Bertemu Teman Lama #TerapiMenulis 08


Depresi dengan gejala psikotik.

Demikianlah yang tertera di surat keterangan dokter spesialis kesehatan jiwa yang kuminta beberapa minggu yang lalu. Sudah satu bulan aku mengonsumsi obat-obatan psikiatri. Ada tiga macam obat yang kutelan setiap hari: antidepresan, antipsikotik, dan anti- dari antipsikotik (psikotropika? Psikoaktif? Aku tidak tahu istilahnya). Sebetulnya aku tak suka terus-terusan minum obat. Selain harganya yang lumayan mahal, aku khawatir kalau nantinya akan ketergantungan. Tak hanya itu, obat-obatan psikiatri memiliki efek samping yang ‘luar biasa’. Saat ini, aku memutuskan untuk mengonsumsi obat karena aku tinggal bersama orang lain dalam waktu 50 hari. Aku tidak mau gejala depresiku menyusahkan orang lain.

Kemarin, aku bertemu dengan seorang teman akrab setelah 3 tahun lamanya kami tak bertemu. Ia berkuliah di luar negeri. Sebelumnya, setiap ia ke Indonesia, aku tidak dapat menemuinya karena kami tidak pernah berada di kota yang sama. Kali ini, ia datang ke Yogyakarta dan untungnya aku masih di Yogyakarta. Aku merasa beruntung telah masuk rumah sakit waktu itu. Jika dulu tidak sampai diopname, barangkali aku dan dia tidak dapat bertemu karena bulan ini aku keluar dari Yogyakarta.

Kami janjian bertemu di gereja. Ia beragama Katolik dan aku belum pernah masuk ke gereja Katolik sebelumnya. Ini pengalaman pertamaku. Kami kemudian membahas agama—lebih tepatnya, aku banyak bertanya kepadanya soal keimanan yang diyakininya. Ia menjawab pertanyaanku satu persatu dengan sabar. Aku belum begitu saja mempercayai apa yang ia sampaikan. Setidaknya, aku menjadi lebih tahu. Aku tidak menuntut diriku untuk segera paham dan/atau percaya.

Ia mengantarku ke rumah sakit untuk mengambil obat-obatan yang akan kukonsumsi sampai 2 minggu ke depan. Setelah itu, aku bercerita kepadanya tentang “penyakitku”. Kukatakan kepadanya bahwa aku telah melukai diriku sendiri cukup lama dan ada suara di dalam batinku yang terus menyuruhku untuk melukai diri sendiri, menjauhi orang-orang, sampai membunuh diriku sendiri. Pada saat bercerita, tanganku gemetar. Dalam beberapa momen, aku takut menatap matanya.

Ia mentraktirku es krim dan berkata, “Anggap ini hutang yang belum kamu bayar. Kamu sudah tidak peduli dengan orang lain, kan? Setiap kali kamu ingin bunuh diri, ingatlah bahwa kamu berhutang kepadaku. Kamu masih punya hutang yang belum dibayar kepadaku.” Ia pun bercerita juga soal keluarganya—tentang bapaknya yang pejudi, ibunya yang sakit-sakitan dan telah meninggal, serta adiknya yang baru akan masuk kuliah.

Aku setuju bahwa aku sudah tidak peduli dengan orang lain. Aku merasa akal sehatku semakin lama semakin terkikis. Aku merasa tidak masalah jika suatu saat nanti akan mati dengan cara bunuh diri. Orang-orang terdekatku mungkin merasa sedih dan menyesal, tetapi pada akhirnya mereka tentu dapat move on. Egoisnya diriku, aku pun tak kuat jika orang terdekatku bunuh diri atau sekadar melukai diri sendiri. Aku mengizinkan diriku bunuh diri dan melukai diri sendiri, tetapi tidak sampai hati jika orang lain yang melakukannya. Aku pun mulai semakin membenarkan tindakan melukai diri sendiri. Selama aku tidak menyakiti orang lain secara langsung, bukankah tidak masalah?

Temanku menyuruhku untuk meminta pertolongan sebanyak-banyaknya, termasuk kepada orang tua. Kukatakan kepadanya bahwa aku masih belum bisa dan siap untuk menceritakan hal ini kepada orang tuaku. Aku khawatir akan hal yang terjadi setelahnya. Aku tidak ingin mereka panik. Aku tidak ingin mereka jadi menungguiku karena kebebasanku akan terenggut setelahnya. Aku membayangkan skenario dimana aku akan bercerita kepada mereka lalu kabur sejauh-jauhnya. Aku masih tak mau. Namun, aku merasa bahwa aku telah meminta pertolongan dari sumber-sumber lain, meski terkadang sumber lain sama rusaknya dengan diriku.

Di sisi lain, sebetulnya aku masih bertanya-tanya tentang suara yang ada di batinku. Siapa dia? Aku harus bagaimana menyikapinya? Bukankah seharusnya di dalam tubuh satu orang, hanya ada satu kesadaran? Bukankah suara itu kuhasilkan sendiri? Namun, mengapa rasanya ia seperti orang lain yang punya kehendak sendiri? Inikah yang dinamakan halusinasi? Atau aku hanya melebih-lebihkan masalah yang ada di dalam diriku?

Obat-obatan psikiatri membuat ‘dia’ teredam. Sudah beberapa minggu aku tidak betul-betul mendengar suaranya. Hanya dalam beberapa momen, ia berteriak. Aku tidak tahu kenapa ia berteriak, tetapi aku menjadi kasihan. Aku merasa ia adalah bagian dari diriku dan aku merindukannya, sejahat apapun perbuatannya kepadaku. Sebenarnya, aku bahkan tidak berani melabeli perbuatannya sebagai perbuatan yang jahat. Aku menikmati melukai dan menyiksa diriku sendiri. Hanya saja, tindakan ini sangat menyusahkanku ketika aku sedang berurusan dengan orang-orang di luar diriku.

Akan kemanakah aku berlabuh? Apa lagi yang akan muncul di hidupku esok hari? Aku belum tahu. Apapun yang terjadi, terjadilah.

Yogyakarta, 4 Agustus 2019

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

5 tanggapan untuk “Bertemu Teman Lama #TerapiMenulis 08”

  1. – mungkin ini tanggapan terhadap tanggapan dari orang lain ya pak,

    saya pernah mengajaknya bicara. tapi rasanya sulit bagi kami untuk berdiskusi dengan kepala dingin. ketika tidak ada orang di sekitarku, dia akan lebih dominan. ketika ada orang lain, dia tidak mau keluar dan berbicara..

    saya masih sulit mencari jalan tengah. jalan tengah yang saya maksud adalah saya mengizinkan dia untuk ada dan bicara, tetapi dia tidak mendominasi/menguasai tubuh saya

    (Aku) + Ya,…tidak perlu terburu-buru…

    tapi yang saya bingungkan adalah suara itu rasanya bukan dari diri saya.. padahal saya pikir harusnya itu suara hati saya sendiri; dari diri saya dan bukan orang lain.
    saya bingung apakah saya sebaiknya menghadapi suara itu sebagai orang lain atau bagaimana ya pak..

    (Aku) +Itu juga bisa,..intinya ajak bersahabat,…dan saling menjaga…untuk hidup yg lebih baik.

    Suka

  2. Ajak suaranya untuk berdamai.
    Kau akan damai, sesekali biarkan Ia berontak, apapun yang ia katakan dan inginkan, biarkan saja. Yang perlu kau ingat jangan sampai dia mengendalikan dirimu lebih dari kamu. You did it

    Disukai oleh 1 orang

  3. Tentang suara yg ada dlm batinmu, pernahkah kau ajak bicara? Bagaimana perasaannya dan bagaimana dia ingin di dengarkan.

    Bila ia bagian dari dirimu, barangkali kau penjaganya agar ia tak bertindak merugikan kehidupanmu.

    Atau seperti kawan lamamu, barangkali kalian bisa menemukan sisi positif dan bekerja sama utk memilih hidup yg lbh baik.

    Bagaimanapun, kau sudah berani dan kuat.
    ….

    Disukai oleh 1 orang

  4. Tulisan yg menarik.
    Seperti ada sesuatu yg berkata:

    “Ada pintu yg diketuk, maukah kamu membukakan pintumu untukku?”

    “Aku ingin berbincang dgn mu, berdialog bersamamu, sudah lama kita tidak bertemu, sudah lama aku ditinggalkan dalam satu pojok ruangan yg gelap dan sepi”

    “Maukah kamu bertemu dan bertatap muka dgnku, menceritakan segala rasa”

    (Terasa seperti panggilan shadow di balik layar panggung, di pojokan sebelah kiri, dia menanti untuk menyatu)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.