Solusi Terbaik dari Psikolog Belum Tentu Solusi yang Tepat


Kemarin Aku diajak bertemu temannya adikku di rumahnya. Ia baru habis operasi jantung. Ada kelainan di jantungnya yang tiba tiba berdetak terlalu cepat melebihi ambang normal, padahal ia tidak melakukan aktivitas yang berat. Untunglah ia segera mendapatkan penanganan yang tepat dan segera dioperasi, sekarang sudah stabil kembali.

Tadi siang kami makan siang bersama. Sambil makan kami saling bercerita. Ia cerita kondisi tubuhnya, bahwa sekarang ia merasa cepat lelah. Ia takut ada kanker dalam tubuhnya. Kami menguatkan hatinya untuk berpikir positif saja.

Selain itu ia juga bercerita tentang kondisi kantor tempat dia kerja. Kantornya mau pailit, ingin dapat pesangon saja, karena kalau undur diri ia tidak dapat apa-apa. Aku menanyakan darimana ia mendapatkan informasi bahwa kantor tempat kerjanya akan pailit. Ia mendapatinya sendiri beberapa mitra telah membatalkan kontrak.

Ia juga bercerita tentang hubungan industrial di kantornya tidak jelas. Kantornya tidak memiliki Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Kondisi yang wajar jika di tempat kerjanya tidak memiliki Serikat Pekerja. Ia juga mengatakan bahwa HRD nya tidak kooperatif dan memberikan tidak informasi yang lengkap. Aku mendengarkan saja dan memberikan respon yang membuat ia lebih banyak bercerita dengan tetap bersikap netral, karena aku pernah menjadi bagian dari HRD juga. Jadi aku cukup paham situasinya.

Kami berpisah setelah makan siang selesai. Aku bersama adikku dan suami adikku ke Pancoran. Ia bersama Istrinya pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan ke Pancoran, Aku memikirkannya. Aku menduga ia cukup mendapatkan tekanan kerja yang berat, boleh jadi ia mengalami stress kerja. Sakitnya mungkin disebabkan oleh kondisi psikologisnya. Kan aku psikolog, ngliatnya ya pasti dari sisi ini. 🙂

Aku mulai berimajinasi sendiri. Kalau aku dalam kondisinya akan undur diri aja, dan mencari pekerjaan lain yang lebih tenang. Ini adalah solusi yang terbaik.  Di usia setengah baya, sekitar 40 tahunan, adalah kerugian besar berada pada tempat kerja yang tidak nyaman dan menggerogoti badan.

Namun ia bukan klienku, maka aku tidak akan memberikan saran untuk itu. malah nanti aku bisa dibilang sok tahu, dan sok ikut campur urusan orang.  Pasti ada kondisi-kondisi tertentu yang hanya dia sendiri yang tahu, yang karena satu dan lain hal ia tidak dapat mengungkapkannya.

Maka kalaulah ia klienku pun, aku juga tidak akan memberikan saran tersebut secara langsung. Aku akan tetap memastikan bahwa keputusan harus dari dirinya,..terutama dalam menentukan kapan dan bagaimana-nya. Keputusan itu pun sebaiknya juga dimusyawarahkan dulu bersama keluarganya. Resiko bukan hanya dia yang menanggung, dapat mempengaruhi keluarganya juga.

Sebagai Psikolog aku melihat bahwa Keluar dari Pekerjaan adalah solusi yang terbaik, demi kesehatan fisik dan mentalnya. Bagi yang bersangkutan belum tentu demikian.

 

Jakarta, 7 Oktober 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.