Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)


Jaman sekarang semua ingin serba cepat, instant, dunia industri mengajak kompetisi, siapa cepat ia yang dapat. Bahkan ada lagunya The Winner Takes It All (ABBA),  Siapa yang menang ia akan mendapatkan semuanya.

Pahami lebih dalam bahwa kecepatan tidaklah harus berupa kompetisi, sekarang saatnya berkolaborasi. Kecepatan tetap dapat dijadikan salah satu acuan, dengan tetap mempertimbangkan banyak hal, orang lain, anggota team, sumber daya yang ada dll.

Nampak jelas di dunia pertanian, untuk menambah kecepatan produksi, tanah di pupuk, dipaksa agar cepat tumbuh dan berbuah.  Menggunakan bahan kimia, dan pestisida. Tanah rusak dan perlu pupuk lebih banyak, hama juga lebih merusak karena tidak ada predator alami, semua usaha dilakukan dengan mengunakan kekuatan dan kemampuan manusia, nampak usaha keras untuk menguasai dan menaklukkan alam.

Ada sikap baru, muncul gerakan pertanian organik, kembali mempercayakan pada kekuatan alam, dan manusia berusaha selaras kembali. Hasil bumi tidak dipaksakan, berbuah cepat dan banyak, namun disesuaikan dengan kemampuan alami. Manusia diajak untuk kembali pada alam yang memiliki hukumnya tersendiri, semua sudah ada waktunya.

Demikian juga dalam kehidupan psikologi dan sosial, semua ada waktunya

Agar anak mampu memahami tentang tanggung jawab,..ya latih secara perlahan sejak ia mampu berdiri, …disesuaikan dengan konteksnya.

Anak mandiri secara psikologis sekitar usia 18 -21 tahun, maka 3-4 tahun sebelumnya diberi kesempatan dan dilatih membuat keputusan dalam ranah Psikologis, misalnya berpacaran, berorganisasi yang sesuai, misalnya Pramuka. Diberikan kesempatan untuk aktivitas diluar rumah bersama teman sebayanya.

Kemandirian secara ekonomi  sekitar usia 26-30 Tahun, boleh sejak SLTP sudah diberi tanggung jawab mengelola uang saku nya Mingguan, dan dilatih untuk menabung. Selanjutnya SLTA atau saat Mahasiswa uang sakunya diberikan bulanan, bila ada kebutuhan tambahan dilatih untuk membuat “proposal”, permintaan tambahan, dan ada jeda waktunya. Selanjutnya kalau sudah lulus sarjana, saatnya diajak bersama menyusun rancangan keuangan tahunan, baik akan bekerja atau pun mau sekolah lanjut. Dalam rancangan tersebut sudah diajak menentukan darimana pemasukannya. Kemandirian ekonomi ini bukan berarti tidak punya Hutang, atau pun tidak lagi meminta orang tua lagi, melainkan mampu mengelola cash flow secara tepat. dsb.

Demikian juga untuk perkembangan Mental spiritual, ada waktunya. Mengenai hal ini tidak dapat disama-ratakan, tiap orang memiliki waktunya sendiri, bukan berdasar usia kronologis, namun lebih didasarkan berapa lama yang bersangkutan berproses, berlatih mental dan spiritual. Maka Pelajaran Agama juga perlu disesuaikan dengan tingkat kematangannya, kecuali kalau hanya mengajarkan pengetahuan, bukan karakter. Mengenai hal ini dapat mengacu pada ujaran leluhur: Seorang Guru yang sudah siap Mengajar akan menemukan Murid, begitu pun seorang Murid yang siap belajar akan menemukan Guru, pada waktunya.

Jika seorang anak dituntut tanggung-jawab sebelum waktunya mereka akan terbebani secara psikologis, mental dan spiritual, dengan kata lain mereka akan mengalami Stress dan hal ini dapat menjadi awal permasalahan psikologis,mental, spiritual serta sosial.

Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya

Yogyakarta, 7 Juli 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.