Aku dan Keterlambatanku, Indah pada Waktunya.


Dulu waktu SMA aku paling sering terlambat. Dan bukti akan hal itu adalah dipanggilnya Orang tuaku ke sekolah untuk membahas masalah keterlambatanku ini. Di SMA kalau terlambat di wajibkan senam di Teras di dekat ruang Kepala Sekolah. Setelah senam baru diijinkan masuk untuk mengikuti pelajaran jam berikutnya, setelah diberikan surat keterangan dari Wakil Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah waktu itu disiplin sekali. Pintu Gerbang depan akan di tutup tepat Pukul 06.45 WIB. Petugas yang berjaga di gerbang di awasi oleh beliau dari ruang Kepala Sekolah, yang berjendela kaca menghadap gerbang. Petugas akan di tegurnya jika tidak menjalankan tugasnya dengan benar.

Pukul 07.00 WIB, gerbang dibuka kembali, dan yang terlambat akan dikumpulkan di teras depan Ruang Guru. Teras tersebut sebelah kirinya adalah Ruang Kepala Sekolah, dan sebelah kanannya Ruang Wakil Kepala sekolah. Salah seorang guru, atau seringnya Guru BP, keluar dan menghidupkan musik untuk mengiringi senam kami yang terlambat.

Sebenarnya aku sudah bangun pagi, dibangunkan pukul 05.30 WIB, cukup untuk mandi dan sarapan. Namun yang aku lakukan pindah ke kursi lalu tidur lagi. Pukul 06.30 WIB dibangunkan lagi oleh Ibuku. Aku langsung mandi, pakai pakaian seragam dan lari berangkat sekolah.

Sengaja pilih waktu mepet. berangkatnya jika nanti di jalan langsung dapat Bus luar kota, sekitar pukul 06.15 WIB. Aku masih pas dapat tepat sebelum Gerbang di tutup, dengan lari-lari dari tempat berhenti Bus hingga gerbang sekolah. Lewat dari itu, semenit saja, sudah pasti terlambat.

Rumahku memang di luar kota, sekitar 25 km dari sekolah. Sebenarnya tidak hanya aku yang dari luar kota, banyak yang lainnya. Namun mereka tidak terlambat sebanyak aku. Maka saat naik kelas 3, aku minta untuk kost di dekat sekolah, tinggal bersama beberapa teman sekolah. Aku tidak lagi terlambat ke sekolah,…namun sesekali mbolos,…Lah…?????

Begitulah cerita sering terlambat waktu SMA, dan untuk berikutnya cerita terlambat lulus saat kuliah. Kuliah pada jamanku tahun 90an, rerata lulus sekitar 6 tahun untuk Strata 1. 4,5 tahun lulus S1, dianggap cepat. Nah aku membutuhkan waktu sekitar 10 tahun, baru lulus S1.

Aku mulai semester II sengaja mengambil 18 sks saja meski bisa 21 atau 24, tergantung Indeks Prestasi (IP) semester sebelumnya. Kuliah hari Senin pagi aku kosongkan, hari Sabtu juga kukosongkan penuh, dan hari Jumat aku hanya ambil kuliah yang pagi. Strategi ini kulakukan agar aku bisa ikut aktifitas Alam Bebas, Pecinta Alam Psikologi (Palapsi). Hampir setiap akhir pekan aku aktif kalau tidak naik gunung, arung jeram, penelusuran Gua kapur ,..dan tentu yang utama Camping.

Ditambah lagi aku merintis kegiatan Teater Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) Fakultas Psikologi, bersama beberapa kawan. Makin aktif dech diriku.

Hal yang penting dalam memperlambat lulusku adalah, aku mengalahkan  waktu KKN.  Aku undur satu semester agar aku bisa persiapan dan Pentas Teater (KRST) komunitas Teater yang kami bentuk sebagai wadah kami bereksplorasi.

Masih kurang aktif, aku mengikuti kegiatan Kerelawanan Sosial. Alasanku untuk mengaplikasikan pelajaran Psikologi di kampus, dengan menjadi konselor remaja, di Sahaja PKBI. Kemudian berlanjut mendampingi anak jalanan serta merintis Perkumpulan Indriya-Nati. Sebuah Lembaga yang peduli pada anak dan perempuan di Yogyakarta.

Kalaulah tidak ada, surat peringatan dari fakultas Psikologi UGM, akan batas waktu, segera lulus, atau diminta untuk mengundurkan diri. Boleh jadi masih akan tetap aktif berkegiatan. Aku diberikan Surat Peringatan itu, kami menyebutnya surat cinta dari Fakultas, …ya akhirnya aku selesaikan kuliahku. Aku termasuk laskar terakhir yang akhirnya lulus,….jadi inget tulisan kaos “Ra Patia Pinter ning Kagama” wkwkwkwwk

Nah, keterlambatanku berikutnya adalah masalah karir. Memang berkaitan, dengan lama waktu aku lulus. Karirku relatif  terlambat, bila dibandingkan dengan kawan seangkatan. Kawan-kawanku sudah menduduki level Manager Yunior, sementara aku baru melamar kerja.

Ada kejadian saat aku bekerja itu, aku ditawari kerja di tempat lain dengan posisi yang lebih baik oleh adik angkatan (dulu pernah kuliah bareng). Dengan tidak enak  hati, Aku tidak menerimanya dengan alasan bahwa akan repot nantinya, karena posisiku ada dibawahnya langsung. Lebih baik berteman saja. Resiko kuliah lama.

Sekitar 10 tahun lebih aku berkarir di dunia kerja, di dua perusahaan yang berbeda dengan posisi terakhir sebagai Trainer Soft Skill. Sebenarnya hal ini yang aku inginkan. Sesuai dengan minat utamaku menjadi pengajar. Aku dari keturunan Guru. Kedua orang tuaku guru. Namun aku tidak ingin terjebak oleh pekerjaan administratifnya sebagai pengajar formal, maka Aku undur diri dari Perusahaan, aku memutuskan menjadi Trainer Soft Skill  lepas (freelance).

Aku menggunakan Metode Psikodrama. Aku gabungkan kesukaanku bermain Teater (drama) dan ilmu Psikologi yang aku dapatkan di kampus, serta pelajaran yang aku dapatkan dari mengikuti berbagai pelatihan. Sebagai freelance Trainer, aku mengawali dengan menawarkan ke kampus untuk mahasiswa, atau sekolah. Sementara kawan seangkatanku sudah menjadi trainer senior level nasional.Bisa dibilang aku terlambat menjadi trainer ini.

Ada lagi keterlambatanku. Aku juga ingin menjadi penulis. Sekarang ini aku lakukan demi mendukungku sebagai Praktisi Psikodrama. Teman seangkatanku sudah lebih dari sepuluh tahun lalu menjadi Blogger dan diakui secara Nasional. Kawanku yang lain sudah menulis puluhan buku. Sementara aku masih menulis seperti ini di sini.

Jadi sekarang aku sebagai Praktisi Psikodrama yang sedang belajar menulis. Eh,..masih ada keinginanku yang terlambat, yaitu aku ingin memiliki Perusahaan, menjadi Owner dari usaha yang kujalankan dan mampu memberi pekerjaan pada orang lain. Kata banyak orang kalau mau menjadi pengusaha seharusnya selagi muda kalau sekarang sudah terlambat. Ada benarnya karena adik angkatanku, ada yang sudah menjalankan bisnis ini, sudah memiliki karyawan dan omzetnya lebih dari 5 milyar Gross setahun. Sementara aku masih berusaha mengumpulkan dana untuk modal awal pendirian sebuah Perusahaan Terbatas (PT).

Dari pengalaman aku terlambat, akhirnya bisa juga masuk kelas, meski perlu senam pagi terlebih dahulu, waktu SMA. Aku juga Lulus SMA. Terlambat lulus kuliah, juga tetap mendapatkan pekerjaan. Terlambat karir juga dapat berkarir. Terlambat menjadi Trainer sekarang aku menjadi trainer. Terlambat menulis, sekarang aku menulis. Jadi kalau sekarang aku terlambat untuk memiliki Perusahaan sendiri, aku yakin bahwa itu akan terjadi, seperti ujaran bijak, “Lebih Baik Terlambat, daripada Tidak”.

Ada yang lebih menguatkan keyakinanku. Sebuah motto yang selalu disampaikan saat Upacara Bendera di SMA. Setelah mendapatkan Piala atas prestasi siswa, kepala sekolah mengucapkan “Kita buktikan bahwa We’re not the Worst”. Entah mengapa aku senang dan selalu teringat kata kata itu.

Ya,..dengan keterlambatanku, aku telah membuktikan bahwa aku bukan yang paling buruk, dan tetap dapat menikmati proses kehidupan ini. Semua Indah Pada Waktunya.

Yogyakarta, 13 Februari 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Aku dan Keterlambatanku, Indah pada Waktunya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.