Konseling dengan Proyeksi Diri pada Film Avengers Endgame


Konseling, 28 June 2019

Aku mendapat klien, dengan permasalahan kesulitan berhubungan dengan Orang Tuanya. Perempuan, usia 20-an tahun, Karyawati sebuah perusahaan Nasional, status belum menikah, Sarjana S1. Posisi kerjanya di bagian Administrasi.

Setelah perkenalan dan menceritakan latar belakang permasalahan yang dihadapinya. Aku menanyakan film apa yang terakhir dia tonton. Ia menjawab, Avengers Endgame. Karena aku juga mengikuti film Avengers, dan mengenal karakter tokoh tokohnya, maka aku mencoba menggunakan teknik Proyeksi dalam proses konseling ini.

Aku : “Aku kalau nonton film selalu membayangkan menjadi salah satu tokoh dalam film tersebut, (Protagonis), di film Endgame itu, dirimu merasa paling cocok dengan karakternya siapa?”

Klien : Thor

Aku : “Baik, coba kau temukan Kelebihan dan Kelemahan Thor,  dan temukan juga Kesamaan dengan Karakter dirimu?”

Klien :

” Kelebihan

⁃ Penyayang
⁃ Kuat 
⁃ Humoris
⁃ Jujur 
⁃ Pendiriannya kuat
⁃ Tegar 
⁃ Pemberani

Kekurangan

⁃ Mudah menyerah
⁃ Emosinya mudah meledak-ledak
⁃ Keras kepala”

Klien sudah memilih Thor, maka aku ajak ia untuk mendalami karakter tokoh Thor lebih dalam.

Aku : “Selanjutnya coba temukan apa konflik yang terjadi dalam diri Thor?

Ia merenung terdiam, maka Aku jelaskan bahwa dalam tiap karakter tokoh (protagonis) di film (yang baik) pasti memiliki konflik batin dalam diri tokoh itu. Agar tokoh tersebut mampu menunjukkan (mengeluarkan) kemampuannya yang optimal, untuk memenangkan (mengatasi masalah) ia perlu menyelesaikan konflik batinnya itu.

Nah, konflik dalam diri Thor, adalah ia merasa gagal, tidak dapat mengalahkan Thanos, dan memilih lari dari kenyataan hidupnya dengan mabuk bersama dua kawannya, saat ia dijemput oleh Hulk (ada adegan di film).

Aku arahkan adegan ini agar dipahami bahwa dalam menghadapi permasalahan orang sering lebih memilih lari, dan mengingkari dirinya. maka kemampuan “supernya” pun tidak dapat muncul. Nampak adegan di situ Thor dengan badan tambun serta gerakannya lambat. Thor menjadi orang yang tidak berguna.

Mengapa ia memilih lari dari kenyataan, muncul di adegan lain, saat ia ditugaskan kembali ke masa lalu dan bertemu dengan Ibu nya. Digambarkan dalam adegan tersebut ia takut bertemu Ibunya, ia merasa gagal, Ia tidak bersedia (takut gagal) menjadi pengganti ayahnya Odin, untuk menjadi Raja Kerajaan Asgard. Thor tidak mampu menyelamatkan Ibunya, dan ia bahkan menganggap bahwa kematian Ibunya disebabkan olehnya. Trauma masa lalu ini tidak pernah diselesaikan oleh Thor, ia lari dari masalah tersebut. Ia tidak berani menghadapi kenyataan hidupnya, maka permasalahan itu akan berulang dan muncul lagi, bahkan menghambat perkembangan diri Thor, kekuatan supernya hilang.

Bagaimana Thor mengatasi konflik dalam diri ini? Ada adegan bagaimana awalnya Thor ketakutan bertemu dengan Ibunya, namun akhirnya ia bertemu ibunya, dan mengungkapkan ketakutannya. Ibunya ternyata tidak menyalahkan, seperti yang ditakutkan Thor, Ibunya malah menjelaskan :

Everyone fails at who they’re supposed to be, Thor. A measure of a person, of a hero, is how well they succeed at being who they are.”- Frigga Queen of Asgard

Setelah berkonsultasi dengan ibunya itu, Thor sadar bahwa tidak ada salahnya untuk gagal menjadi apa yang orang lain inginkan. Kesuksesan sejati adalah merangkul siapa diri sendiri dan melakukan apa yang ingin dilakukan.

Sengaja aku bercerita banyak tentang Thor, bukan cerita tentang diri Klien, agar Klien tidak merasa dihakimi. Selanjutnya aku mengajak Klien untuk melihat perjalanan hidupnya sekarang.

Perjalanan hidupnya sekarang, dicari kesesuaian dengan adegan mana dalam proses Thor berjuang menjadi dirinya sendiri?

Aku ajak juga Ia melihat Thor di akhir cerita Avengers Endgame. Thor memilih untuk memiliki masa depannya sendiri, dengan meninggalkan kerajaannya.

Aku ajak ia berefleksi lagi, apakah ia akan mengikuti jalan hidup seperti Thor, atau akan memilih jalan hidup pilihannya sendiri yang berbeda dengan cara Thor?

Berdasarkan film itu aku ajak Klien untuk memahami bahwa ia bisa memilih jalan cerita apa yang akan ia jalani, bahkan sampai dengan pemahaman bahwa ia boleh merubah cerita hidupnya tidak harus sama dengan jalan cerita  Thor di film Avengers Endgame. Saya yakin bahwa hidupnya tidak akan persis sama dengan adegan adegan di film, di sini lah Klien memahami bahwa Ia memiliki Pilihan untuk jalan hidupnya.

Intinya aku mengajak klien agar berani memilih jalan hidupnya sendiri. Tentu diawali dengan berdamai dengan dirinya. Ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Moreno bahwa tiap orang diharapkan menjadi Protagonis, menjadi tokoh utama bagi drama hidupnya sendiri, bahkan jika cukup berani dapat juga menjadi Sutradaranya.

Di akhir konseling, aku minta ia mengungkapkan perasaan dan kesimpulan proses konseling ini. Klien mengungkapkan secara tertulis, (aku minta ia menuliskan dan dikirim via WhatsApp, meski aku ada di dekatnya) dan aku beri waktu untuk menulis.

Result Konseling, 28 June 2019

Sebelum konseling :
Saya merasa sangat stres, banyak emosi yang belum terluapkan, bingung, merasa bersalah, tidak menemukan apa yang sebenarnya saya rasakan

Setelah konseling :
Saya merasa sedikit lebih lega dan tahu langkah terdekat apa yang harus saya lakukan dan mulai bisa membuka hati untuk menerima keadaan saya dan keluarga saya.

Rencana bertemu Mamah :
Minggu ini mungkin

5 Agustus 2019 Via WhatsApp,

Sedikit update, saya sudah menjalankan challenge dari bapak untuk bertemu mama dan memeluk beliau pak.
Beliau menangis, saya pun iya hehehe.

…tapi setelah itu, tidak langsung terjadi perubahan apa-apa.

Hanya kemarin sore, mama saya menelpon saya dan kami ngobrol 45 menit, (ini terlama berkomunikasi ditelepon dengan mama saya karena sebelumnya tidak pernah selama ini)
mungkin akan mulai merubah hubungan saya dengan mama saya menjadi lebih baik lagi ya, pak, Aamiin.

Terima kasih bantuannya.

masih ada task yang belum saya lakukan yakni memeluk bapak saya, saya belum berani, pak hehe…

Demikian semoga dapat memberi inspirasi dalam proses Konseling dengan cara Psikodrama.

 

Yogyakarta, 23 Agustus 2019

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.