Empat Momen Doa dapat Menjadi Alur dalam Bibliodrama


Akhir tahun 2019 lalu, aku mengikuti lokakarya tentang Latihan Rohani, oleh Romo Sardi SJ, di Pusat Spiritual Girisonta. Ada pelajaran yang menarik yang di sampaikan oleh Beliau tentang momen doa. Ada empat Momen Doa yaitu :

  1. Mendengarkan Sabda
  2. Memandang Sabda yang menjadi Manusia 
  3. Menanggapi Sabda
  4. Mewujudkan Sabda

Aku punya bayangan untuk mengaplikasikannya dalam Retret dengan Bibliodrama. Jadi secara keseluruhan Retret dengan Bibliodrama disetting dalam suasana Doa.

1. Mendengarkan Sabda

Pada sesi Pemanasan Momen pertama ini dapat dilakukan. Peserta membuka Kitab Suci-nya, (misalnya Bacaan tentang Kelahiran Yesus). Salah satu Peserta dapat diminta membacakan dengan keras, agar dapat didengarkan oleh yang lainnya. Selanjutnya bisa juga diminta tiap orang membaca per kalimat dengan keras bergiliran hingga bacaan selesai. Tekankan bahwa pada saat ini yang penting mendengarkan saja, tidak perlu berpikir tentang makna atau maksudnya, cukup dengarkan dan resapkan.

2. Memandang Sabda yang menjadi Manusia

Setelah mendengarkan, peserta diajak melakukan Doa Kontemplasi, doa dengan melihat. (Kontemplasi dari kata ‘contemplor’ bahasa Latin yang artinya melihat. Doa kontemplasi adalah doa dengan metode MELIHAT peristiwa, ~ Rm Sunu SJ) . Peserta duduk tenang, santai rileks, tidak bersandar, membayangkan peristiwanya (dari bacaan), misalnya : Gembala, Bintang, Malaikat, Gua, Palungan, Bunda Maria, Santo Yusuf, Domba, Rumput, Sapi, Potongan Kayu, Anjing Gembala, Tongkat Gembala, Pasir, Pohon kaktus, dll. Membayangkan seperti melihat film bioskop, bergerak dan hidup. Amati dengan teliti detailnya, bagaimana ekspresi wajah tiap tokoh, bagaimana gerakan tubuhnya, kira kira apa yang dirasakan oleh tiap tokoh, peran. Bahkan mungkin dialog yang ada dapat didengarkan, atau disuarakan dalam hati.

3. Menanggapi Sabda

Selanjutnya saatnya menanggapi Sabda. Dari peristiwa yang dilihat, peserta diajak untuk memikirkan peran apa yang ingin dimainkan. . Apa yang menjadi gerak batin, dalam peristiwa itu “aku” ada dimana, aku menjadi apa, siapa, dan bagaimana. Ajak untuk terlibat dalam peristiwa tersebut.

Sekitar 3 menit saja waktu diberikan, dan tiap peserta diminta mengutarakan peran yang dipilih.

Contoh : Aku menjadi Anjing Gembala Kecil yang berlarian di seputaran Palungan Bayi Yesus.

4. Mewujudkan Sabda

Pada tahap Role Play, seluruh peserta diajak mewujudkan pilihannya, memainkan, menghidupkan itu semua. Role play dapat diawali dengan teknik Sculpture, membuat patung patung terlebih dahulu. Patung-patung yang nampak hidup, sambil menyadari posisi dan interaksi setiap peran.

Bila patung-patung telah membentuk Diorama itu, sudah mantap dan bagus, boleh juga di foto dulu agar ada kegembiraan dan kenangan, saatnya memainkan secara spontan. Dukung keberanian untuk berimprovisasi spontan. Bangun suasana boleh salah, makin banyak makin banyak belajar. Pastikan semua terlibat, menjadi pemain.

Refleksi dan Sharing

Setelah memainkan Bibliodrama tersebut, saatnya untuk refleksi. Refleksi dilakukan dengan mengulang Momen Doa ketiga, yaitu Menanggapi Sabda.

Peserta diajak merenungkan pengalaman ber-Bibliodrama tadi. Bagaimana perasaannya. Apa pelajaran yang didapatkan dari pengalaman itu. Dan lebih mendalam lagi, Apakah yang aku lakukan sudah sesuai dengan Kehendaknya? (Pastikan bahwa pemahaman ini diproses sendiri oleh tiap pribadi. Karena mencari dan berusaha sendiri, meskipun kecil atau singkat adalah milik sendiri. Hal ini yang akan menstranformasi diri!).

Contoh : Aku menjadi Anjing Gembala kecil yang berlari di seputaran Palungan  Bayi Yesus. Aku merasa bukan Gembala bukan Pastor atau Biarawan, namun aku berperan juga menjaga domba-domba, turut membantu Pastor dalam menggembalakan umat.

Selanjutnya persiapan untuk Momen Doa keempat, Mewujudkan Sabda, dengan berkomitmen terhadap diri, Apa hal baru yang akan aku lakukan dalam kehidupan sehari-hari nanti sepulang acara ini.

Contoh : Aku nanti akan terus menjadi Pembimbing retret dan Pembimbing Rohani, (lebih tepatnya Psikologi) dengan mengaplikasikan pengetahuan Psikologi, Psikodrama, dan Bibliodrama untuk membantu orang lain menjadi lebih baik. 

Semua hasil disharingkan, tiap peserta mengungkapkan kepada seluruh peserta dalam lingkaran. Sharing ini dikemas dalam setting doa Umat (doa mohon rahmat) yang khidmat agar merasuk dan menjadi tekad.

Catatan Penutup

Perwujudan Doa adalah Tindakan sehari-hari. Dalam hal ini Momen Doa Keempat, Mewujudkan Sabda, juga ada pada tindakan sehari hari. Tindakan yang bagaimana yang merupakan Momen Doa Keempat ini? Aku mengambil hasil dari Lokakarya Diskresi oleh Rm Sardi SJ,  indikator Keputusan Hasil Diskresi, yang aku anggap setara dengan Mewujudkan Sabda, Momen Doa Keempat, yaitu :

  1. Tindakan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari, wajar dan logis sesuai norma masyarakat.
  2. Sesuai dengan Kitab Suci, hasil dari refleksi,
  3. Mengembangkan Komunitas, dan atau bermanfaat bagi orang lain,
  4. Tetap siap dikritisi, bahwa boleh jadi tindakan tersebut masih perlu perbaikan lagi.

 

Yogyakarta, 24 Januari 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.