Membebaskan Jiwa yang Terpenjara, Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Blitar


Aku masih ingat ketika aku dan teman-teman mahasiswa seangkatan mengikuti workshop psikodrama bersama Pak Retmono Adi di Program Studi Psikologi Universitas Sebelas Maret. Pada saat itu aku berhasil untuk merasakan berbagai gejolak emosional pada diriku. Mulai dari senang, sedih, gembira, murung, syukur, kecewa, dan tentunya lelah. Ternyata psikodrama jauh lebih melelahkan dari yang kukira. Namun di samping berbagai perasaan yang telah kusebutkan tadi, yang paling dominan adalah perasaan bahwa: aku bebas—atau setidaknya, aku merasa ingin membebaskan diriku. Aku ingin membebaskan jiwaku.

Rasa bebas. Rasa ingin membebaskan diri. Entah dari belenggu berbentuk beban pikiran, beban perasaan, atau belenggu dalam bentuk-bentuk menyebalkan lainnya. Rasa inilah yang ingin kubagikan pada anak-anak didik di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (dulu disebut sebagai Lapas Anak) di Blitar, tempatku melaksanakan kegiatan magang dari kampus bersama teman-teman sekelompok—semuanya berlima, termasuk diriku.

Kami pun merencanakan kegiatan psikodrama ini sebagai projek utama selama magang, menyesuaikan dengan harapan pihak LPKA yang meminta kami untuk membuat kegiatan untuk anak-anak.

Saat magang, kami sepakat untuk memilih peserta kegiatan psikodrama, yaitu anak-anak yang tidak pernah dibesuk dan yang durasi vonisnya lebih dari 2 tahun.

Beberapa waktu berselang, hingga akhirnya tibalah hari eksekusi kegiatan. Bermodalkan dengan pengalaman mengikuti workshop psikodrama bersama Pak Retmono Adi, ditambah dengan sesi konsultasi bersama the man himself dan tentunya pihak LPKA, kami pun memulai kegiatan dengan penuh semangat.

Semangat itu pun menular pada 15 peserta kegiatan psikodrama ini, yang tentunya diiringi dengan ‘3 magic words’: “Salah gak apa-apa”. (terinspirasi oleh: Saya Perlu Berlatih Berani Salah…. )

Mulai dari perkenalan diri menggunakan pose yang unik, kemudian dilanjutkan dengan spektogram, lokogram, sculpture, hingga tahap action: forgiving—atau memaafkan orang yang pernah menyakiti hati. Tak disangka, beberapa peserta ada yang menitikkan air mata, ada pula yang berusaha menahan tangisan. Namun, semua itu berhasil ditutup dengan pelukan hangat dan tawa yang ceria.

Anak-anak terlihat bahagia. Mereka berkesempatan untuk berekspresi secara bebas. Mereka berkesempatan untuk membebaskan jiwa mereka; sesuatu yang ikut terpenjara ketika menjadi penghuni lapas.

Tentu ada beberapa hal yang masih bisa diperbaiki dalam pelaksanaan kegiatan. Maklum, jam terbangku masih sedikit. Malah bisa dibilang masih nol. Namun tak apalah. Melihat anak-anak yang bahagia membuatku merasakan hal yang sama.

Here’s to more happy adventures.

 

Amar, 2019

Mahasiswa Psikologi UNS

Student of Knowledge

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.