Saat Aku Muda, atau Saat Aku Tua Nanti, Sebuah Refleksi Bercengkrama dengan Orang Tua


Pernahkah saat masih sangat muda, membayangkan bagaimana sulitnya menjadi orang tua? saya rasa , semua kanak-kanak senang sekali bermain drama menjadi orang tua, dan berpura-pura menjadi mereka dengan meniru perilaku mereka orang tuanya. Atau bahkan merubah peran mereka seperti yang kita inginkan. Anak-anak sering melampiaskan kemarahan, rasa sedih, angan-angan dan sejuta rasa melalu permainan drama. Sebaliknya, saat dewasa, kadang kita orang dewasa kini ingin memainkan peran masa kecil kita dan merubahnya kembali. Drama memang hanyalah permainan, namun peran yang sedang kita lakukan tidaklah main-main.

Psikodrama memfasilitasi perputaran waktu, surplus reality, yang membuat kita dapat membalik waktu dan imajinasikan tempat. Merubah peran dan memperagakan perilaku sesuai dengan skenario yang dapat di reka cipta ulang. Tujuan utama adalah melihat kembali/refleksi dan kalau bisa mengoreksi yang salah. Meluruskan yang bengkok, melepaskan yang selayaknya di lepaskan. Walau itu hanya dalam olah pikir dan rasa, namun penghayatan dan penerimaan pada diri saat ini dan kini menjadi pembebasan yang bermakna. Melepaskan masa lalu sesungguhkan untuk kembali hidup dalam realitas yang sesungguhnya kini dan disini, tanpa beban kenangan masa lalu ataupun kekhawatiran masa yang akan datang.

Orang tua adalah cermin. Sangat banyak kenangan yang telah di serap dalam perjalanan hidupnya. Tidak semua hal menyenangkan, banyak yang ingin di koreksi – bila saja waktu dapat diputar. Saat kita bercermin dan berbicara dengan mereka saat muda itu, ia akan menampilkan drama kehidupan yang telah berlalu. Membuat kita patut untuk berhenti sesaat agar langkah kita lebih tertata. Tidak semua hal buruk itu menakutkan, seringkali tampak indah dan baik saat ini, karena hidup patut untuk di syukuri. Karena hidup adalah anugrah.

Apa yang akan terjadi saat menua nanti, bila waktu kita sepanjang usia orang tua kita?. akankah kita masih akan selalu menengok ke belakang dan mengenang hari ini? Seperti apa yang terjadi pada tetua kita.
Waktu seperti misteri. Andai kita tahu apa yang akan terjadi nanti dan dimensi ruang dan waktu dapat kita cipta ulang, seperti dalam film, maka skenario nya tentu boleh kita ubah berulang-ulang. Namun dengan demikian tentu kenangan tidak akan ada lagi karena misteri waktu menjadi terlalu mudah untuk di permainkan.

Aku melihat dan merasakan sosok orang tua yg kukenal menua bersama waktu, melihat diriku berjalan pada jalur yg sama. Melihat kenangan demi kenangan berlalu bersama perjalanan aku dan mereka. Dan saat ku lihat diriku dan generasi setelahku, aku melihat prosesnya berulang kembali. Waktu berlaku kenangan berlalu.. seperti sebuah drama saat imajinasi masa kecilku berpetualang menembusnya ke depan dan ke belakang.
Kenangan tidak ada bedanya dengan impian, impianku dulu menjadi kenangan saat ini. Manusia berputar dalam arus antar generasi, bertukar peran dan bergantian membagi kenangan dan impian. Saat aku kecil menangis menceritakan duka masa depanku, dihadapanku sesosok tua menangis menceritakan duka masa mudanya. Oh waktu.. muda dan tua apalah bedanya?

Bandung, 16 Agustus 2019

Iip Fariha

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.