Ternyata Pompa Airku tidak Rusak


Sejak Oktober tahun lalu pompa air itu tidak dihidupkan. Air sumur surut karena kemarau panjang, sementara kami memakai air PAM, hingga awal Januari ini. Hingga turun hujan dan air permukaan sumur naik lagi.

Aku mencoba menghidupkannya, namun air tidak dapat naik terpompa. Pak RW yang sekaligus pemilik rumah yang kusewa menyarankan agar di pancing dulu. Aku lakukan memancing air, yaitu memasukkan air ke pompa agar menyedot air yang di bawah. Tidak berhasil juga.

Aku ulang beberapa hari berikutnya, masih belum berhasil. Pompa tetap bekerja, namun air tidak mengalir ke atas untuk mengisi tandon. Aku diskusikan dengan pak RW kemungkinan klep yang dibawah, di dalam sumur, terlepas atau rusak sehingga air yang tersedot tidak kuat naik namun turun lagi.

Aku telpon Hendro, teman yang menginstal pompa air itu. Ia masih ada di luar pulau, baru balik Jogya sekitar tanggal 20an Januari. Wa bakalan masih lama lagi. Aku tetap berharap bahwa Pompa itu tidak rusak, dapat menyedot air ke atas. Aku lakukan lagi memancing air, masih tetap gagal.

Seminggu yang lalu, kami memanggil tukang ke rumah untuk membetulkan talang belakang, yang bocor besar. Mereka berdua datang dan memeriksa talangnya, sekalian memerkirakan biaya bahan dan biaya tenaganya. Aku sempatkan menanyakan  apakah mereka bisa sekalian membetulkan pompa air juga. Mereka jawab bisa lalu salah satu memeriksa pompa airnya.

Pompa airnya kami pasang otomatis, jika colokkannya dimasukkan, dan tandon kosong akan On, hidup menyedot air. Apabila air penuh pompa air akan mati sendiri meski colokan tetap menancap. Aku tancapkan colokan dan pompa hidup.

Ia memeriksa sejenak dan katanya, “Apa sudah dipancing?”

“Sudah beberapa kali aku pancing, namun air tetap tidak naik”, jawabku sambil berjalan mengambil air dengan menggunakan gayung untuk memancing air.

Belum sampai aku serahkan gayung itu, aku lihat air sudah muncrat keluar.

“Loh, kok bisa airnya naik?” tanyaku sambil keheranan.

“Ini, ada yang harus dibuka, untuk mengeluarkan angin”, jelasnya sambil menunjuk lubang yang tertutup, setelah ia buka tadi. “Lama kering jadi terisi angin, yang harusnya air, jadi kalau pun pompanya nyala, airnya tidak mengalir karena tertahan udara. Aku buka sebentar lalu kututup lagi, airnya masuk dan menyedot air yang dari bawah. Beres deh, tidak ada yang rusak,” jelasnya lebih lanjut sambil kami berjalan masuk rumah.

Ternyata pompa airku tidak rusak. Aku ucapkan terima kasih padanya, sebelum mereka pulang, untuk persiapan keesokan harinya membetulkan talang.

Aku merefleksikan peristiwa ini, dengan menggunakan metapora. bahwa Air adalah Rejeki, Pompa air adalah sarana, atau alat lewatnya rejeki itu. tukang adalah orang lain yang menolong.

Jadi Akhir tahun lalu, rejeki masih belum mengalir dari sumur biasanya. Atas pertolongan orang lain, serta harapan yang terus kuyakini akhirnya lancar kembali. Aku maknakan tahun 2020 ini, ada orang lain yang membantuku sehingga rejeki akan lancar. Amin.

Yogyakarta, 20 Januari 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.