Inilah Semestinya, Serial White Rose (4)


Apa kabar kakak sekalian.. gimana kabar hari ini? Pastinya penuh dengan semangat. Yuk kita lanjutkan kisah D5.

Kisah sebelumnya di masa SMP, masa neraka udah melebihi neraka saat itu, tapi saatnya naik kelas, kalo mau diceritakan rinci mungkin nanti ada di bab bab selanjutnya… tapi kali ini aku mau mengisahkan yang sederhana sederhana aja dulu, ga panjang panjang dulu. Ok.. karena aku dah naik kelas… berarti saatnya aku naik ke SMA. Dimana SMA dalah awal dari semua yang baru.

Saat aku memasuki SMA, pikiranku saat itu hanyalah kesamaan dimasa SMP, pasti ada pembulian yang terjadi dan passti aku akan mendapatkan penghiburan yang aku inginkan. Saat itu aku berharap penghiburan itu benar benar terjadi.

Disaat ospek, pikiranku entah ngelantur kemana mana, tapi aku menjalankan sebagaimana mestinya seorang siswa yang mengikuti ospek. Disaat istirahat keisenganku tumbuh lagi, entah saat itu aku hanya mau menulis entah apa itu, cukup panjang dan ribetlah. Disaat tulisanku selesai… tiba tiba kakak kelas merebut dengan cepat maksudnya mengambil dengan cepat tulisanku itu. Aku tak kuasa untuk marah or gimana, aku ga tau marah itu seperti apa. Aku berharap dari puisi itu aku dapat penghiburan yang aku inginkan sama seperti di masa SMP. Akan tetapi hasilnya diluar dugaan. Ku kira penghiburan yang aku dapatkan melainkan sebuah penghargaan, aku disuruh baca puisiku depan semua orang saat penutupan ospek dan para kakak kelas menyukai puisiku itu. Entah aku merasa sedih atau senang, semua bercampur.

Aku berpikir beberapa hari kemudian, apa maksud perasan ini, aku hanya ingin penghiburan bukan penghargaan, aku sama sekali tidak mengerti arti penghargaan atau diakui, tapi napa mereka bisa membuatku diakui? Aku berpikir dengan keras apa maksud semua ini. Setelah aku berpikir cukup jauh, aku baru mendapatkan maksudnya.. seseorang bisa diakui keberadaannya bisa mendapat penghargaan bila seeorang itu menunjukkan karya pada semua orang. Dan aku mulai paham dari itu.

Di sekolah juga aku sama sekali tidak dapat penghiburan yang ku inginkan, tetapi mereka ga terlalu memperdulikanku, dan aku juga ga memperdulikan mereka, buatku… berkarya puisi lebih penting dari pada ngobrol sama yang lain… pokoknya puisi adalah jalanku, ga perduli dengan sekitar. Hingga ada dua teman yang satu temen sekelas yang satu teman di kelas yang berbeda, mereka berdua seperti penasaran denganku yang tak pernah mengobrol dengan yang lain, bahkan tidak pernah jajan, pulang selalu sendiri. Mereka terus menggangguku untuk berkarya. Mereka selalu menggangguku tiap hari di sekolah hanya untuk jajan bareng mereka. Sehari seminggu sebulan dua bulan sampai lima bulan mereka terus mengganggu dengan perkataan yang sama “jajan yuk….” “pulang bareng yuk….” tapi aku selalu menolak mereka berdua, hingga aku merasa jengkel dengan perkataan mereka untuk mengajakku, dan saat bulan ke enam aku terpaksa mengiyakan ajakan mereka dengan maksud biar mereka ga mengajakkua lagi. Ini yang pertama dan terakhir pikirku. Akhirnya aku jajan bersama mereka, tapi ternyata bukan hanya bertiga tapi lebih dari itu, ternyata mereka juga penasaran denganku yang selalu di kelas dan udah jadi perbincangan sekolah.

Mereka memperhatikanku dan ingin tau tentang diriku, tapi saat itu aku ga tau gimana memulai sebuah perckapan, aku hanya bisa menjawab dengan sederhana “ya…” “ga..” “mungkin…” sesederhana itu aku menjawab dulu. Mereka seakan memahamiku dan mereka tetap berusaha mengajak ngobrolku. Banyak pembahasan yang aku sama sekali tidak mengerti maksudnya apa, tapi seakan mereka ga perduli aku ngerti atau ga yang penting mereka mengajakku untuk berdiskusi dan mengobrol. Setelah semua itu…. aku mendapatkan perasaan yang aneh dalam diri, kembali lagi akan pertentangan dalam diri memilih antara puisiku atau teman. Disaat itu aku sama sekali bingung dan ga tau harus gimana. Beberapa kali aku harus menolak mereka, tapi sesekali aku ikut jajan bersama mereka. Entah perasaan apa ini.

Tau ga kakak sekalian…. disaat itu pertama kalinya aku memberanikan untuk bertanya pada teman SMAku dan terkejutlah aku saat pertanyaan itu aku lemparkan… mereka yang ada duduk denganku bertepuk tangan, awalnya aku kaget maksudnya apa… apakah aku akan mendapatkan penghiburan…. tapi ga… itu sebuah penghargaan karena aku berani untuk mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan… buat mereka yang bertepuk tangan adalah aku akhirnya bisa bertanya.

SMAku mengajarkan hal yang cukup penting dalam sebuah diskusi atau percakapan, bahkan gimana untuk mendapatkan teman, secara tidak langsung aku diajarkan untuk mengerti situasi dan menganalisa secara sendirinya, aku mulai mengerti apa yang kurang dari diriku, saat itu dibantu oleh dua temanku itu. Mereka setia kawan, selalu membantu, bahkan mereka membantuku untuk meneliti ddiriku sendiri. Kita bertiga sudah seperti sahabat saat itu, tapi itu g bertahan lama karena kelulusan.

Tapi aku menyadari saat itu bahwa diriku berharga dan bisa melakukan banyak hal dan mulai saat itu, jiwa keisenganku perlahan mulai muncul sedikit demi sedikit. Bahkan aku mempunyai pacar ya bisa dibilang aku jadi playboy hehehe…..

Yah… itulah masa SMAku kakak sekalian… selanjutnya akan lebih menarik… tunggu ya kisah selanjutnya……….. makasih….

Bandung, Desember 2019

D5

&&&&&

Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga boleh disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.