Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung


Sebuah tanggapan dari teman Psikodrama di Bandung, Iip Fariha, dari tulisan hari ini tentang Sosiometri untuk Membangun Sinergi. Awalnya aku share tulisan ini ke WA nya, dan kami berdialog sebagai berikut:

I : Kamu baik sekali menjelaskan proses dan definisinya. Bagi pemula menjadi lebih terbayang apa yang harus dilakukan.

A: Syukurlah…dapat jelas dimengerti🙏🙏🙏

I : Hanya saja, dalam prakteknya. Psikodrama, kan bersifat spontan. Jadi kejadian di lapangan tidak bisa kita duga.

A: Hal itu memang tergantung “Jam terbang”, maka tepat lah Fasilitator Psikodrama disebut Director, Sutradara, bertugas mengarahkan, agar eksplorasinya sesuai yang diharapkan dalam proses terapi ini.

I: Saya sudah melakukan praktek lebih dari 120 jam dalam 4 bulan ini. Workshop profesional Psikodrama hingga bach 4 .
Kegiatan Self Healing, team work, dan psikodrama untuk tema pra- marital. Walau prosedur sama, tapi setting dan tujuan nya berbeda. Maka hasil yang dirasakan setiap orang dan dinamika dalam grup semuanya berbeda. Malah banyak sekali keluar hal-hal yang spontan. Dan tentunya Director perlu menyiapkan diri untuk menghadapinya.

A: Yoiiii, Psikodrama memang mengajak untuk Spontan, dari Spontanitas itu muncul sympton otentik yang dijadikan dasar pengolahan kesadaran diri.

I : Metoda psikodrama kan hanya itu-itu saja. Sosiometri, Locogram, spektogram, step in, dan hand on shoulder. Seperti bahan baku masak, tapi hasil masakan tergantung bagaimana kita mengolahnya. Di tambah bumbu-bumbu lain tentunya; Dobling, Role reversal dll.

Sekarang aku mengerti psikodrama bisa sangat berbeda pada setiap kali praktek.

A: Benar !… namun aku lebih suka mengibaratkan Psikodrama sebagai Alat Masak-nya, bahan bakunya adalah Pikiran, perasaan dan Tindakan Peserta.

Nah, sekarang, tinggal bagaimana hal ini dapat disampaikan kepada orang yang belum paham psikodrama?

I: 👍🏽ya, dengan praktek,

Btw aku setuju metoda lebih tepatnya sebagai alat masaknya. Terserah mau masak apa, dengan cara apa. 

A: Yoiii, …Orang akan memahami dengan mengikuti, mengalami langsung.

I: Psikodrama itu tentang kreatifitas. Jadi mungkin tidak soal mengerti tehnik tapi lebih mengenai keberanian untuk mencoba hal-hal baru, yang bisa saja berhasil atau gagal, bisa diterima atau ditolak peserta. Psikodrama adalah tentang  trust dan keberanian untuk bergabung dalam grup, yang untuk sebagian orang merupakan sesuatu yang bisa dianggap aneh, atau mengancam privasinya

A: Tepat sekali, oleh karena itu maka tahap warming up, menjadi penting. Bahkan Moreno sendiri mengatakan, hampir semua masalah dapat dilakukan dengan Psikodrama, tergantung bagaimana Warming Up-nya dilakukan.

Demikian percakapan dalam WA, yang aku pikir penting untuk dibagikan.

Maturnuwun, terima kasih Bu Iip Fariha, atas kesediaannya berbagi. Semoga makin banyak yang dapat merasakan hasil dari praktek Psikodrama.

Amin

Yogyakarta, 29 Februari 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.