Curahan Hati Pengelola Kegiatan Psikodrama di Yogyakarta


Saya seorang pengelola kegiatan Psikodrama di Yogyakarta. Sampai saat ini sudah mengelola 3 kali event. Setiap event, saya menemukan keseruan yang berbeda, yang mengalir aja secara spontan mengikuti ekspresi peserta dan temuan director. Saking spontannya, judul event yang disiapkan sejak awal promosi  dapat berubah begitu saja pada waktu didramakan. Perubahan yang tanpa briefing apa pun, tetap jadi alur yang berdampak bagi pesertanya.

Misalnya pada event pertama, judul event diputuskan begini: Psikodrama, Pengembangan Diri bagi para Pendidik Dan Psikolog. Eh, pesertanya lebih banyak mahasiswa, jadi yang didramakan ada dua protagonist. Seorang protagonist mendramakan visi ‘kehidupanku di usia 45 tahun’, seorang lagi mendramakan ‘penari lumba-lumba sewaktu TK’ sebagai kenangan masa kanak yang menyenangkan. Begitu spontan.

Ajaibnya, pada akhirnya saat refleksi sisi pendidik dari dalam diri setiap peserta menemukan insightnya sendiri, agar lebih peduli pada klien/siswa/anak mereka.

Sebagai pengelola event, saya dan tim punya banyak tugas di belakang arena. Tugas itu berupa menyiapkan makanan, menyediakan peralatan, menjadi observer, mencatat flow, menerima pembayaran, dan sebagainya.

Pada event pertama, saya benar-benar mondar-mandir dari ruangan acara ke dapur, sambil mengurus anak-anak saya sendiri yang kalau Sabtu libur sekolah. Saya memastikan anak-anak saya punya kegiatan di dalam rumah, agar tidak mengganggu acara di kantor saya yang terletak di depan rumah.

Nah, setiap kali berada di ruangan acara, saya perhatikan peserta begitu asik berekspresi dengan wajah dan gesturnya. Tim saya yang dua orang lebih sering bergabung dalam action, yang bikin saya tambah penasaran. Apa daya, anak-anak terlalu ingin tahu kalau ibunya ikut action. Jadi ya lebih baik saya tetap jadi pengelola saja.

Bulan berikutnya, tugas saya lebih sedikit karena mulai terbiasa mengelola event. Dari 3 fragmen warming up, sàya bisa ikut pose, refleksi, lalu keluar arena lagi menyelesaikan tugas. Tahap berikutnya, peserta dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan kebiasaannya memproses stimulus. Satu kelompok berisi peserta yang terbiasa action, kelompok kedua yang biasanya baperan diminta menganalisis secara logis,  kelompok terakhir  berisi peserta yang biasanya terlalu logis diminta untuk menggunakan rasa. Saya diwajibkan ikut, hehe antara penasaran dan enggan jadi ‘gila’, namun tetap bergabung dengan kelompok action.

Ada Dua sesi tuh, pertama diminta memaafkan. Saya membayangkan seseorang yang perlu saya Maafkan. Setelah menemukan sosoknya, saya memilih seorang teman yang bisa merepresentasikan sosok itu. Adalah seorang pria berbadan besar, yang saya jadikan simbol Simbah Putri dari papa. Saya yang dapat kesempatan pertama pula.. entah mas Didi sengaja atau tidak, saya yang ekspresif ini bisa jadi dipilih untuk menularkan keberanian ekspresi ke peserta lain.

Kumulai untuk bicara di hadapan simbol berwajah selendang. Oow ternyata sulit. Saya ngoceh cerita dulu untuk meluapkan rasa marah. Mas Didi menghentikan omongan saya.
“Dramakan”
“Aku masih marah”
“Katakan saja”
“Aku belum bisa maafkan”
“Sampaikan padanya”
Okey, akhirnya saya katakan: Uti, aku belum bisa memaafkanmu. Atas semua perlakuan yang kuterima. Semoga Tuhan mengampunimu.
Sang simbol menjawab:
“Tidak apa-apa. Semua indah pada waktunya”.

Saat teman-teman yang lain bicara dengan simbol, saya mengamati kehidupan mereka juga sama beratnya. Saya bisa berdamai dengan kemarahan saya. Ah, cuma segini. Sudah bisa juga terlewati juga kok.

Sebagian dari mereka sudah mampu memaafkan, tentu saja setelah berjuang dengan batinnya sendiri. Ketika saya tanya ke dalam batin, kapan aku mau memaafkan, ternyata jawabannya tetap belum bisa. Ya sudah, saya terima. Satu hal yang saya syukuri, kondisi saya yang belum mau memaafkan ini diterima oleh teman-teman. Tidak Ada yang menilai saya tidak berbakti, atau cucu yang buruk, atau apalah sesuai Norma. Saya belum bisa memaafkan, teman-teman bisa menerima tanpa menghakimi. Salah seorang teman di kelompok rasa, mendoakan saya agar segera sampai pada titik tenang dengan memaafkan. Ya, begini pun cukup tenang.

Ngos-ngosan juga yaa..ternyata. Lebih baik keluar arena jadi pengelola saja, nontonin drama.. haha.

Semoga seluruh peserta mendapatkan kesan yang berdampak ya buat jalani hidup selanjutnya.

Sebagai pengelola acara saya bahagia karena kerjaan kami ini ada manfaatnya dan berkesan, terbukti di grup whatsapp alumni sering mengungkapkan rindu berdrama kembali..

Sebagai peserta saya berproses menjadi diri yang jujur dengan perasaan sendiri. Terima kasih, Semesta.

Yogyakarta, Agustus 2019

With love, Rini di Miracle Psychology

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Curahan Hati Pengelola Kegiatan Psikodrama di Yogyakarta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.