Fenomena Cebong Kampret dan Upaya Rekonsiliasi dengan Cara Psikodrama


Melihat dan mendengar apa yang ada di media sosial dan acara talk show di televisi (termasuk berita beritanya), Keriuhan Pesta Demokrasi, Pendukung Paslon, terbelah menjadi dua kubu. Salah satu kubu disebut Cebong yang mendukung Paslon nomor 01. Kubu satunya lagi disebut Kampret yang mendukung Paslon nomor 02.

Sebenarnya hal yang wajar saya, dukung mendukung kubu dalam Pesta Demokrasi (Pemilihan Umum). Ada desain untuk membangun dukungan ini. Para Elit yang memiliki kepentingan untuk kemenangan Paslonnya, merancang narasi, yang menunjukkan keunggulan Paslon-nya dan Kelemahan Lawannya. Usaha ini juga dilakukan dengan pemilahan informasi. Informasi yang mendukung disebarkan sementara informasi yang tidak mendukung disembunyikan atau ditutupnya. Usaha ini dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (pakai istilah yang sedang ngetrend :-D). Sebagai akibatnya informasi (fakta) yang disebarkan pada pendukungnya tidak lengkap.

Cebong sebagai pendukung 01, cenderung mendapatkan informasi mengenai sisi baiknya Paslon 01, dan informasi tentang sisi buruknya Paslon 02. Begitu pun sebaliknya Kampret cendering lebih banyak mendapatkan informasi mengenai sisi baik dari Paslon 02, dan informasi mengenai sisi buruk Paslon kosong 01

Kedua pihak buta sebagian dari separuh fakta – realita diterima tidak lengkap.
Separuh fakta yang tidak mendukung keyakinan dan harapan diabaikan, dianggap tidak ada. Maka realitas pendukung terbangun terbelah. Situasi menjadi sangat panas dan cukup membuat kuatir banyak pihak. Ujaran kebencian beredar di medsos. Istilah yang dipakai yaitu Cebong dan Kampret juga berkonotasi penghinaan. Muncul juga issu makar dan ada indikasi keterlibatan kelompok teroris pada aksi-aksi demontrasinya,  bahkan sampai ada korban jiwa manusia.

Realitas harusnya dibangun dari realita/fakta yang berimbang dan lengkap, yang nantinya akan mendukung keyakinan dan membangun harapan. Namun disini prosesnya berbeda. Realitas yang dibangun dimulai dari harapan (keinginan) dari elit politik yang menginginkan kemenangan, dilanjutkan dengan mengumpulkan realita (fakta)-nya yang mendukung (saja) agar menjadi keyakinan-diyakini pendukung agar nanti memilih Paslon yang ditawarkan.

Keadaan tambah runyam dengan adanya orang jahat yang menyebarkan Hoax. Kebohongan diciptakan dan disebarkan untuk kepentingan kelompoknya (pribadi?). Realitas Cebong dan Kampret makin jauh dari realita/fakta yang ada. Kebenaran menjadi milik kelompoknya saja, kubu lain yang beda dianggap salah. Banyak orang tidak mau disalahkan, maka jika dituduh salah, muncul rasa marah, dan berakumulasi berujung benci.

Pesta Demokrasi sudah  mendekati babak akhir. Calon Presiden dan Wakil presiden sudah terpilih. Pemilu dimenangkan oleh Kubu 01. Meski secara umum sudah terkendali namun rasa “benci” masih ada di hati. Muncul keinginan dari beberapa petinggi, untuk rekonsiliasi. Bersatu kembali dalam upaya membangun negeri ini.

Ada satu cara dari teknik pada Psikodrama, yaitu Teknik Role Reversal (tukar peran). Mungkin ini dapat dilakukan untuk upaya Rekonsiliasai. Kedua kubu bertukar posisi perannya. Para Elit pendukung 01, menginformasikan tentang Kebaikan 02, dan mengajak pendukungnya para Cebong mengikutinya,  Dilain sisi Para Elit pendukung 02 juga menginformasikan kebaikan Paslon 01, dan mengajak pendukungnya Para Kampret melakukan hal serupa. Dengan langkah awal menghilangkan istilah Cebong dan Kampret yang bernada penghinaan, atau dirubah menjadi nada otokritik, refleksi diri sendiri.Diharapkan dapat memunculkan Empati, yang menjadi dasar terbangunnya Rekonsiliasi.

Strategi ini nampak mudah dilakukan, masalahnya apakah para elit bersedia? dan apakah para Penjahat produsen Hoax rela? Karena bisa jadi kondisi yang terbelah ini malah menguntungkan mereka.

Ya sudahlah, itu pilihan mereka, kita hanya mampu berharap dan menerima keadaan ini dengan membendung rasa benci. Kita maknai saja keterbelahan ini adalah keniscayaan, atau bahkan hal yang perlu dalam Demokrasi bangsa kita, Kita beri makna positif pada realita ini, dengan mengakui bahwa Paslon 01, telah resmi terpilih sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden untuk Periode 2019 – 2024. Maka kubu Paslon 02, secara otomatis sebagai oposisinya.

Ok sip,…Membangun negeri tidak harus menjadi menteri. Membangun negeri dapat juga dilakukan dengan mengawasi dan menawarkan solusi alternatif sebagai Oposisi.

…..dan untuk para Penjahat produsen Hoax, wajib dibasmi, di proses hukum, dan dilarang beraktivitas dengan Media Sosial dalam kurun waktu tertentu. Bagi yang sudah terpapar dapat disikapi dan diantisipasi dampak negatifnya dengan mengajak masyarakat untuk berpikir kritis, Saring sebelum Sharing, (meniru kata judul bukunya Gus Nadir) dan menuruti Nasehat Eyang.( klik aja). Semoga bermanfaat.

Epilog

Masih ada perbedaan rasa setelah selesai perhelatan Pesta Demokrasi. Bagaimana sebuah pesta yang seharusnya bergembira, malah mencekam dan nyaris membuat trauma. Untunglah drama yang awalnya sepertinya mengarah tragedi, berujung layaknya komedi, dengan tokoh tokoh yang menjiwai perannya secara total, dan dengan segala konsekuensinya. Drama akan terus berlanjut, dan sebagai anak negeri mungkin perlu juga berkontribusi ikut dalam membangun narasi.

Yogyakarta, 11 Juli 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.