Penerapan Psikodrama untuk Perencanaan Strategi Organisasi


Siang tadi bersama Henk2 melayat putra mantan Dosen kami. Setelah mendoakan dan menyalami beliau kami duduk ngobrol sejenak. Kami bertemu dengan beberapa temen yang menjadi Pengajar Psikologi di salah satu Universitas di Yogyakarta. Saya menawarkan diri apakah bisa mengajar psikologi terapan, terapi kelompok Psikodrama. ditanggapi dengan positip, bahwa secara prinsip bisa saja dan nanti secara teknis akan dikabari, karena perkuliahan belum dimulai.

Henk2 punya ide, untuk memperbesar peluang penerapan Psikodrama di ranah yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa, psikodrama dapat juga untuk menyusun strategi organisasi. Jadi psikodrama diterapkan untuk Psikologi Organisasi atau Industri. Kami memang sudah lama berdiskusi mengenai pengembangan Psikodrama, selain untuk Psikologi Klinis, Psikologi Terapi, dan Terapi Kelompok. Jadi kemunculan ide-ide seperti ini sering terjadi dan kali ini saya ingin menuliskannya.

Selama ini penyusunan Strategi organisasi dilakukan dengan cara diskusi, lalu diplenokan dengan cara presentasi, ceramah mengunakan slide proyektor, dalam bentuk tulisan, bagan, metrik atau gambar -Dua Dimensi. Bagaimana jika kita tawarkan dalam 4 dimensi, ditambah dimensi ruang dan dimensi waktu, yaitu menjadi Peristiwa, prosesnya di-drama-kan. Jadi penyusunan strategi organisasi dengan cara psikodrama. (baca : Waspadalah terhadap kekuatan drama ….)

Psikodrama mampu mengajak ke masa depan, peserta diajak ke Surplus Reality. Adam Blatner juga menambahkan,  Saya menemukan sebuah buku oleh Rosilyn Wilder, seorang guru drama kreatif, berjudul “A Space Where Anything Can Happen” (New Plays Books, 1977).

Seperti biasa proses Psikodrama diawali dengan Pemanasan (Warming Up). Peserta disiapkan pemikirannya agar dapat berimajinasi bebas, dapat dilakukan dengan meditasi, membayangkan suasana sekarang, masa lalu dan masa depan perusahaan. Peserta disiapkan perasaannya, agar berani bebas berekspresi, membangun rasa saling percaya, dapat dilakukan dengan Spektogram dan Lokogram. Peserta juga perlu disiapkan fisiknya agar bebas bergerak dan bertindak, dapat dilakukan dengan teknik Sclupture, diajak untuk “berani menjadi dan berkontribusi”, dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan, berarti makin banyak belajar.

Tahap berikutnya Action. Peserta di minta untuk membuat drama tentang peristiwa di masa depan, 5 atau 10 tahun ke depan. Drama bebas, yang penting ada setting waktu, memiliki tokoh dengan karakter yang jelas (berdasar karakter peserta saat ini), menceritakan sebuah peristiwa, boleh dengan bergerak, berdialog konflik atau cukup berbentuk drama mini kata atau diorama, berupa patung-patung ( mannequin challenge).

Peserta diberikan waktu untuk berdiskusi, membuat konsep atau skenario. Peserta juga diberikan waktu latihan, boleh sambil foto-foto agar suasana hidup dan menyenangkan.

Tiba saatnya pementasan, pentas boleh direvisi saat di panggung, boleh sambil foto-foto, boleh juga serius penuh penjiwaan sampai pakai nangis-nangis dan marah marah. Apa pun boleh saat di atas panggung sejauh untuk lebih hidup dan menyenangkan.

Sadar maupun tidak, pentas tersebut secara langsung menggambarkan kondisi organisasi di masa depan. Gambaran yang muncul ini, menjadi misi dan visi Organisasi. Di tahap selanjutnya, selesai pentas peserta diajak untuk berrefleksi, mengintegrasikan pengalamannya selama dalam proses latihan dan pentas.

Pengintegrasian dilakukan dengan Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion). Hasilnya ditulis secara runtut menjadi Misi dan Visi Organisasi, dilanjutkan dengan merancang tahapan per tahunnya, (bila ingin di detailakan, dapat  sampai target per divisi atau departemen, sesuai kebutuhan).

Hasil Diskusi tersebut dipresentasikan secara Pleno, (bisa juga dengan di dramakan secara spontan, agar menarik dan menyenangkan).  Dan akhirnya, disusun menjadi satu laporan tertulis yang tersusun rapi menjadi program dan rencana kerja, tinggal selanjutnya ditandatangani Direksi.

Bayangan saya proses ini membutuhkan konsentrasi dan energi yang cukup, maka waktu yang disediakan sekitar 7 hari, dengan di karantina tidak berhubungan dengan pihak-pihak luar, selama proses aktif. Karantina ini tidak total, saat istirahat dan santai boleh berkomunikasi dengan keluarga. Boleh juga berkomunikasi dengan kantor untuk mengkoordinasikan tugas atau meminta data yang dibutuhkan.

Jumlah peserta efektif sekitar 20-an orang, dengan level tanggung jawab Supervisor ke atas. Jika memungkinkan menyertakan Direksi atau Owner akan lebih baik. Hal ini tergantung juga dari besar kecilnya organisasi.

Mari kita coba …..

 

Yogyakarta, 15 Juli 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.