Saat Jantungku Masih Berdetak, Aku Bersyukur,….


Awalnya biasa saja, seperti seseorang menemukan hal baru dan merasa bergairah. Jantung ku berdegup lebih kencang. Tapi ini gairah yang berbeda. Ini bukan rasa menyenangkan seperti degup jatuh cinta. Ini sensasi aura kemarahan yang terpapar melalui udara. Semacam itu kira-kira yang terimajinasikan dalam benakku. Tidak biasanya aku mendeteksi begitu cepat amarah seseorang dan ini bukan hanya sekali saja. Ku rasa sudah mulai mengalir melalui jalur listrik nirkabel. Mengapa ku bisa merasakan kemarahan seseorang dalam jarak yang tidak ku kenali, bahkan wajah orangnya pun ku tak dapat mengimajinasikannya.

Degup jantungku seperti sebuah sensor, apakah ini suatu transference? Kucoba menutup peluang aliran energi itu dengan menjauhkan ponsel secara jarak fisik, dan itu membantu menormalkan detak di dadaku. Walau aku tak memahaminya, tampak seperti pengalaman mistis, aku merasakannya.

Kenapa hanya rasa kemarahan yang mudah memacu jantung? Ataukah ada rasa yang sama yang tersimpan dalam memory irama jantungku. Aku berbicara dengannya, kutanyakan seberapa marah dan seberapa luka ia menanggung dendam dalam dada selama ini. Aku meminta maaf dan melepaskannya. Aku sungguh telah memaafkan semua hal yang membuatku marah. Tidak ada lagi rasa itu dalam diri. Hanya penerimaan dan pengampunan yang sudah meleleh mengalirkan semua rasa. Bagi semua masa lalu, apapun namanya itu, ketakutan, kesedihan, pengharapan, kekesalan, ketidaksetiaan dan semua jenis kelemahan yang sangat manusiawi.

Suatu hari aku merasa begitu lelah, tidak ada aktivitas yang menjadi alasan kuat bahwa aku overload secara fisik. Sebab bila fisikku cape aku tahu aku akan tertidur. Mungkin secara beban mental?. Barangkali  karena antisipasi terhadap hal-hal yang harus ku kerjakan dan memang semua rencana itu cukup berat. Membayangkan atau merencanakannya saja sudah terasa berat, biasanya olah pikir karena harus menganalisa masalah atau mencari solusi, memang lebih menguras energi dari pada kerja fisik yang dapat dilakukan tanpa berpikir. Ah itu menurutku saja. Tetap saja kelelahan itu di rasakan oleh tubuh. Aku rasa ini bukan psikosomatis, tapi aku patut meminta maaf pada jantungku bila aku membebaninya dengan sesuatu yang melampai kapasitasnya. Aku sungguh berterima kasih selama ini ia berdetak mengikuti ritme hidupku tanpa kubenar-benar menyadari keberadaannya.

Aku mulai merasa curiga dengan detak jantungku yang kini dapat tiba-tiba seperti meloncat. Aku terbatuk dan menepuk dadaku agar aku tidak merasa seperti dikagetkan oleh sesuatu. Padahal aku sedang merasa baik-baik saja. Tetapi aku merasa ritme ini melambat. Dan terkadang aku sangat lambat untuk memulai hari baru. Seperti saat bangun tidur sama dengan bangun dari ketidaksadaran dan seperti baru dihidupkan dari kematian. Seperti mobil baru dinyalakan, dia membutuhkan waktu untuk dipanaskan. Aku merasakan bahwa aku butuh waktu untuk menjadi normal dalam beberapa menit.

Disaat lain, justru aku sangat mudah kaget dengan situasi tak terduga, dan rasanya jantungku ikut melompat. Pernah suatu saat kesadaranku menurun dan aku seperti kehilangan waktu beberapa detik tanpa aku menyadari apa yang terjadi, atau seperti listrik mati tiba-tiba atau seperti lampu akan mati dan berkedip lalu menyala kembali.

Apakah ini pertanda arithmia dalam bahasa para dokter?

Aku merasa baik-baik saja selama ini, memang jantungku menopang hidupku. Dapat dikatakan kehidupanku berpusat  pada detaknya. Kapan saja bila ia berhenti, mungkin kehidupanku juga berakhir. Saat malakat maut mengambil ruhku, semua fungsi fisik ini akan berhenti. Tetapi ajal tak ada yang tahu kapan ia akan beranjak. Seringkali tak selalu ada kaitannya dengan ketahanan fisik atau pun kerusakan biologis yang diderita. Betapa banyak kematian terjadi pada tubuh yang baru dan baik, namun sebaliknya tubuh rapuh dalam usia yang renta masih sanggup menopang ruh yang dititipkanNya. Namun kubersyukur lagi, bahwa alarm kematian bisa saja sengaja didentingkan agar setiap langkah dalam hidup ini menjadi lebih bermakna. Ingatlah kematian dapat menjemput kita kapan saja.

Aku tidak sedang meratap, aku sedang menikmati dan merasakan waktu yang serasa datang dan pergi, kadang datang begitu lambat, tetapi pergi begitu cepat. Aku meninggalkan masa yang nyaris telah ku lupa dan terlalu jauh ku jangkau. Masa lalu.. sebagian membekas dalam luka batin yang kubalut dalam pemaafan dan pertobatan. Sebagian nya suka cita yang kadang kurindukan. Masa lalu teramat jauh. Hanya hari ini yang bisa ku hirup udara segarnya, aku hanya hidup di hari ini saja.

Masa depan, sungguh hanya sebuah rencana, tak bisa kita berangan-angan, walau kebanyakan kita hidup dalam angan-angan, keinginan, harapan, semangat itu muncul manakala ada harapan. Harapanlah yang membuat orang bekerja keras, belajar tekun, tertawa dan bergembira. Walaupun ketakutan kadang menyelimuti akan masa depan, toh semua orang selalu punya cara untuk menghadapinya. Karena hal baik lebih banyak dari kesialan atau pun kesia-siaan.

Kita memang sedang menuju masa depan, semua orang bergerak maju. Menuju masa yang masih sangat panjang. Bahkan lebih panjang dari yang mampu kita imajinasikan. Hari ini hanyalah langkah kecil. sebuah perjalanan panjang membentang  di hadapan kita. Semuanya tidak pasti sekaligus pasti adanya.

Bagaimana dengan hari ini?

Orang bijaksana hidup untuk hari ini. Saat berfokus pada kebaikan saja yang di lakukan agar langkah tak terbebani oleh penyesalan masa lalu atau pun kekhawatiran masa depan.

Orang bodoh juga hanya hidup hari ini, saat ia menghabiskan semua hal untuk hari ini, tanpa pertimbangan, tanpa perencanaan. Sehingga tidak tahu apa yang dilakukannya merupakan satu langkah penting untuk esok hari.

Lebih banyak orang hidup di masa lalu, penuh dengan kenangan dan penyesalan, terpuruk dalam duka dan derita yang pernah terjadi namun terus terulang dalam kenangan.  Hari ini menjadi bayangan gelap diantara realitas kehidupan yang sesungguhnya bias.

Orang cerdas mengerti akan waktu dan perjalanan panjang kehidupan, ia menabung hari ini untuk besok yang tidak pasti akan datang. Namun berjalan dalam kepastian untuk menyongsongnya. Seperti musafir yang sedang mampir sesaat, ia tahu bahwa hidup hari ini hanyalah persinggahan sementara.

Betapa absurd nya hidup. Bila kau tahu, beratnya perjalanan ini, kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.

Bila kau sadari, betapa nikmatnya kehidupan ini, kita akan senantiasa bersyukur dengan semua pemberian yang berkelimpahan dari Nya, terlebih lagi kehidupan yang lebih baik di akhir nanti,

Aku hanya sedang berjalan, sekaligus menanti. Pertemuan Ilahi dan ujung perjalanan ini ….kurasa demikian adanya.

Selama Kau titipkan ruh ini yang kurasakan dalam detak jantungku ini…

Terima kasih telah Kau cicipkan kebaikan dalam hidupku. Semua hal yang Kau berikan hanya kebaikan. Karenanya, Perjalankan aku dalam kebaikan hingga hari pertemuan itu.

Akhir Agustus 2019

Iip Fariha

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.