Supir Itu Aku, Bukan Yang Lain, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Selama 23 tahun, aku merasa hidupku terkesan begitu-begitu saja, lempeng-lempeng saja. Aku selalu berusaha mengatakan dan melakukan banyak hal agar orang lain senang, sedangkan aku terkadang merasa sebaliknya. Sejak kecil hingga sekarang hidupku selalu menuruti keinginan orangtuaku. Aku harus juara kelas. Aku harus mendapatkan beasiswa. Aku harus menang lomba. Aku harus ini dan kemudian itu.

Ketika aku mengalami kegagalan, aku akan mendapatkan raut muka dan kalimat-kalimat penuh kekecewaan dari orangtua. Aku Lelah. Bahkan masa depanku seperti karir dan pasangan pun diatur oleh orang-tuaku. Berulang kali aku mencoba memilih jalanku sendiri, aku belajar desain, ditolak. Aku belajar memasak, dikritik pedas dan dibanding-bandingkan dengan orang lain yang lebih ahli…tolong Aku hanya minta didukung.

Aku tekun belajar dan berjuang agar menjadi pendidik, disayangkan karena nanti pasti gajiku sedikit. Tiba di usiaku ke 23 yang menghitung beberapa hari lagi sudah 24, aku mengenalkan laki-laki pilihanku, ditolak. Sampai akhirnya aku menyerah dan menjalani semuanya tanpa gairah.

Impian masa depan hampir tidak bisa lagi kulihat, bahkan merangkainya saja aku enggan. Aku trauma dengan penolakan. Hari demi hari kujalani sesuai keinginan orangtua. Parah, ternyata aku pun melakukan banyak hal atas dasar keinginan orang lain (teman, guru, rekan kerja, dan orang lain yang berhubungan denganku). Sekali lagi karena aku takut dengan penolakan. Aku jadi bingung siapa aku ini dan sebenarnya apa mauku dalam hidupku ini?

Moment pertama yang berkesan ketika sesi warming up adalah ketika director berkata “silakan berpose yang belum pernah anda lakukan!” Aku senang sekali. Aku merasa menjadi manusia yang bebas dari tuntutan.

Selanjutnya director berkata “buatlah peristiwa konser Via Valen pas perayaan hari kemerdekaan” Aku berusaha mengamati teman-teman yang lain dan memaknai peran mereka. Tidak butuh banyak waktu, aku pun mengambil peran. Iya aku sadar, aku punya peran untuk melengkapi sebuah peristiwa yang bisa jadi tanpa peranku peristiwa tersebut inbalance. Sampai di sini aku mulai bersemangat lagi.

Semangatku untuk merangkai masa depan menguat ketika salah satu teman memerankan drama masa depannya. All about herself in the future, hah ada rasa gemetar di seluruh tubuh ketika mengingat diriku sendiri, bagaimana aku di masa depan nanti? Sedikit demi sedikit aku menguatkan kakiku, tanganku, pikiranku, dan hatiku bahwa masa depanku adalah milikku. Orangtuaku, teman-teman dan orang lain boleh mengaturku tapi aku, masa depanku hanya milikku, aku sutradaranya. Hanya aku

Tubuhku berasa sedikit ringan, ketika director mengajak untuk berbagi pengalaman mengikuti psikodrama ini. Melihat masa depanku, melihat kewajiban-kewajibanku saat ini, menguatkanku untuk berkata “akan aku lakukan apa yang semestinya kulakukan, tidak hanya kupikirkan dan kurasakan. Akan aku wujudkan pilihanku keinginanku dan resiko yang akan terjadi nanti sepenuhnya akan ku tanggung”.

. . . . . . . . . . . .

Hari yang cerah, sebulan berlalu setelah tulisan di atas. Ku nyalakan mesin motor dan menuju ke miracle psychology, tempat kegiatan psikodrama diadakan. Hari ini, Allah menakdirkanku ikut di tahap warming up saja.

Terkejut luar biasa, iya aku terkejut hingga badanku gemetar, mataku terasa panas, dan tiba-tiba air mata ini jatuh. Apa yang kutuliskan sebulan lalu, tiba-tiba diungkapkan oleh peserta yang lain. Dia mengungkapkan cerita hidupnya, the real her life story.

Aku menuliskan cerita ini dari sudut pandang sebagai anak, dan dia mengungkapkan ceritanya dari sudut pandang seorang ibu. Dia seperti ibuku yang memiliki trauma pernikahan hingga akhirnya menganggap laki-laki tidak berguna dalam hidupnya, hanya menyusahkan, dan gak pantas dihormati. Inilah alasan kenapa ibuku sangat mengatur hidupku.

Ibuku selalu berkata kepadaku “jadilah perempuan yang mandiri, kuat, punya karir bagus, punya rumah, dan uang yang banyak, raih itu semua dan gak nikah juga malah bagus. Laki-laki itu seperti bapakmu yang bikin susah saja”. Kalimat itu dapat diungkapkan ibuku 3 x sehari selama usiaku ini, bisa bayangkan gimana otakku? Sesak!

Di tahap warming up ini, aku menyampaikan kepadanya bahwa seperti inilah keadaan anaknya nanti apabila dia berperilaku seperti ibuku. Dari ceritanya, segudang pertanyaanku tentang ibuku yang bersikap seperti itu telah terjawab. Aku paham betapa beratnya hidup ibuku dan hidupnya, namun hidupku adalah milikku. Aku memang wajib menghormati dan membahagiakan ibuku, namun aku juga harus menghormati diri dan kebahagiaanku sendiri. I’ll do my best and I’ll take the risk tanpa menyalahi aturan hubungan antara anak dengan ibu.

Yogyakarta, Juli =Agustus 2019

Oleh: titamaysaa@gmail.com

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Supir Itu Aku, Bukan Yang Lain, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

  1. Mbak, hal yg luar biasa untuk sampai pada insight ini dan kemudian memutuskan untuk menuliskan serta membagikan ke banyak orang agar menjadi bahan renungan bagi orang lain yg membacanya, yg membutuhkannya.

    Hal yg menarik untuk sampai kepada insight bahwa “I’m the driver of my own body, my own soul, my own life”. Sebagai seorang supir yg bebas mengendarai kehidupannya sendiri, mandiri, menentukan jalan hidupmu dengan bebas dan bertanggung jawab atas kehidupan dan keputusan yg dipilih. You are not a robot or a puppet. Mbak bisa menjadi apapun dengan bebas.
    Selamat tumbuh & berkembang bebas, Mbak Tita.

    Ps: Ketika menjadi driver, hati2 agar tidak membiarkan penumpang naik kemudian membiarkannya mengambil alih kemudi & menyetir, menggeser mbak ke bangku penumpang.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.