Ceritaku Hari Ini, Komunitas Caregiver ODGJ di Yogyakarta.


Hari ini aku ikut Misa khusus untuk Komunitas Caregiver ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) Yogyakarta. Beberapa orang saja yang hadir, tidak lebih dari lima belas orang. Aku senang mengikuti misa dengan sedikit yang hadir, terasa lebih akrab dan menyatu.

Komunitas Caregiver ODGJ ini dibentuk tahun lalu, bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki anggota keluarga berkebutuhan khusus, dalam hal ini memiliki gangguan jiwa. Juga menggumpulkan orang orang yang peduli terhadap Caregiver, agar saling berbagi, sharing, saling menguatkan. Di inisiasi oleh Bu Rini dari Jakarta, yang sudah ada komunitasnya, menularkan kepedulian itu di Yogyakarta.

Kegiatannya untuk sementara ini setiap bulan bertemu, untuk Misa dan Sharing. Kali ini aku ingin menuliskan, karena bulan depan akan bertemu dengan menggunakan Psikodrama.

Dalam kotbah Misa tadi, ada yang sharing pengalamannya menjadi Caregiver. Setelah Misa kami berdiskusi untuk rencana pertemuan bulan depan yang akan diisi dengan Psikodrama. Beberapa peserta menanyakan bagaimana Psikodrama itu. Aku jelaskan secara garis besar, bahwa cerita sharing pengalamannya nanti dipertunjukkan, agar lebih terasa kebersamaannya. Tentu saja sebelumnya ada pemanasan, atau persiapannya dan setelahnya diintegrasikan, direfleksikan. ( Tahapan Psikodrama)

Mereka ingin saat ini juga di praktekkan. Aku lalu menggunakan sharing tadi saat misa untuk praktek contohnya.Β  Aku tanyakan ulang bagian mana yang akan kita mainkan. Ada apa saja di sana saat itu. Siapa saja yang ada di situ. selanjutnya aku minta untuk memilih yang hadir untuk menjadi hal-hal itu. Ada yang jadi Jendela Berteralis, ada yang jadi Piring, ada yang jadi Makanan, ada yang jadi Meja Kursi dan Besi berserakan di Teras. Ada yang jadi Protagonis (Caregiver) dan ada yang jadi ODGJ-nya.

Dengan teknik Sculpture, aku atur komposisinya seperti cerita Protagonis. Selanjutnya dengan Mirorring aku ajak protagonis melihat peristiwa itu kembali, dan merasakan lagi situasinya. Selesai, ditutup dengan teknik de-rolling.

Ya, sepintas demikian contohnya, kami duduk melingkar lagi dan aku menjelaskan beberapa hal teknis, bahwa sebelum hal tersebut dilakukan perlu ada pemanasan. Pemanasan dalam hal ini untuk membangun saling percaya dan kesediaan saling mendukung, agar saat “permainan” banyak yang terlibat. Terlibat baik secara fisik (gerak), pikiran dan perasaannya.

Waktu habis, karena ruangan akan digunakan kegiatan selanjutnya. Kami bubar dengan kesepakatan tanggal 23 Februari 2020, akan bertemu lagi. Ada yang tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain, namun ada juga yang akan mengajak kawan baru lagi. Tempatnya akan ditentukan kemudian.

Terima kasih.

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.