Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Bismillahirrohmanirrohim

Mendengar kata psikodrama pertama kali dua tahun yang lalu. Penasaran dan banyak pertanyaan dalam benak namun baru sempat browsing lebih dalam di medio Juni 2019. Tulisan-tulisan psikodrama yang saya dapat kebanyakan berbahasa asing. Seseorang teman yang aktif di sosial media Instagram menyarankan saya untuk stalking dulu ke @psikodrama_id, lalu lanjut menelusuri event-event terkait psikodrama yang selalu saja hanya satu nama yang terhubung di sana. Retmono Adi yang nampaknya memang dedengkotnya ahli psikodrama.

Hari itu, Sabtu 13 Juni 2019, kurang dari 3 jam acara yang dimotori oleh Miracle psychology saya baru mendapat info dan langsung mendaftarkan diri. Sejak panitia mengabarkan bahwa masih ada slot di kelas tersebut, selain antusias, perasaan saya takut. Sampai perjalanan menuju TKP saya masih bertanya-tanya, akan seperti apa nantinya, bisakah saya mengikuti dengan baik karena saya belum pernah menjalani agenda dadakan. Seremkah si Retmono Adi ini (ternyata bener syerem dari tatap mata dan taringnya, pisssss) dan bisakah diaplikasikan pada anak dampingan saya.

Meski peserta sudah duduk melingkar ketika saya datang, saya tidak merasa telat karena masih sempat mengikuti sesi perkenalan dan menjadi pohon. Pohon yang masih malu-malu, pohon yang normative, pohon yang takut salah, pohon yang tidak tahu apa-apa serta mengamati pohon lain yang kurang lebih sama. Owh ada yang berbeda, satu pohon tua yang akhirnya saya tahu bahwa beliau adalah Simbahnya via vallen dan keturunan Ken Arok.

Yang menarik perhatian adalah selendang, hijab, pashmina bertebaran. Buat apa sih, saya pikir juga akan diajarkan menari atau itu cucian si empunya yang belum sempat disingkirkan. Pada prosesnya pertanyaan terjawab ternyata untuk krukuban dan diuntel-untel (saya belum pernah sebahagia itu menguntel-untel selendang)

Masuk semakin dalam baik melalui penjelasan dan praktek langsung, saya mulai rileks, mulai memahami bahwa peran apapun yang diberikan Gusti Allah haruslah disyukuri. Saya bercermin tentang diri saya sendiri melalui potongan-potongan skenario. Saya bebas menjadi diri sendiri, bebas me-respon skenario yang diberikan, entah dengan kepedihan atau dengan gelak tawa. Yang pasti kedewasaan sangat dibutuhkan dalam proses ini.

Saya belajar bagaimana menjadi rem sekaligus gas untuk diri sendiri. Saya pun belajar menakar kemampuan dan keinginan. Mana yang harus didahulukan antara pikir, rasa atau laku. Yang terpenting mengenal emosi lebih dalam ketika bahagia diberi peran yang memang saya inginkan atau pasrah menerima ketika diberi peran yang “nggak banget”.

Jangan dipikir setelah mengikuti kelas ini saya jadi tambah pinter karena saya justru merasa semakin bodoh, semakin ingin tahu tentang psikodrama, dan semakin gila. Yang pasti pertanyaan saya terjawab dan dapat bonus bahagia.

Pengennya sih belajar lebih dalam lagi tentang psikodrama melalui kelas lanjutan. Lagi pula panitia nampaknya berhutang bancaan nama kepada saya.

Sekian dari saya, Penari lumba-lumba yang bukan bernama Bambang.

 

Yogyakarta, 17 Juli 2019

Bunda Dian

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.