Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building


Sosiometri yang awalnya sebagai sarana untuk mengukur hubungan sosial, dikembangkan oleh Moreno menjadi cara untuk membangun hubungan sosial. Tulisan berikut mengenai penerapan sosiometri ini untuk membangun kerjasama dan rasa saling percaya dalam kelompok kerja.

Aku sering menggunakannya sosiometri ini, pada tahap Warming Up, tahap pertama dalam Psikodrama, yang bertujuan membangun rasa saling percaya antar peserta, untuk persiapan menuju tahap Action. (baca: 3 Tahap Psikodrama).

Berikut beberapa tekniknya:

Teknik Lokogram. Tentukan 3 titik, bisa dilakukan dengan meletakkan selendang/kain warna (bisa dengan benda yang lain atau imajiner saja) untuk menentukan 3 titik tersebut di lantai. Tiga titik itu, diberi nama, Pikiran, Rasa, Tindakan.

Instruksikan pada semua peserta untuk berdiri di tiap titik, yang sesuai dengan pengalamannya satu bulan terakhir.

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak merasa, silahkan berdiri di Titik Rasa.

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak berpikir, silahkan berdiri di Titik Pikiran.

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak bertindak, silahkan berdiri di Titik Tindakan Rasa.

Bila ada yang kombinasi boleh ditambahkan titik baru.

Setelah terbentuk kelompok tersebut, diminta untuk memberikan penjelasannya. Apa yang dirasakan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Rasa. Apa yang dipikirkan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Pikiran .Apa yang dilakukan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Tindakan.

Ini adalah proses Self Assesment Spontan. Bila pesertanya sekitar 10 orang, diberi kesempatan untuk setiap orang mengutarakan penjelasannya. Bila lebih banyak boleh cukup beberapa perwakilan kelompok saja.

Penjelasan dalam pengalaman ini adalah :

  • berhubungan dengan tugas, atau pekerjaan, Tindakan menjadi hal utama, baru didukung dengan pikiran dan segenap rasa agar segera tuntas.
  • berhubungan dengan interaksi sosial atau orang lain, Rasa menjadi hal utama untuk dikedepankan sebelum bertindak.
  • berhubungan dalam menentukan bahwa hal itu merupakan tugas, atau interaksi sosial, Pikiran yang memegang peran utama dalam mengelolanya.

Sengaja dalam proses Psikodrama, dipilah-pilah agar dapat memahami lebih dalam. Praktek keseharian selalu berkelindan, saling mempengaruhi. Namun dengan memahami ranah ini, kita ajak peserta untuk  mengutamakan rasa. Kesadaran akan apa yang dirasakan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, demi menjalin hubungan yang lebih baik.

Teknik Spektogram. Tentukan 2 titik, Nol dan titik Seratus. Dua titik ini dapat dibuat dengan meletakkan selendang, atau benda apa pun sebagai tandanya. Kita akan mengajak dalam melihat kesiapan untuk Terlibat dalam proses pelatihan ini.

Seluruh peserta diminta untuk berdiri di sepanjang garis imaginer 0 s/d 100.  Titik Nol sebagai tanda ingin terlibat pasif, dengan menonton dan mencatat, dan Titik Seratus akan terlibat aktif apa pun, bergerak, berpikir dan merasa. Peserta dapat memilih berdiri diantara kedua titik tersebut, dengan menyebutkan angka nya. Boleh 29, 12, 30, 76, 98 bebas saja, memilih angka diantara 0 s/d 10o itu.

Spektrum ini mengukur perasaan dari nol sampai dengan 100, kesiapan untuk membuka diri, dan terlibat. Kemudian diungkapkan dengan verbal agar saling memahami. Bila peserta sedikit dapat diberikan kesempatan menjelaskan pilihannya berdiri di tempat tersebut. Setelah mendengarkan ungkapan peserta fasilitator mengucapkan kata terima kasih sudah berbagi. Sebuah tindakan menghargai kepada peserta, diharapkan dapat menginspirasi peserta lain untuk juga berani mengungkapkan perasaan atau pikirannya dalam menjelaskan pilihan berdirinya. Dengan saling mendengarkan dan mengungkapkan diri, ada saling pengertian, saling memahami, dan lebih penting lagi saling menghargai. Hal ini menjadi awal dan dasar untuk saling mempercayai.

Teknik Sosiometri Hand on shoulder, menentukan pilihan dengan meletakkan tangan di pundak orang lain. Peserta diminta untuk memilih salah satu orang yang ingin dikenal lebih jauh, dengan meletakkan tangan di pundak orang tersebut. Pastikan dahulu apakah ada yang keberatan bila pundak atau punggungnya disentuh oleh lawan jenis. Jika ada yang keberatan bisa dilakukan dengan menggunakan selendang yang disampirkan ke pundak.

Satu orang hanya memilih satu. Ada kemungkinan satu orang dipilih oleh lebih dari satu orang, dan ada kemungkinan tidak ada yang dipilih satu orang pun.  Fasilitator menanyakan bagaimana perasaan yang dipilih oleh paling banyak orang, dan juga ditanyakan bagaimana perasaan yang tidak dipilih sama sekali. Fasilitator cukup mendengarkan saja ungkapan perasaan tersebut.

Selanjutnya, tiap peserta diminta mengungkapkan pilihannya tersebut secara verbal, dengan melihat mata orang yang dipilih. Diawali dengan mengatakan, ” Aku ingin mengenal lebih jauh kamu, karena…….. (mengatakan dengan jujur apa alasannya).

Tatapan mata dan ungkapan yang jujur, yang keluar dari perasaan akan menyentuh perasaan orang. Karena hanya rasa yang dapat menyentuh rasa.

Sengaja memang dipilih ungkapan yang relatif dangkal “ingin mengenal lebih jauh”, meskipun hal ini bagi remaja menjadi sesuatu yang dalam. Namun untuk kelompok dewasa atau karyawan, boleh jadi tidak begitu dalam. Untuk itu, teknik ini dilakukan 2 kali, sekali untuk penjajagan serta memahami prosedurnya, dan tidak tiba tiba langsung mendadak melibatkan rasa yang mendalam.

Perlu hati-hati dan perlahan dalam melibatkan rasa, agar meminimalkan resistensi. Sebelum melakukan teknik ini yang kedua kalinya, diawali dengan tawaran, kesediaan jika melibatkan rasa yang lebih dalam. Apabila ada yang tidak bersedia, boleh untuk keluar dari lingkaran, atau duduk tetap di dalam ruangan. Bagi yang bersedia bisa dilanjutkan dengan berdiri melingkar, memejamkan mata dan diminta membayangkan seseorang rekan kerja yang dianggap paling berjasa dalam karir di perusahaan/organisasi tempat kerja sekarang.

Jika sudah mendapatkan nama orang itu, dipersilahkan untuk mengangkat tangan. Pastikan semua mengangkat tangan, baru diminta lagi membuka mata dan memilih orang yang ada di lingkaran yang dianggap dapat mereprentasikan orang yang dibayangkan (abaikan jenis kelamin), untuk mengucapkan terima kasih.

Sama dengan yang pertama tadi, tiap peserta diminta mengungkapkan pilihannya tersebut secara verbal, dengan melihat mata orang yang dipilih. Diawali dengan mengatakan, ” Aku berterima kasih padamu, karena…….. (mengatakan dengan jujur apa alasannya).

Setelah semua mengungkapkan (biasanya ada yang terharu dan menangis), semua peserta (termasuk yang mungkin tidak bersedia saat diajak lebih mendalam) diminta untuk duduk melingkar, agar semua bisa saling melihat. Saatnya untuk lebih memberikan kesempatan untuk mengungkapkan rasanya. Fasilitator menanyakan perasaan tiap peserta pada saat sosiometri dan sesudahnya. Pertama ditujukan pada yang menggungkapkan saat sosiometri tadi. Kedua pada yang mendengarkan orang yang dipilih. ketiga pada penonton, orang yang tidak terlibat sosiometri.

Biasanya yang terjadi, peserta akan merasa lebih lega, apalagi jika ada yang meneteskan air mata. Ada perasaan yang muncul. Air mata dalam proses ini dapat dijadikan indikator bahwa yang bersangkutan sudah berani jujur pada dirinya sendiri. Meskipun sering masih kesulitan untuk mengungkapkan dengan verbal. Keterbukaan ini (jujur) akan juga menginspirasi peserta yang lain, untuk juga berani mengungkapkan perasaannya. Terjadinya keterbukaan rasa dalam kelompok, menunjukkan adanya saling percaya, dan saling percaya ini menjadi pondasi utama dalam membangun tim kerja.

Silahkan digunakan, boleh semua atau pun sebagian, boleh juga dimodifikasi sesuai kebutuhan. Bila ada yang kurang jelas dapat membaca beberapa tulisan mengenai Sosiometri ini dan Psikodrama di tulisan yang lainnya. Terima kasih.

Yogyakarta, 28 Februari 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.