Menahan Diri, Serial White Rose (3)


Hai hai semua… aku D5 kembali lagi… aku bukanlah anak manja lagi saat ini. Tapi aku akan melanjutkan kisahku.

Kakak sekalian disaat aku memilih untuk mencoba selalu tersenyum, disanalah segalanya terjadi. Kelas 5 SD adalah awal dari semuanya. Mungkin aku terlalu cepat dewasa, harusnya aku bermain dengan kawan kawan dan sebagainya. Akan tetapi sejak sakitku mulai, aku tidak memiliki teman. Mereka mengganggapku merepotkan. Saat itu aku tau bahwa aku hanya merasakan kesendirian. Orang tuaku sering bertengkar dan membuatku semakin banyak yang dipikirkan yang seharusnya seusiaku tidak memikirkannya. Aku kerap dibuli di sekolah hanya dikarenakan aku penyakitan serta menjadi anak emas dari guru kelas, tapi aku harus tersenyum biar tidak membebani keluargaku, terutama saat itu adeku. Adeku yang lucu dan penuh semangat mengganggapku kakak yang luar biasa dan selalu tersenyum. Buatku saat itu senyumanku adalah rasa sakit yang terus datang dan datang. Mukaku harus menunjukkan kebohongan dibalik senyuman buat keluargaku. Air mata, kemarahan dan semuanya… hanya ada di luar rumah.

Kakak sekalian… kejadian ini berlangsung hingga aku naik kelas hingga SMP. Rasa sakit yang harus aku tanggung membuatku selalu menahan diri dari rasa sakit ini. Aku sering pingsan dan kejang kejang. Aku ga bisa menahan semua ini lagi. Masa SMPku dalah masa neraka buatku.

Di sekolah seakan aku tidak memiliki hak untuk apapun, hanya bisa memiliki hak menerima bulian, baik perkataan, tindakan bahkan sexual. Saat itu aku berpikir untuk menghilang dari dunia ini. Berkali kali aku melakukan percobaan bunuh diri tanpa keluargaku tau…. walo akhirnya tau. Bahkan aku lakukan di hadapan teman teman sekolahku dan tau kakak sekalian… apa yang mereka lakukan? Bukan menolong, bukan perhatian, tetapi mereka tertawa begitu lantang, mereka semakin menghina “dasar aib sekolah… emang ga pantas ada di sekolah kita” “dasar babi busuk.. mati sana…” dan serangkai kalimat menghibur lainnya. Bahkan aku tidak memiliki hak untuk menyukai seseorang. Di saat aku menyukai seseorang maka banyak teman teman sekolahku membuatku semakin depresi dengan perkataan mereka melalui surat yang ku kira itu adalah surat balasan dari seseorang yang aku sukai. “eh… dirimu ga pantas jadi pacarku.. bikin malu” “bilang cinta? Mati saja…” dan serangkai kalimat menghibur lainnya.

Dan aku mengetahuinya bukan cewek itu yang menulisnya melainkan teman teman yang lain. Bahkan saat aku masuk rumah sakit, tak ada yang menjengukku, tak ada ucapan. Bahkan saat kembali ke sekolah dari keluar rumah sakit…. aku hanya mendapatkan kalimat penghibur. Semuanya aku berusaha menahan diri, pulang ke rumah dalam keadaan tersenyum dan tertawa. Disaat aku diluar rumah…. aku menangis aku teriak di tempat yang orang orang tak memperdulikannya. Aku selalu ingat kata ayahku soal tersenyum. Disaat itu aku memiliki motto “SMILE CAN CHANGE THE WORLD” artinya senyuman bisa mengubah dunia, walau aku tak tau apakah bisa mengubah dunia…

Kakak sekalian… saat itu aku harus bertarung dengan diriku sendiri, yang satu meminta untuk melawan, yang satu memintaku berdiam dan satu meminta aku memaafkan. Disaat itu usiaku hanya kelas SMP… aku tak mengerti apa apa. Aku bingung dan bimbang. Aku selalu merasa sendiri walau ada beberapa orang berusaha menyemangatiku, tapi saat itu pikiranku hanyalah kematian bahkan aku selalu melakukan untuk bisa menjadi kematian yang nyata. Bahkan aku marah sama Tuhan dan mengutukNYA sampai aku merobek Alkitabku sendiri.

Aku marah saat itu… aku kecewa… aku tersiksa tapi perlahan aku menikmati siksaan ini, aku jadikan penghiburan buatku. Aku tak mencari masalah untuk mendapatkan penghiburan itu, tapi bila penghiburan itu datang menghampiriku… aku merasa senang dan puas, karena napa kak? Karena aku tidak salah, bukan aku yang memulai. Aku ga mau membuat kekacauan yang membuat aku mendapatkan penghiburan, tapi aku mendapatkan penghiburan karena dia… merasa benar.

Masa SMPku adalah masa dimana aku mendapatkan kedewasaan mendadak. Dimana aku belajar menahan diri dan tak membalas mereka dengan perlakuan yang sama seperti mereka lakukan padaku. Buatku cukup aku yang tersiksa dan aku memilih diriku sendiri berjuang sendiri tanpa orang lain tanpa Tuhan…. dan saat itu aku memilih jalan itu…

Kakak sekalian.. sampai disini dulu kisahku… selanjutnya akan aku ceritakan kembali kisah selanjutnya…

Terima kasih dan sampai berjumpa

Bandung, Desember 2019

D5

&&&&&

Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga boleh disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.