Belajar Budi Pekerti Melalui Praktek Psikodrama ( Playback ), Berani Jujur dan Bertanggung jawab


Budi pekerti merupakan wujud dari pemahaman akan aturan, tata krama, hukum, agama, adat-istiadat, norma sosial, dan nilai-nilai luhur. Penanaman budi pekerti lebih merasuk bila dilakukan dengan tindakan nyata sehari-hari. Bila seorang anak sejak dini sudah ditanamkan dasar-dasarnya, dengan berjalannya waktu nilai tersebut akan berkembang seturut usianya.

Berikut salah satu praktek Psikodrama, yang dapat mengungkapkan bagaimana budi pekerti merasuk pada seorang anak.

Hari Selasa, tanggal 30 Juli 2019, Pukul 08.00 WIB, kami melakukan Playback Theatre di Kopi Nogo Jl Godean Yogyakarta, sebuah pertunjukkan drama spontan, yang prinsipnya seperti pada tahap Action dalam Psikodrama. Playback  merupakan drama kisah masa lalu, cerita pengalaman yang sudah terjadi, didramakan secara spontan.

Aku sebagai Direktur, berdiri di panggung kecil yang sudah disiapkan. Aku tawarkan siapa yang bersedia menjadi Protagonis, yang bersedia untuk berbagi cerita yang akan didramakan.

Seorang Perempuan usia 30-an, maju ke panggung dan duduk di kursi yang sudah disediakan untuk menceritakan masa kecilnya yang mengharukan.

Aku dengarkan ceritanya sampai selesai. Selanjutnya aku susun alur dramanya.

Aku tuliskan disini dalam bentuk Skenario agar dapat dimainkan kembali.

Cerita kali ini tentang Pengalamannya saat kelas 5 SD.

Berani Jujur dan Bertanggung Jawab

Tokoh :
1. Adik (anak perempuan usia usia 10 tahun),
2. Anak perempuan 1 (teman sebaya Adik)
3. Anak Perempuan 2 (teman sebaya Adik),
4. Kakak Pertama (laki-laki 16 tahun)
5. Ibu

Prolog

Adik adalah anak Perempuan Bungsu, memiliki 2 orang kakak laki-laki, dengan orang tua yang disiplin dalam mengajarkan tanggung jawab sejak dini pada anak-anaknya. Setiap anak diberikan tanggung-jawab untuk terlibat dalam kegiatan rumah.  Kakak pertama diberikan tanggung jawab menyirami tanaman, Kakak kedua mencuci piring, dan Adik menyapu rumah. Tugas-tugas tersebut digilir seminggu sekali.

Adegan 1

Siang menjelang sore, pulang sekolah 3 anak perempuan berjalan pulang ke rumah.

Adik : Ayuks kita mandi di kolam renang  tapi, nanti pulang sebelum jam 4 ya, aku harus ikut les.

Anak P1 : …yuk !

Anak P2 : Ayuk !

Mereka pergi bersama ke kolam Renang

Adegan 2

Di kolam renang, mereka mandi dengan gembira, hingga lupa waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WIB, saat kolam renang tutup.

Adik : Owh!, sudah mau tutup,…ayuks kita pulang,…

Anak P1  : iya,.. ga terasa,ya ?..trus gimana nih?

Anak P2  : Ayuks pulang,…

Mereka bergegas keluar dari kolam renang, memakai pakaian dan pulang.

Adegan 3

Mereka berpisah menuju rumah masing masing. Adik berjalan sendiri menuju rumah, sampai jarak sekitar tiga rumah dari rumah adik berhenti. Ia mulai merasa takut. Ia berdiri sambil menangis. Ia takut bakal dimarahi ibu. Ia melihat ibunya di depan rumah sambil memegang sapu (ia mengganggap ia akan dipukul dengan sapu itu. Padahal ibunya mengingatkan bahwa tugasnya menyapu telah dilakukan dan Ibu menunggu dengan cemas). Adik tetap berdiri sambil menangis tidak berani pulang.

Kakak pertama mendatanginya.

Kakak I : Adik tidak usah takut, ayo pulang (memeluk). Adik minta maaf pada ibu, pasti dimaafkan, yang penting adik jujur,…ya..

Adik : …..(mengangguk, dengan menangis)

Adik digandeng kakak berjalan menuju rumah. Di depan rumah adik bersujud minta maaf pada ibu sambil menangis, rasa takutnya masih ada.

Adik : Ibu, …adik minta maaf, telah membolos les, dan tidak menyapu rumah. (menangis)

Ibu : (sambil memeluk bahu adik dan mengangkatnya agar berdiri), ya…., ibu maafkan. besok lagi tidak diulangi lagi ya…, agar adik menyadari bahwa itu salah, apa hukuman yang adik minta?

Adik : Adik akan menggantikan tugas-tugas kakak. Adik, selain menyapu rumah juga akan mencuci piring, dan menyirami tanaman selama 3 hari. (dengan masih terisak-isak)

Ibu : Ya,…sudah sana masuk kamar ganti baju, lalu makan, ibu sudah siapkan di meja. (dengan lembut, penuh kasih sayang)

Adik: Iya, bu,…terima kasih (tetap dengan terisak-isak)

Adegan 4

Di kamar, adik menulis kalimat” Aku tidak akan mengulangi lagi” (berulang ulang) di buku tulis, sambil dengan meneteskan air mata. Air mata itu menetes di buku, hingga tulisannya mbleber.

Adik : Aku tidak akan mengulangi lagi,….aku tidak akan mengulangi lagi,…aku tidak akan mengulangi lagi,(sambil terisak, bicara lirih sendiri)

Adik lalu melepas kertas itu dari buku. Ia mengambil lem dan menempelkannya di dinding kamar sebagai pengingat akan tekadnya.

Adegan Penutup

Pagi hari, Adik menyirami tanaman dengan hati penuh tekad dan gembira.

 

Yogyakarta, 30 Juli 2019

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.