Saya Perlu Berlatih Berani Salah, sebab Salah adalah Proses menjadi Lebih Baik, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Halo, nama saya Lolita.

Ini adalah pengalaman kedua setelah satu bulan yang lalu mengikuti kegiatan psikodrama bersama tim Miracle, yang saya suka dari kegiatan psikodrama ini ialah praktik secara langsung dengan mobilitas sedemikian rupa di atas panggung sandiwara. Biasanya saya mudah bosan ketika kegiatan kelas yang lebih dominan duduk saja. Psikodrama ini benar-benar santai, antar peserta saling berinteraksi, namun tetap serius.

Kali ini saya datang dengan excited dan siap diajak ngapain aja, hehe. Awalnya, kami memperkenalkan diri masing-masing kemudian memainkan drama yang dipandu langsung oleh mas Didik.

Ketika memainkan setting Royal Wedding, saya memilih berperan menjadi umbul-umbul. Dilanjutkan dengan refleksi bersama, kami saling tertawa dengan setting dan peran masing-masing. Apalagi peran saya sebagai umbul-umbul di acara yang super mewah bertaraf Internasional, menjadi bahan refleksi dimana saya bisa menjadi hal yang lebih wow.

Nah, serunya di psikodrama ini, kalau ada yang salah atau kurang tepat, setting amburadul, bisa jadi lucu dan semua peserta tertawa. Kebayang kan, langsung hilang stresnya saking seringnya ketawa.

Kemudian sesi memaafkan dibagi menjadi 3 kelompok (memainkan adegan, mengamati secara objektif, dan mengamati secara emosi). Adegan memaafkan dimainkan oleh beberapa rekan, seketika suasana menjadi haru. Saya yang saat itu memilih sebagai pengamat secara objektif berusaha tidak terpengaruh dengan emosi yang lebih dominan, namun ketika saya menyampaikan pendapat secara objektif keceplosan kata ‘sedih’ yang membuat pengamatan saya menjadi tidak objektif lagi.

Pada kelompok peserta yang mengamati secara emosi, ikut merasakan emosi yang mengalir pada pemain adegan. Mata berkaca-kaca, air mata mengalir. Walau saat itu saya pengamat secara objektif, saya pernah memainkan adegan ini di pertemuan pertama dan setelah menangis efek yang dirasakan, hati terasa lega..

Asik banget sih, Psikodrama ini rasanya main-main, tapi sambil healing dan refleksi diri … duh jadi pengen drama lagi, bermain peran lagi, nangis lagi, ketawa lagi..

Di sesi terakhir, saya diberi kesempatan untuk memainkan peran sebagai pembantu protagonis yang sedang merayakan ulang tahun ke-75 tahun, dan sang protagonis mengatakan bahwa saya kurang heboh saat merayakan ulang tahun tersebut 😀

Tentu saja selama proses psikodrama sejak pagi hingga sore berlangsung menjadi bahan refleksi bagi saya, mungkin selama ini saya kurang berani berekspresi, masih takut berpendapat, masih takut salah.

Saya perlu berlatih untuk berani beda, berani lebih gila, berani lebih liar, dan juga berani salah.. sebab salah adalah proses untuk menjadi lebih baik.

 

Yogyakarta, 8 Agustus 2019

Lolita

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Saya Perlu Berlatih Berani Salah, sebab Salah adalah Proses menjadi Lebih Baik, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.