Perjuangan dan Komitmen akan Cinta, Playback Theatre Yogyakarta Pentas yang ke 5 di Beranda Seni Mbah Demang


Pada hari Rabu Malam, tanggal 25 September 2019, di BSMD Kopi Nogo ternyata sudah yang ke-5 Playback Theatre Yogyakarta mempertunjukkan dirinya. Playback Theatre adalah pertunjukkan teater spontanitas. Sutradara meminta kesediaan seorang dari audien untuk bercerita tentang pengalaman dirinya. selanjutnya dipentaskan dan ditonton bersama. Aktornya dari memainkannya secara spontan berdasar cerita tersebut.

Pada pertunjukan ke-5 ini Playback Theatre Yogyakarta (PTY), mendapatkan 2 cerita tentang perjuangan laki laki dalam mendapatkan cinta, menikah dan hingga meninggal. Cerita ini diceritakan oleh istri tercinta mereka.

Cerita pertama,

Adegan I

Cinta monyet waktu SMP. Di sekolah seorang Gadis diintip saat olah raga. Sang Gadis ditraktir bakso.

Adegan II

Di rumah orang tua gadis mendapat informasi bahwa ada lelaki bunuh diri masuk ke sumur agar mendapatkan cinta si gadis. Padahal lelaki itu bisa berenang. Lelaki itu ingin menikah dengan gadis itu. Di desa jika ada lamaran pamali jika ditolak, maka orang tua gadis menyetujui untuk menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki tersebut.

Adegan III

Pernikahan dan pengantin perempuan masih usia 16 tahun,  menangis di pelaminan. Pernikahan tidak diramaikan hanya untuk keluarga dekat saja.

Adegan IV

Di rumah, dalam kehidupan berkeluarga laki-laki itu sebagai suami, menunjukkan komitmen cintanya, ditunjukkan dengan mencuci pakaian serta membuatkan jamu untuk istrinya. Sementara sang istri mengendong salah satu anaknya dan sambil mendoakan anaknya agar besok dapat kuliah untuk melanjutkan cita-cita ibunya. Mulailah tumbuh benih cinta dalah hati sang Gadis hingga memiliki anak ke 2.

Adegan V

Sang suami mencoba bercanda sebagai wujud bahagianya,

Katanya, “Aku tidak menyangka kau yang pernah hidup di Jakarta ternyata ketika malam pertama masih perawan.”

“Apa? Jadi kau berpikir seperti itu padaku?, Sang istri marah dan tersinggung. ” Tahu begitu aku berikan keperawananku pada pacarku dulu!” (Padahal dulu hanya cinta monyet) sebagai wujud kejengkelannya.

Adegan VI

Kelahiran anak ketiga. Di rumah Sakit dibantu oleh Bidan dan Suami menunggui saat kelahiran dengan memegang tangan istri. Demikian yang selalu dilakukan di setiap kelahiran anak yang pertama dan yang kedua. Lalu suami membersihkan darah yang bercecer serta mengubur ari ari sang bayi.

Adegan VII

Suami mulai sakit sakitan, komplikasi.  Di rumah sakit suami berbaring dengan berdialog dengan istrinya.

Apakah nanti kalau aku mati kamu mau nikah lagi? katanya pada istrinya sambil berbaring.

“Sudah ngga usah mikir macem-macem, yang penting kau sembuh dan kita tetap bersama.,” tegur sang istri.

Aku titip anak-anak ya, jaga mereka baik baik. Pesan terakhir sang Suami kemudian meninggal.

Demikian pementasannya dilanjutkan dengan diskusi. Dalam diskusi Ibu yang  menceritakan cerita ini menyatakan ia jadi teringat semua kenangan bersama suaminya sambil matanya berkaca-kaca.

Sebagai penutup aku mengucapkan terima kasih pada ibu tersebut atas kesediaannya berbagi dan kepada rekan lainnya atas kesediaan memperagakan menjadi pementasan spontan.

Masih ada Cerita yang kedua,

…..Bersambung

Yogyakarta, 26 September 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.