Masa Persiapan Pensiun dengan Metode Psikodrama


Pensiun adalah masa depan yang perlu dipersiapkan,…ya pensiun adalah akhir dari menjadi karyawan dan juga awal menjadi pribadi yang merdeka.

Hal tersebut tergantung dari sudut pandang masing masing. Ada lho, orang merasa bahwa pensiun berarti purna juga tugas hidupnya, dan perlahan “tanpa sadar” menyiapkan diri untuk “segera” kembali pada Sang Pencipta. Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan,..bahkan untuk menikmati hidup pun,…merasa tidak perlu,..lak ya ngenes…tho? Rumangsane yen wis pensiun tidak lagi punya “hak” untuk bahagia di dunia, sehingga ingin segera menuntut hak kebahagiaannya di surga.

Tentunya tidak seperti itu yang diharapkan, maka masa pensiun perlu dipersiapkan, perlu dirancang agar dapat menjadi tahap selanjutnya dari proses kehidupan. Psikodrama menawarkan cara untuk persiapan ini.

Psikodrama mengangkat Tema: Learning From the Future, dengan menggunakan 3 tahapan Psikodrama, sebagai alur utamanya. Protagonis diajak ke masa depan, mengalami langsung sukses menjadi Pribadi yang bahagia dalam masa pensiunnya (dalam situasi Surplus Reality ). Teknik utama dalam tahap Actionnya adalah imagery ke masa depan. Pendalamannya dapat menggunakan teknik role reversal (tukar Peran), dengan dibantu oleh Pembantu Protagonis, Protagonis diajak melakukan Self Talk, Protagonis masa depan menasehati Protagonis masa kini.

Dinamika yang diolah meliputi 3 Instrument utama yaitu Tubuh, Rasa dan Pikiran.

Pertama perlu Kesadaran Tubuh, bahwa dengan berjalannya waktu tubuh mulai merapuh, sehingga perlu disadari untuk menjaga kesehatan dan kondisi kebugarannya. Kesadaran akan tubuh ini jadi pertimbangan aktivitas apa yang nanti dapat dilakukan selama masa pensiun. Jikalau tidak lagi mampu dalam beraktifitas produktif, yang berarti dapat menghasilkan pendapatan, paling tidak dapat melakukan aktivitas yang tidak mengeluarkan biaya. Hampir bisa dikatakan tidak ada seorang pun berkeinginan bahwa di masa pensiun malah sakit dan mengeluarkan banyak biaya, maka kesehatan dapatlah dijadikan prioritas utama dari masa pensiun ini, agar lebih dapat menikmati hidup. Jadi Masa Pensiun adalah masa lebih menikmati hidup dengan kondisi tubuh yang bugar.

Kedua adalah Kesadaran Rasa, bahwa situasi dan kondisi akan berubah. perasaan yang sekarang dirasakan tentunya juga akan berubah. Kegembiraan kesedihan, suka dan duka yang didapatkan dalam suasana kerja akan berubah. Dinamika rasa apa yang nanti akan dapat kugapai lagi dalam masa pensiun? Darimana nanti mendapatkan rasa itu, dari keluarga, dari teman, dari hobby, dari bertamasya dll. dan yang lebih penting lagi adalah belajar melepas Rasa. Melepas Rasa dari teman dan sahabat di tempat kerja, dari bawahan, dari atasan dari tetangga dari keluarga, ada rasa yang berbeda, rasa (penghargaan, sikap) orang-orang saat melihat kita memiliki status atau kedudukan, akan berubah saat kita pensiun. ada rasa yang perlu di lupa dan ada rasa yang perlu dicipta. Dapatkah aku tetap merasa berguna, bermanfaat dan bermakna dalam masa pensiun nanti?

Ketiga adalah Kesadaran Pikiran, bahwa nanti saat pensiun tiba, semuanya tidak lagi sama. Aktivitas sehari-hari akan berbeda, orang-orang yang ditemui juga akan berbeda, lingkungan yang dijadikan tempat aktivitas berbeda, respon dan feedback yang diterima juga berbeda. Apakah sudah menyiapkan aktivitas baru nanti saat pensiun? Aktivitas produktif yang menghasilkan profit? (misalnya usaha kecil menengah, beternak, bercocok tanam) Aktivitas Hobby, yang selama ini tidak atau belum sempat dilakukan (misalnya Fotografi, berlibur bersama keluarga, berkesenian) atau aktivitas sosial kemasyarakatan (misalnya komunitas burung berkicau, komunitas sepeda sehat, komunitas sosial peduli korban bencana, komunitas sosial peduli seni budaya, dll). Apakah aku sudah mengetahui dan memilki pemahaman yang cukup akan hal-hal yang akan aku lakukan nanti?

Ketiganya memang tidak terpisahkan, pemilahan ini untuk memudahkan dalam pemahaman saja. intinya mengajak pada kesadaran diri bahwa masa pensiun perlu dipersiapkan.

 

Yogyakarta, 20 Oktober 2019

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.