Aku Sengaja Memilih Bersama Mereka yang di Bawah, Lemah, dan Kalah


Hari ini aku dengan melihat YouTube, Audisi ajang pencari bakat di berbagai negara. Mereka menunjukkan performa yang istimewa, bahkan mampu menyentuh rasa hingga menjadikan aku meneteskan air mata. Kekaguman yang tidak lagi dapat diungkapkan dengan kata-kata. Muncul pemikiran bahwa mereka mungkin bukan lagi manusia dari dunia ini. Hahahahaha lebay ya,….?

Ternyata orang muda sekarang juga banyak yang suka menonton Youtube. Bahkan diantara mereka juga bercita-cita untuk menjadi Youtuber, atau mendapatkan kesuksesan seperti apa yang ada di dalam Youtube terkenal dan memiliki penghasilan besar. Teknologi informasi telah berkembang pesat, melebihi kecepatan apa yang dapat dibayangkan.

Diantara peserta Ajang Pencari Bakat tersebut hanya sedikit yang betul-betul mencapai puncak kesuksesan seperti bakat mereka. Ada teori yang telah menjelaskan fenomena tersebut. Ibarat bentuk Piramid, puncaknya runcing dan kecil, badannya besar dan lebar, demikian juga mereka yang sukses hingga puncak, hanya sedikit, dibandingkan seluruh peminatnya. Banyak yang berguguran dalam prosesnya, selanjutnya tidak terdengar kabar beritanya.

Sementara itu, banyak orang-tua dan institusi pendidikan hanya mengajarkan anak untuk menjadi orang yang sukses, tetapi tidak mempersiapkan mereka cara menangani kegagalan dan mengajarkan kepada anak-anak pelajaran yang benar tentang realitas kehidupan.

Bahkan ada orang-tua yang tidak menginginkan anaknya terlibat dalam kesulitan/masalah, sehingga selalu difasilitasi dan dibantu agar bisa terhindar dari kegagalan atau penderitaan. Padahal realitas kehidupan tidak selalu diwarnai dengan “tawa”, namun juga “tangis”. Selagi orang-tua masih mampu membantu, mungkin hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi apakah orang-tua akan selamanya bisa mendampingi dan membantu anaknya ?

Mensikapi keadaan itu, aku memilih untuk berfokus pada mereka yang tidak sukses. Dari Fenomena Piramid aku menyasar badannya yang besar, bukan diajarkan bagaimana naik ke puncak piramid, namun lebih pada kemampuan untuk bangkit kembali dan terus berjalan mendaki, terus berproses tanpa henti.

Juga untuk anak muda, aku akan fokus pada meningkatkan kemampuannya menyikapi dengan tepat jika terjadi “krisis” dan menangani kegagalan yang menimpanya, sehingga tidak sampai berujung pada keputusasaan yang berakibat fatal.

Dengan Psikodrama, aku akan ajak, mereka bereksplorasi, menjelajah situasi dan kondisi yang baru. Memasuki kondisi yang tidak pasti, mereka akan mengalami kegagalan, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman tersebut. Aku ajak mereka mengalami realitas kehidupan dalam suasana terbimbing dan menyenangkan. Aku tidak mengajak mereka belajar bagaimana menjadi sukses. Aku mengajak mereka untuk lebih dapat menikmati kehidupan dan bersyukur pada apa yang terjadi, dan berani menghadapi kemungkinan di masa depan.

Ya, Aku memilih bersama mereka yang di bawah, lemah dan kalah. Kebahagiaan juga dapat dicapai dengan bersyukur pada apa yang telah didapatkan dan dialami apa pun itu. Hal ini perlu juga dilatih dan dipelajari.

Semoga dapat dipahami.

Yogyakarta, 7 Januari 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.