Psikodrama dan Tentang Memilih untuk Benar, untuk Baik, atau untuk Jujur dari Pengalaman di Yogyakarta


Surprised juga ketika keresahan bertahun_tahun itu simply terpetakan secara experiential dalam sebuah permainan psikodrama. Padahal baru tahap warming up. Dengan cepat aku merasa engaged.
.
Ada suatu masa di mana aku mempercayai sebuah quote, bahwa “adalah penting untuk berbuat benar, namun lebih penting untuk berbuat baik”. Buatku ini zona nyaman. Secara naluriah apa yang bikin orang lain hepi mudah membuatku juga hepi. Hingga suatu saat ada yang memantik pemikiran bahwa sesuatu yang tidak lurus tidak akan membawa kebaikan. Kalaupun terasa baik, mungkin itu semu.
.
Hmm….aku kemudian agak mengubah style. Dalam menyelesaikan permasalahan mencoba keukeh pada yg benar. Konon katanya lebih berat daripada rindu…uhuck…, tapi yah begitulah pengorbanan menegakkan apa yang benar. Ternyata betul banget. Rasanya seperti thriller ketika benturan-benturan tak terhindarkan menyakiti orang lain dan mencederai hubungan interpersonal. Ujung-ujungnya sakitnya mbalik ke diriku sendiri 🥴
.
Weew…terlalu jujur terkadang juga sama repotnya. Padahal kalau boleh selalu jujur macam anak balita pasti ringan banget di hati. Nyatanya gak semua relasi siap dengan kepolosan; gak semua rela menampung harapan; gak semua orang mudah menerima ketidaksempurnaan. Jadilah kita mengoleksi banyak topeng (demi apaaa?)
.
Aku mundur. Berhenti. Dalam frustrasi memilih untuk jadi pengamat skeptis yang membentengi diri dari pengaruh orang lain. Berharap bisa membangun self dari inner-ku sendiri. But then, where should i start? Masa yang emboh 😂
.
Berproses dalam psikodrama mengantarku pada pemetaan kemanusiaan yang terintegrasi.
Ada personal yang meminta kejujuran pada perasaan sendiri.
Ada transpersonal yang menuntun pada kebenaran dalam berpikir.
Ada interpersonal yang mempedulikan pada kebaikan dalam bertindak.
.
Posisinya mungkin perlu begitu. Ketika terbolak-balik itulah yang berpotensi menghasilkan konflik. Kulihat itu make sense sebagai tempat berpijak pada titik ini. Alhamdulillah bertambah modal untuk bisa terus mengelola diri.
.
Ah…jadi pingin minta maaf pada semua relasi yang mungkin pernah terluka atau terganggu pada saat aku: mengungkapkan kejujuran yang ternyata menyakitkan; keliru karena merasa sudah bertindak benar; atau merasa sudah memikirkan yang paling baik. Mungkin ini momen yang tepat menjelang hari raya Kurban. Kumohon ijin untuk mulai dari belajar menyembelih ego diri sendiri yang sering berbuat salah ✌
.
Hal yang membuatku merasakan kemanusiaannya adalah dalam psikodrama Salah itu Boleh, yang Penting Jujur dulu.

.
Wresti Wrediningsih
Jogja, 3 Agustus 2019
Untuk mas Retmono Adi yang secara khusus minta aku menulis.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.