Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?


Ini othak athik gathuk saja, sekalian menjaga tradisi sebagian cara berpikir orang Jawa. Salah satu alur logika dalam membangun makna yang belum tentu ada fakta empiris maupun teori yang mendukungnya. Karena tulisan ini bukan jurnal ilmiah, maka feel free aja, aku membagikannya. 🙂 Secara lesan dalam workshop sering juga saya sampaikan, untuk menekankan pentingnya Pribadi manusia, seperti yang diharapkan Moreno.

Kaum Profesional, membuat istilah bagi Penggunanya, menunjukkan harapan, atau situasi yang diharapkan tercipta dalam prosesnya.

Profesi Dokter memberi sebutan penggunanya Pasien. Orang yang mendapatkan pelayanan dokter diharapkan untuk sabar (patience). Bersabarlah biarkan kami bekerja untuk menyelesaikan / mengatasi permasalahan (penyakit) kalian. Pasien relatif pasif dan Dokter lebih aktif agar proses berjalan optimal.

Profesi Konsultan dalam bidang Hukum, Managemen, Akuntansi dll, memberi sebutan penggunanya Klien, dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan Mitra. Orang yang mendapatkan pelayanan Konsultan, diharapkan menjadi mitra, selayaknya rekan kerja. Mari bersama kita atasi permasalahan anda. Kami akan memberikan saran solusi, silahkan anda kerjakan menurut panduan dari kami. Klien aktif dan Konsultan aktif, hubungan kerja yang setara, keduanya perlu aktif agar proses berjalan optimal dan hasilnya seperti yang diharapkan.

Moreno sebagai Pencetus Psikodrama, memberi sebutan penggunanya Protagonis, istilah yang diambil dari dunia Drama, yang berarti Tokoh Utama, dan terapisnya dengan istilah Direktur atau Sutradara. Silahkan bertindak, salah juga boleh, dari itu mari kita maknakan bersama apa tindakan yang kalian lakukan sudah seperti yang kalian inginkan, dan hasilnya juga seperti yang kalian harapkan, jika belum cobalah cari alternatif lain.  Dalam Psikodrama Moreno mengharapkan tiap Pribadi menjadi aktor utama,  dengan tetap membuka peluang untuk lebih berani menjadi Sutradara dalam drama hidupnya.

Protagonis lebih aktif bertindak, dan Direktur relatif pasif, tidak terlihat, bahkan meminimalkan perannya, agar prosesnya berjalan optimal dan memberi hasil seperti yang diharapkan.

Dalam drama yang baik, Aktor yang menjadi fokus utama, sutradara ada “di belakang layar” tidak terlihat di panggung dan sudah tidak lagi mengintervensi saat pertunjukkan berlangsung. Sutradara yang baik saat pertunjukkan berlangsung akan menjadi penonton dan menikmati pertunjukkannya, baik dari belakang panggung, samping panggung maupun dari depan panggung. Aktor yang akan bertindak aktif dan menikmati menjadi bintang utamanya, dan saat pertunjukkan berakhir, Protagonis yang mendapatkan tepuk tangan dan ucapan selamat dari semua penonton.

Yogyakarta, 8 Agustus 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.