Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia


Banyak orang jaman sekarang terlalu banyak berpikir dibandingkan merasa, bahkan ada yang mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan rasa yang sedang dirasakannya. Media sosial dan game online lebih dominan mengambil waktu anak-anak muda. Sementara, sensitivitas Rasa akan terlatih dengan kehadiran, bertemu langsung. Oleh karena itu mereka menjadi kurang terlatih dalam mengolah rasa.

Kondisi tersebut menjadi lebih parah oleh tuntutan dunia kerja dan akademik yang menekankan untuk meminimalkan rasa dalam berinteraksi. Hampir semua diukur dengan data, fakta, dan angka. Hasil diharapkan cepat, tepat dan akurat. Persaingan menjadi ranah utama. Bermain dianggap membuang waktu sia-sia.

Pertemuan dan interaksi yang terjadi dipahami sebagai transaksi, untung rugi. Jika kondisi tersebut terus berlangsung  mereka akan jauh dari bahagia, karena untuk dapat berbahagia mereka perlu mampu merasa. Bahagia adalah rasa.

Psikodrama adalah Metode Tindakan, permasalahan tidak hanya dibicarakan namun dipertunjukkan dalam tindakan. Jadi permasalahan mereka yang riuh pikirannya diajak untuk merasa, lewat tindakan. Peserta diajak spontan bertindak, dari tindakan itu langsung diminta merasakan.

Dalam tahap Warming Up, dibangun suasana boleh salah, sehingga pikiran-pikiran yang muncul tidak menghambat tindakan. Situasi ini dapat membawa tindakan menjadi lebih spontan. Setiap tindakan diarahkan untuk adanya pertemuan dengan orang lain, Mereka berinteraksi, bergerak, diharapkan muncul rasa, sebagai bahan refleksinya.

Teknik Sculpture dapat dilakukan untuk itu, Peserta mematung berteraksi, membentuk Diorama, selanjutnya diminta untuk memaknakan posisinya, kesadaran tubuhnya dalam berinteraksi. Pastikan ada tatapan mata diantara peserta untuk menciptakan interaksinya. Ini lebih kuat dibandingkan dengan kata-kata, atau dialog. Dialog lebih pada saat diajak menyentuh logikanya dalam mengenali rasa, nanti.

Jika masih kesulitan dalam merasa, boleh dilakukan dengan pengenalan Rasa, memberikan tambahan Kosa kata Rasa. Peserta diberikan kesempatan untuk melihat emoticon di Handphone mereka. Diminta menirukan dan ditebak oleh yang lainnya. Tindakan ini memberikan kesempatan pada tubuh untuk ber-emosi, dan tiap orang memiliki pengalaman sendiri. Transformasi tercipta ketika pengetahuan merasuk dalam rasa. Karena proses mencari dan berusaha sendiri, meskipun kecil atau singkat, itu milik sendiri. Pengalaman ini yang akan mengubah atau menstransformasi diri.

Salah satu Teknik Sosiometri juga dapat dilakukan, yaitu Teknik Lokogram. Tentukan 3 titik, bisa dilakukan dengan meletakkan selendang/kain warna (bisa dengan benda yang lain atau imajiner saja) untuk menentukan 3 titik tersebut di lantai. Tiga titik itu, diberi nama, Pikiran, Rasa, Tindakan.

Instruksikan pada semua peserta untuk berdiri di tiap titik, yang sesuai dengan pengalamannya satu bulan terakhir.  Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak merasa, silahkan berdiri di Titik Rasa. Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak berpikir, silahkan berdiri di Titik Pikiran. Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak bertindak, silahkan berdiri di Titik Tindakan Rasa. Bila ada yang kombinasi boleh ditambahkan titik baru.

Setelah terbentuk kelompok tersebut, diminta untuk memberikan penjelasannya. Apa yang dirasakan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Rasa. Apa yang dipikirkan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Pikiran .Apa yang dilakukan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Tindakan.

Ini adalah proses Self Assesment Spontan. Bila pesertanya sekitar 10 orang, diberi kesempatan untuk setiap orang mengutarakan penjelasannya. Bila lebih banyak boleh cukup beberapa perwakilan kelompok saja.

Penjelasan dalam pengalaman ini adalah :

  • berhubungan dengan tugas, atau pekerjaan, Tindakan menjadi hal utama, baru didukung dengan pikiran dan segenap rasa agar segera tuntas.
  • berhubungan dengan interaksi sosial atau orang lain, Rasa menjadi hal utama untuk dikedepankan sebelum bertindak.
  • berhubungan dalam menentukan bahwa hal itu merupakan tugas, atau interaksi sosial, Pikiran yang memegang peran utama dalam mengelolanya.

Sengaja dalam proses Psikodrama, dipilah-pilah agar dapat memahami lebih dalam. Praktek keseharian selalu berkelindan, saling mempengaruhi. Namun dengan memahami ranah ini, bila keadaan terlalu kompleks dan membuat stress, seseorang dapat memilih yang perlu diutamakan, sehingga permasalahan yang dihadapi dapat diatasi dengan lebih efektif. Bahkan permasalahan yang dihadapi dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.

Silahkan mempraktekkan Psikodrama, bila ada yang kurang jelas kita dapat berdiskusi lebih lanjut. Terima kasih.

Yogyakarta, 25 Januari 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

4 tanggapan untuk “Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia”

  1. Benar sekali kepekaan merasakan ini perlu dilatih. Saya ketemu dengan orang yang merasa semuanya ‘biasa saja’ tanpa ada kesan mendalam. Lama lama merasa hampa tanpa rasa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.