Sharing Pengalaman, Psikodrama, Playback Theatre dan Kelahiran Adikku di Yogyakarta


Sebenarnya malam itu Aku belum benar-benar terlelap, Jack. Aku masih saja merasakan emosi-emosi yang tertinggal setelah aku memainkan peran tadi. Biar aku ceritakan lebih detailnya.

Malam itu, aku bertemu mas Didi. Itu loh, seorang praktisi psikodrama yang pernah kamu ceritakan padaku. Siang itu kamu menceritakan bahwa ada istilah “Psikodrama” yang sepertinya perlu aku ikuti kapan-kapan ketika dia melakukannya di Bandung. Lantas aku bertanya disela-sela ceritamu.

“Psikodrama? Apa itu?” kamu bercerita dengan begitu lancarnya aktifitas yang kamu lakukan. Dari mulai kamu menjadi pohon, lalu orang-orang menyentuh pundakmu karena kamu sosok yang mirip dengan yang orang-orang maksudkan. Tak lupa kamu pun menyentuh pundak seorang laki-laki yang katanya mirip dengan sosok ayahmu. Kamu menceritakan ayahmu dengan menangis. Tunggu, sampai menangis? Kapan lagi aku melihatmu menangis sayang? Saat habis terang, kamu bergegas mengantarku pulang.

Tapi, aku pikiranku terus berputar, penasaran, apa yang psikodrama lakukan padamu? Sejujurnya, beberapa kali aku pernah melihat poster yang bertuliskan “psikodrama” itu bersliweran di timelineku. Tapi ternyata aku tidak terlalu tertarik sebegitunya sebelum kau menceritakannya. Pulang pertemuan itu, aku mencari tahu tentang “Psikodrama”.

Ternyata memang ada takdir lain yang berkata. Aku diberi kesempatan untuk bertemu mas Didi, melihat profilnya di Website dan Instagram ternyata kurang cukup untukku. Aku membaca banyak hal tentangnya lewat tulisan-tulisan yang ia kirimkan di Websitenya. “Aneh” sahutku.

Apakah seajaib itu psikodrama sampai-sampai orang yang mengikutinya bisa bermain-main didalam pikirannya. Baiklah. Aku kalah. Ternyata aku malah jatuh takjub.

Aku langsung ditarik main langsung “Playback theatre” . ternyata istilah itu berarti pertunjukan teater spontanitas. Baiklah. Aku ikuti saja. Aku yang memang tidak banyak bicara, mengikuti saja alurnya. Katanya, kita sekarang akan melakukan Tahap pertama yang mas Didi bilang itu adalah warming up.

Beliau menyuruh aku dan yang lainnya berpose seperti pohon yang aku inginkan. Jelas saja yang aku tahu, pohon itu lurus. Ya. Beberapa diantara kami berpikiran sama, yaitu membentuk pohon yang lurus. Namun ada juga yang tiba-tiba tertidur, tiba-tiba ada yang meliukkan badannya bak ranting dan batang yang miring. Tunggu, kenapa? Ternyata bukan mereka yang salah, tetapi aku yang terlalu ingin terlihat benar dan baik saja di depan orang-orang. Setelah itu, kami diajak untuk membuat sebuah situasi dengan hanya menggunakan seutas selendang. Ini cukup menarik. Aku dibuat “boleh salah”. Lama-kelamaan aku juga dibuat menjadi aku yang dapat berkontribusi untuk yang lainnya, dengan menjadi diriku sendiri.

Rasa-rasanya setelah aku menjadi pohonku sendiri, menjadi peran yang turut berkontribusi pada lingkungan sekitar, ada dorongan dalam diri bahwa aku ya memang aku untuk diriku sendiri. Bukan untuk terlihat selalu baik dan benar dihadapan orang banyak. Ya. Itu.

Tahap kedua, kita memulai dengan kata “Action”. Mata mas Didi gencar mencari mana korban yang akan menjadi pemeran utamanya. Ya, ternyata karena aku adalah tamunya. Aku terpilih. Aku diajak untuk duduk diatas kursi dengan tinggi kurang lebih 50 Cm dengan memegang selendang, sedang yang lain duduk dibawah.

Mas didi mulai menanyaiku mengenai nama, umur, lalu mengajakku untuk menceritakan hal yang paling membuatku bahagia pada umur 5 sampai 7 tahun. Tanpa banyak diam, aku dengan spontan menceritakan proses kelahiran adikku yang tentu saja sudah kulupakan sebagian banyaknya. Maklum, itu sudah sekitar 13 tahun yang lalu tepatnya. Tak lebih dari 10 menit aku menceritakannya, mas didi lalu memberikanku beberapa selendang, mengarahkanku untuk memberikan selendang-selendang yang ada, dan memilih orang sesuai dengan peran yang aku inginkan dengan mengabaikan jenis kelaminnya.

Bagusnya, aku memilih ibuku adalah seorang laki-laki, yang selalu kuingat dengan kebaikan hatinya, mirip dengan sosok ini. Dia adalah pak Sardi Beib, seorang seniman pengrajin wayang dari bahan bekas. Cara bicaranya yang lembut mengingatkanku pada Ibu.

Teater dimulai, satu persatu memerankan perannya sesuai dengan kemauanku. Aku mengarahkan alur ceritanya ketika aku berada dalam situasi dimana ibuku melahirkan seorang bayi laki-laki yang ada dalam perutnya, serta ayahku membangunkanku dengan terburu-buru karena si adik akan segera melihat dunia. Semua ceritaku dibuat seolah terjadi kembali oleh peran-peran yang ada.

Lalu, diakhir cerita, mas Didi bertanya, apakah ini sudah sesuai dengan bayanganmu? Aku bilang belum. Ada cerita yang terpotong. Loh? Tiba-tiba kejadian 13 tahun lalu kembali kuingat. Potongan puzzle yang tadinya hilang banyak, sedikit-sedikit mulai tersusun kembali menjadi satu. Aku, memperbaiki alur ceritaku dengan menambahkan potongan puzzle yang tadinya tidak ada, menjadi sebuah alur cerita yang utuh. Aku mengingatnya ketika mereka semua memerankan ceritaku. Aku, diajak menelusuri kehidupanku pada saat umurku 7 tahun. Tunggu, perasaan apa ini? Haru sekali rasanya. Tak sadar ternyata, aku meneteskan air mata akibat dari emosi yang kurasakan itu. Campur aduk. Sampai dalam hati aku berontak “Perasaan apa ini?”

Semua adegan demi adegan telah terselesaikan. Cukup sempurna., Semua ikut berbahagia. Dan Aku, kembali meneteskan air mata. Bukan sedih, melainkan emosi ketika aku mendapati kejadian bahwa adikku akan segera dilahirkan kembali terasa nyata. Aku tersenyum sayu. Rasanya ingin kupeluk semua pemain. Berterima kasih atas rasa yang pernah aku alami, kembali terjadi lagi. Setiap detailnya, aku nikmati. Hahaha ketika menulis ini, ternyata “rasa”nya masih ada. Aku kembali ke dimensiku dulu.

Sebuah keajaiban dari Psikodrama ini mungkin tidak akan aku lupakan. Rasanya, mungkin tidak akan aku lupakan. Emosinya, ini mungkin ini tidak akan aku lupakan. Ku khususkan terima kasihku kepada Jaka, laki-laki yang membuatku tertarik untuk mengetahui psikodrama, Mas Didi yang dengan gayanya mengenalkanku lebih jauh apa itu psikodrama, Pak Sardi Beib yang memerankan ibuku dengan sangat total sampai terasa, untuk mang Goj*ek yang mengantarkanku pulang dengan selamat sehingga aku bisa menulis cerita ini, serta semua pemain yang dengan ikhlasnya memerankan peran yang aku inginkan.

Terima kasih

Tertanda

 

 

Tia

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Sharing Pengalaman, Psikodrama, Playback Theatre dan Kelahiran Adikku di Yogyakarta”

    1. …dari sharing setelah pertunjukkannya, kawan kawan yg terlibat dapat menangkap perasaan Tia tsb…dan mereka turut senang menjadi bagian dalam prosesnya. Selain itu, beberapa mengungkapkan juga kenangan pribadi yang mirip dengan cerita Tia, dengan perasaan yang menyertainya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.