Latihan Bersyukur Sederhana dengan Melihat Pengalaman Masa Kecil


Aku ikut Group WA Latihan Rohani, yang dibimbing oleh Romo Sunu. SJ. Kami bergabung dari kebersamaan kami mengikuti lokakarya Latihan Rohani di Pusat Spiritual Girisonta Ungaran Kabupaten Semarang. Waktu itu Romo Sardi SJ yang mengampu dan Romo Sunu SJ, mengisi materi Latihan  Rohani dalam kehidupan sehari hari. Kami tertarik dengan sharing beliau, kemudian ingin lebih lanjut memahami Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari. Romo Sunu SJ, bersedia membimbing kami jarak jauh melalui Group WA.

“Saya mau menemani teman.-teman untuk belajar MENGOLAH DIRI supaya pada gilirannya Anda semua bisa menolong orang lain mengolah diri dan menjalani Latihan-Latihan Rohani.
Prinsip dasar KITA BELAJAR BERSAMA-SAMA. Kita akan lebih mendengarkan.
POKOK Latihan Rohani adalah DOA.
KUNCI Latihan Rohani adalah REFLEKSI”

Latihan ini adalah latihan bersyukur dengan metode Kontemplasi sederhana. Kontemplasi dari kata ‘contemplor’ bahasa Latin yang artinya melihat.
Doa kontemplasi adalah doa dengan metode MELIHAT peristiwa.

Kunjungilah lagi peristiwa atau pengalaman itu dan SYUKURI.
Lihat…. syukuri
Dengar…. syukuri
Rasakan … syukuri
Lihat, dengar, rasakan….. syukuri.

Aku akan menuliskan pengalaman masa kecilku yang membahagiakan.

Pada saat itu Lebaran. Dalam keluarga besarku memiliki berbagai keyakinan, Katolik, Protestan, Muslim dan Kejawen. Tiap perayaan hari Raya apa pun selalu kami rayakan bersama.

Usiaku kurang lebih 4 tahun. dan adik perempuanku sekitar 2 tahun, sementara adikku yang satunya belum lahir. Di rumah nenek yang kami tempati bersama. Rumah berdinding kayu, dengan meja dan kursi kayu. Di meja kayu itu ada nyamikan makanan kecil, emping kacang bawang, rnengginang, suguhan khas lebaran. Bapak dan Pak Dhe duduk di kursi sambil tersenyum kami. Aku dalam rengkuhan tangan ibuku yang menggendong adikku. Aku memeluk kaki ibuku. Kakak laki-lakiku, anak dari Pak Dhe menyalakan petasan di halaman depan rumah yang cukup luas. Aku menutup telingaku. Aku tidak menangis. Aku  merasa aman dan nyaman dalam rengkuhan tangan ibu. .

Itulah gambaran yang aku ingat, meski ada beberapa yang terlupa, namun perasaan aman, bahagia dapat kurasakan kembali.

Dari peristiwa itu aku berefleksi, kebahagiaanku adalah saat aku bersama keluarga, bersama orang orang yang kucintai dan mencintai aku. Aku merasa betul betul orang Jawa, dengan ujaran “Mangan Ora Mangan Kumpul”.

Dapatlah kupahami sekarang, bahwa kehidupan bersama selalu kurasa. Waktu dulu kanak-kanak, ada Ayah, Ibu, Pak Dhe, Bu Dhe, Nenek, Kakek, Adik, Kakak, memberikan itu. Waktu Remaja ada kawan-awan, dan para sahabat. Sekarang aku masih merasakannya, keluargaku, teman-temanku, sahabat-sahabatku. Aku bersyukur.

 

Yogyakarta, 18 Januari 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.