Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna


Ini bukan tulisan politik, aku tetap dalam tema psikologi dengan penerapan yang lebih luas. Perlu aku sampaikan dulu agar tidak “merasa tertipu” oleh judulnya. Aku mau mengangkat tema bahwa Kehadiran adalah penting.

Apa yang menjadi dasar pertimbangan Presiden Jokowi, perlu hadir ke Natuna? Banyak penjelasan bisa didapatkan dari berbagai sudut pandang. Aku melihat dari impact yang terjadi saja. Fakta menunjukkan bahwa setelah Presiden Jokowi datang ke Natuna, Kapal-kapal Asing dari China keluar dari perairan Indonesia. Keributan di Media Sosial perihal issu Natuna juga mereda.

Contoh lebih nyata, adalah bagi pasangan sejoli yang menjalin hubungan romantis dengan LDR (hubungan jarak jauh). Setiap hari bisa melakukan VC (video Call), dapat ngobrol dengan saling melihat wajah. Rasanya tetap berbeda ketika bertemu langsung, ada kehadiran fisiknya. Apalagi jika ada anak sebagai buah hati mereka. Perjumpaan dalam kehadiran menjadi saat yang istimewa.

Contoh lagi dalam perhelatan pesta pernikahan, bagi pasangan sejoli dan keluarganya. Bayangkan jika tidak ada yang hadir, meskipun sumbangan bisa ditransfer berapa besarnya tidak dapat menggantikan pentingnya kehadiran.

Pengalamanku barusan tadi sore, bertemu dengan kawan lama. Kami membicarakan tentang keinginan untuk kerjasama. Bahan pembicaraan sudah  diinfo lewat WA, pertemuan hanya mengulang materinya, namun rasanya lebih mantab dan membangkitkan semangat. Kami merasa ada kesungguhan, komitmen dan totalitas.

Pelajaran yang dapat diambil dari pentingnya kehadiran ini,

Bagi pimpinan apabila memberikan instruksi atau pun mengevaluasi, meskipun dapat dilakukan dengan pesan elektronik, atau telpon, perlu bertemu dan hadir, agar anak buah dapat merasakan komitmen dan kesungguhan sebagai satu team.

Bagi pribadi dalam hubungan sosial, meskipun dapat saling berkabar lewat media sosial, telpon, atau bahkan video call, tetaplah coba bertemu, hadir ngopi bareng saling bercerita, bercanda melihat langsung ekspresi muka, gerak tubuh, intonasi bicara, desah nafas, spontan dan otentik. Rasanya pasti beda. Ada impact yang lebih. Rasa persahabatan, kekeluargaan, saling peduli lebih kuat, bahkan jika merasa kesepian pertemuan atau kehadiran dapat menjadi obat utama.

Bukankah sering saat kita sakit ada perasaan lebih baik saat ada yang berkunjung?

Bukankah sudah banyak dikabarkan pentingnya silaturahmi?

Yogyakarta, 14 Januari 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna”

Tinggalkan Balasan ke retmono Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.