Latihan Berpikir Positif dalam Keseharian


Hari ini aku merencanakan untuk menganti spare part motorku. Kabel speedo meter dan kabel RPM nya putus. Sudah lebih dari sebulan, performa motor aman saja, namun tetap perlu petunjuk kecepatan berkendara, agar dapat mengontrol kecepatan yang aman.

Sudah lebih dari pukul 15.30 WIB,  aku datangi bengkel itu. Baru pertama kali aku ke bengkel ini. Bengkel ramai, ada beberapa motor sedang diperbaiki. Aku berpikir positif, jika ramai pastilah bengkel ini reputasinya baik, jika aku berpikir negatif, pasti akan lama menunggu, dan buang-buang waktu.

Aku menunggu sebentar sambil mengamati orang-orang yang ada di sana.  Ada seorang pekerja usia 2o-an, sepertinya sudah selesai memperbaiki spion. Aku menegur dan menyampaikan permasalahan motorku dan menanyakan harganya jika perlu menganti spare part-nya.

“Ko, ini jarum penunjuk kecepatan dan jarum penunjuk RPM nya ngga gerak, sepertinya putus dan perlu diganti kabelnya, berapa Ko?” tanya Aku.

“Iya, nanti diperiksa dulu,” jawabnya, sambil berjalan masuk ke toko, selanjutnya ia keluar dan langsung pergi.

“Kok ia datar aja.” pikirku, Aku seperti diabaikan sebagai konsumen. Aku melihat sekitar, “Oh, ya antrean banyak dan ia juga mengerjakan yang duluan datang”. Aku memilih berpikir yang positif saja.

Pilihan untuk berpikir negatif ada juga, yaitu : Aku kan konsumen, harusnya diperlakukan sebagai raja. Apa susahnya Dia sambil tersenyum serta bersikap yang ramah dan mempersilahkan aku menunggu, atau sikap dan tutur kata yang lebih menyenangkan. Namun pikiran yang ini tidak aku pilih, aku memilih berpikir bahwa dia sedang bekerja dan berusaha sebaik-baiknya. Lagi pula aku datang belakangan, maka aku putuskan untuk menunggu dengan pikiran yang positip.

Aku menikmati, melihat bagaimana mekanik yang lain mengerjakan tugasnya sehingga pikiranku terfokus pada mengagumi proses kerjanya. Aku terus berusaha mengisi pikiranku dengan hal positif yang bisa aku tangkap.

Ada Bapak senior mekanik sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia diminta oleh pemilik untuk menangani motorku. Ia langsung cekatan dan membuka kabel dan menunjukkan bahwa kabel putus.

“Ya, langsung aja diganti yang baru, Pak, memang sudah umurnya perlu diganti,” kataku dengan nada bercanda

Bapaknya berjalan ke ruang di balik etalase, mengambil spare part dan memasangnya.

“Lubangnya agak miring,” katanya sambil berusaha memasukkan kabel ke tempatnya di bawah lampu depan. Agaknya ia kesulitan karena lubangnya di atas dan miring, serta terhalang stang.

“Berapa harga kabelnya, Pak, Tanya ku sambil membantu memegang kabelnya agar tepat dimasukkan tempatnya.

“Empat Puluh Ribu,” jawabnya sambil mengencangkan bautnya.

“Sekalian kabel Speedometernya ya Pak,” pintaku lebih lanjut.

Disini ku sempat ada pikiran, jangan jangan harganya sudah dibikin lebih mahal, kenapa tidak aku tawar saja. Namun Aku berpikir Positif saja, bahwa Bapak ini pasti juga berpikir baik, bahwa aku diberi harga terbaik agar nanti menjadi pelanggannya, maka aku tidak menawar harga itu. Jikalau aku percaya bahwa dia baik, maka pelayanan yang diberikan pastilah baik juga.

Bapaknya langsung dengan cekatan membuka kabel yang satunya. Sedikit sulit dilepas karena berkarat. Ia minta bantuan mekanik lain untuk melepas kabelnya. Setelah dapat dilepas ia tunjukkan bahwa kabelnya memang telah putus lalu berjalan mengambil spare part baru untuk menggantinya. Kali ini dipasang dengan lancar, dan dicoba bekerja dengan baik.

“Ok, sip, Pak,” kataku sambil tersenyum

Aku tidak tanya harganya pada bapak itu, namun langsung ke pemilik yang berada di belakang etalase.

“Berapa Om, semuanya, sekalian ongkos pasangnya ?” aku bertanya.

“Delapan Puluh Ribu,” Jawabnya.

Aku bayar dengan selembar 100 ribuan, dan diberi kembalian 20 ribu rupiah.

“Terima kasih, Om,” Kataku.

“Masama,” Jawabnya.

Sebelum aku menuju motorku, aku sempatkan salaman dengan Bapak senior mekanik itu, sambil kuselipkan tip sebagai rasa terima kasihku.

“Terima kasih, Pak,” Kataku dengan nada senang.

“Terima kasih,” Jawabnya juga dengan nada yang terkesan senang.

Aku hidupkan motorku dan meninggalkan bengkel itu. Aku pulang dengan hati ringan, Aku berpikir positif bahwa bapak itu bekerja dengan baik dan memberi harga yang terbaik.

Jikalau pun ia ternyata melakukan hal yang tidak baik,(memberikan harga yang terlalu mahal) namun aku memberikan ia tip sebagai ucapan terima kasih. Ia akan berpikir ulang jika akan berbuat tidak baik, karena ia sudah mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan diberi perlakuan yang baik yaitu ucapan terimakasih dan dipercaya.

…dan dari pengalaman ini, intinya aku tetap berpikir positip, dengan hati yang ringan, pulang dengan Feel Free, bahwa permasalahanku, sehubungan dengan kabel motor, teratasi dengan baik, dan hatiku merasa senang.

Terima kasih atas hari ini.

Yogyakarta 12 Agustus 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

2 tanggapan untuk “Latihan Berpikir Positif dalam Keseharian”

  1. Benar sekali, Pak. Kalau kita mengambil pemikiran negatif dari peristiwa yang terjadi, meski praduga itu tidak benar-benar nyata, sebetulnya kita malah menyiksa batin kita sendiri. Saya sendiri percaya kalau hari dimulai dengan pemikiran negatif, maka hal negatif pula yang akan saya dapatkan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.