Nasehat Eyang dalam Mengolah Fakta Melawan Hoax ( Kearifan Lokal Orang Jawa )


Beberapa tahun yang lalu di Jakarta, saya bertemu dengan seorang Direktur sebuah perusahaan di Tangerang, dalam rangka diskusi untuk proses pelatihan karyawannya. Beliau memberikan sebuah Konsep yang berasal dari Kearifan Lokal orang Jawa. Beliau mengharapkan karyawannya memiliki sikap mental yang diajarkan para leluhur tanah Jawa. Namun saya akan menggunakan Kearifan tersebut untuk kita saat ini. Saya akan mengajak untuk belajar mengolah informasi mensikapi keadaan sekarang dan melawan hoax.
Jalan menuju Kebijaksanaan, Nasehat Leluhur Orang Jawa dalam mengolah Fakta :

Kowe Krungu durung tentu weruh,…
…yang Kau dengar belum tentu Kau lihat,…Informasi kabar burung yang baru didengar perlu dipastikan dengan melihat langsung apakah informasi itu benar.

Nek Weruh durung tentu Ngerti,…

….yang kau lihat belum tentu kau pahami,…perlu melihat dari berbagai sudut pandang, agar mampu memahami lebih menyeluruh.

Nek Ngerti durung tentu Bisa,….

….yang kau pahami belum tentu bisa kau lakukan,…antara pemahaman dan kemampuan ada waktu belajar, berlatih dan jam terbang serta ujian agar dapat disebut berkompeten, sehingga dalam memberikan atau menyebarkan informasi dapat dipercaya.

Nek Bisa durung tentu Bener

…..jikalau merasa bisa, belum tentu itu benar, …dalam konteks di jaman digital ini, di dunia maya (Media sosial Online) sekarang, kita bisa menyebarkan informasi, sharing atau forward informasi,….belum tentu ini tindakan yang benar,…jika informasi itu Hoax, kita bisa dikenai UU ITE, dan dianggap melanggar hukum.

Nek Bener durung tentu Temanja

…kalaulah itu benar, belum tentu tepat dan memberi manfaat, ya,..adalah benar tidak melanggar hukum, mengunggah foto, atau informasi ke media sosial, perlu disadari apakah hal itu memberi manfaat? baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Nek Temanja durung tentu Adil

…kalaulah yakin itu memberi manfaat belum tentu Adil,…sering kita mengunggah di media sosial foto bersama, ada orang lain bersama kita. Kita mendapat manfaat dari hal itu, apakah kita telah meminta ijin terlebih dahulu pada orang yang fotonya kita unggah ? Apakah dia juga mendapat manfaat dengan fotonya diunggah di media sosial? atau ia merasa malu dan dirugikan? Ada etika dalam bermedia sosial. Kita sering melihat foto di media sosial yang wajahnya ditutupi, ini salah satu penerapannya. Tidak setiap orang senang wajahnya tersebar di media sosial.

Nek Adil durung tentu Wicaksana

….kalaulah adil belum tentu bijaksana,….setelah acara bersama berfoto-foto ria, “Nanti fotonya di kirimkan lewat group WA, ya?” kata salah seorang. Semua menginginkan foto itu, cukup adil jika diberikan kepada semuanya lewat group WA. Namun apakah bijaksana jika ada anggota kelompok yang tidak memiliki wifi unlimited, jika ada anggota group WA yang paket datanya terbatas, lalu masuk berpuluh-puluh foto?. Mungkin akan bijaksana jika dibagikan lewat email, atau di-copy lewat flashdisk.

Nek Wicaksana durung tentu Waskita

….kalaulah bijaksana, belum tentu kita tahu apa yang akan terjadi nanti…ketika kita mengirim atau mengunggah informasi di media sosial, kita tidak dapat memastikan adanya respon dari netizen/publik atau orang lain.ย  Ada contoh yang sering terjadi pada para pemakai WA, yaitu lamanya menunggu balasan. Ya,..kalau urgent telpon lah,…

Nek Waskita durung tentu Mlebu Swarga,…

….dalam konteks ini saya memaknakan Mlebu Swarga (masuk Surga) adalah kebahagiaan, senang, atau Gembira.

Di twitter, atau Facebook, atau Instagram, kita tahu bahwa nanti akan di respon oleh netizen, namun belum tentu respon itu akan menyenangkan kita. Kita tahu unggahan kita bisa direspon apa pun oleh netizen, meskipun unggahan kita tentang sesuatu yang baik, qoutes bijak, renungan renungan suci, respon orang orang belum tentu membahagiakan kita. Kita tidak dapat memastikan respon orang orang akan selalu menyenangkan seperti keinginan kita.

Nek Mlebu Swarga durung tentu ketemu Gusti Allah,…

..kalau pun kau senang, dan berbahagia dalam bermedia sosial, belum tentu itu sesuai dengan KehendakNYA.ย  Kegembiraan dan kebahagiaan yang didapat dari bermedia sosial, belum tentu hal yang baik, belum tentu sesuai dengan dengan kehidupan nyata sehari hari. Ada banyak kejadian merasa berbunga-bunga dan jatuh cinta lewat media sosial, setelah bertemu langsung ternyata tidak sesuai harapan, bahkan menjadi masalah berkepanjangan. (kasus penipuan lewat media sosial). Kebahagiaan di Media sosial belum tentu berbahagia di dunia nyata. Kebahagiaan di dunia maya belum tentu sesuatu yang baik.

Ya,..demikian tafsir bebas dari saya terhadap “Nasehat Eyang”, semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 9 Juli 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

6 tanggapan untuk “Nasehat Eyang dalam Mengolah Fakta Melawan Hoax ( Kearifan Lokal Orang Jawa )”

Tinggalkan Balasan ke retmono Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.