lho pak, Cuma diginiin aja saya udah mau nangis, kan kata bapak harus latihan emosi, pakai nangis boleh, saya juga mudah dan cukup sering menangis, tapi kenapa saya masih logis”. Ya, kalimat itu kemudian saya simpan dan saya jadikan hal yang terkenang dalam diri saya saja – itu yang saya pikirkan

Berlanjut melangkah ke sesi berikutnya, saya sedikit mampu membuktikan diri kepada diri sendiri bahwa saya mampu berempati dengan membayangkan kehidupan masa depan orang lain hingga membuatnya mampu terbayang dan mengaku cukup terbantu dengan apa yang saya lakukan.

Hingga akhirnya, saya kembali diingatkan mengenai kelogikaan saya. Meskipun dikatakan sebagai hal yang baik dan modal, ada sebagian diri saya tidak menerima hal tersebut. Merasa bahwa itu adalah ‘kata hiburan’ semata agar saya mampu positif. Merasa bahwa ya memang itu benar, lalu ya sudah biarkan saja begitu, toh nyatanya saya pun tidak memiliki teman dekat (inner circle group) meskipun saya sudah berusaha semampu saya untuk merasa. Saya sudah berusaha untuk membayangkan apa yang dirasakan saya ketika menjadi orang lain. Tetapi nyatanya usaha saya sepertinya belum Nampak hasilnya.

Jadi apakah saya ini benar-benar se-logis itu? Bagaimana lalu cara orang-orang logis mencari teman? Meskipun ini dikatakan baik mengapa saya belum dapat melihat sisi baik yang benar-benar baik dan dapat diandalkan dari seorang yang logis? Apakah benar bahwa orang melihat saya terlalu logis hingga terkesan kaku? Atau takut padaku? Ya, lalu, apa yang harus saya lakukan agar tidak terlalu logis? Saya masih mencari tahu

~Oiya, hehe saya bersyukur ternyata orang yang tadinya saya berusaha selalu berperasaan dengannya, setelah dia tahu bahwa saya memang terlalu logis, dia tidak mengubah perlakuan dan perilakunya terhadap saya. Itu cukup menenangkan bagi saya. 😊

 

Surakarta, 16 Juni 2019

Kyasant

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo”

  1. Sebagai praktisi psikodrama sy berpendapat bhw tdk semua org mampu berpikir logis dan membuat judgement. Dan tdk ada salahnya sulit tersentuh secara emosional.

    Yg lebih utama adalah penerimaan terhadap diri sendiri dan belajar menempatkan peran yg sesuai dg kapasitas diri. Bahkan ada situasi dimana seseorang perlu utk menahan diri tdk terhanyut emosi. Bukan berarti menjadi robot dan terlalu logis itu tapi bgmn menerima dan mengunakannya dlm situasi yg sesuai.

    Seringkali menjadi konflik saat ada harapan spt bgmn penilaian org lain tdk sesuai dg apa yg ada dlm diri, ditilik dari tipe atau gaya berpikir dan berasa. Baik berpikir logis maupun bersikap sensitif/empati di perlukan pemahaman dan pengelolaan.

    Mslh nya semua org mmg punya gaya pendekatan sendiri. Di sisi lain, tdk mgn memuaskan hati semua org.

    Bila kemampuan membuktikan pada org lain menjadi ukuran penerimaan diri, maka org lain memiliki subjektivitas nya sendiri yg tdk ajeg. Sehingga situasi itu tdk akan bs di capai. Demikian jg sangat sulit mengendalikan bgmn org lain memperlakukan diri kita.

    Sy setuju bahwa pada akhirnya Hanya diri sendirilah yg harus mengendalikan dg menerima dan mensyukuri_krn mampu bersikap logis atau berperasaan pd org lain_ dan menanggung akibatnya sekaligus.

    psikodrama melatih kita menggunakan semua potensi itu dan menerima nya dengan lapang dada. selamat bereksplorasi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.