Bermain Teater Obyek dan Narasi, Safety and Trust di Teater Garasi Yogyakarta


Beberapa hari sebelumnya, Aku mendapat informasi di Group WhatsApp, mengenai workshop teater di Teater Garasi. Demikian pengumumannya :

yang berminat mari ikut…!
Teater Garasi/Garasi Performance Institute Mengundang Anda untuk terlibat dalam Object and Narrative Workshop
“Safety and Trust”
Bersama: July Yang (Ao Ao Ing Ensemble) & Wu Lu
dari Shanghai

Selasa, 25 Februari 2020
18.00 – 21.00 WIB
Studio Teater Garasi

Pengantar Workshop: Benda dapat menceritakan sesuatu. Makna akan terurai ketika benda-benda diletakkan bersama. Benda juga dapat membantu kita untuk menceritakan sesuatu. July Yang dan Wu Lu ingin menggelar workshop komposisi benda untuk menceritakan pengalaman-pengalaman mengenai safety and trust.

Peserta diminta untuk membawa 3 benda yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan 1 benda di Teater Garasi (dapat dipilih nanti ketika workshop).

Workshop ini terinspirasi juga oleh metode yang dibagikan oleh Sandra dan Lee dari Friction Arts, Birmingham, yang pernah melakukan workshop serupa di Teater Garasi. July Yang dan Wu Lu akan memformulasikan kembali dengan praktik-praktik yang telah mereka lakukan selama ini. Hasil dari workshop ini juga akan menjadi masukan untuk karya work-in-progress mereka berjudul “Tourists Like Us: satu, dua, tiga”, karya yang dikembangkan dari pengalaman mereka selama berada di Jawa, dan akan dipresentasikan pada tgl 28 atau 29 Februari 2020 ini.

Pengumuman yang menarik, ada Seniman dari luar negeri ingin berbagi, sayang jika dilewatkan. Aku daftar lewat nomer WA yang diberikan. Aku kirimkan nama dan komunitas seni yang aku ikuti. Tidak berapa lama sudah mendapatkan balasan dan disarankan untuk datang 15 menit sebelum acara di mulai.

Pada hari H, Aku datang seperti yang ditentukan sekitar 15 menit sebelum acara di mulai. Aku bertemu dengan beberapa kawan yang aku kenal. Kami ngobrol beberapa saat. Sambil ngobrol itu, aku melihat peserta lain, ternyata umurku paling tua, ach,… biar saja, belajar kan tidak mengenal usia.

Acara dimulai, di awali dengan perkenalan dari ke dua orang jepang tersebut. Bahasa pengantar yang dipakai bahasa Inggris, ada temen yang menterjemahkan. Meskipun aku cukup dapat menangkap dalam bahasa inggris, namun penerjemahannya sangat membantu.

Pemanasannya menggunakan permainan, Zip Zap. Semua peserta di ajak untuk berdiri membuat satu lingkaran. Berdiri menghadap ke dalam lingkaran. Di mulai oleh satu orang, kedua tangan ditepukkan sambil menghadap ke kiri dan berteriak keras Zip.  Orang sebelah kirinya melanjutkan dan melakukan hal yang sama, begitu berturutan. Bila ingin membalik putaran, melakukan hal sama hanya arahnya dibalik menjadi ke kanan, sambil berteriak Zap.

Permainan ini membawa pada konsentrasi. Peserta diajak untuk fokus pada proses saat ini. Jika ada peserta yang salah, karena kurang fokus, maka permainan diulang dimulai dari peserta tersebut.

Suasana agak mencair dengan adanya gelak tawa.  Peserta nampak sudah menikmati suasananya. Maka dilanjutkan dengan sesi perkenalan para peserta. Perkenalannya dengan menyebutkan nama, dan berapa lama sudah berada di Yogyakarta, untuk mengakhiri perkenalan melakukan pose dengan maju selangkah. Melakukan pose ini sama dengan sesi perkenalan yang sering aku pakai juga dalam mengawali workshop psikodrama. Makin aku tertarik lah dengan workshop ini.

Masuklah ke tema utama. Kami seluruh peserta dibagi menjadi 2 kelompok. Aku masuk dalam kelompok I, yang mendapat giliran untuk perform lebih dahulu. Kelompok II, di minta untuk menjadi penonton.

Kami kelompok I di minta meletakkan 3 barang yang dibawa di panggung, yang berupa lantai beralaskan karpet hitam. Selanjutnya diminta lagi mengambil 1 barang yang ada di Teater Garasi.

Aku bawa Korek, Kunci, Kupluk, yang lain ada Gelas, Hape, Charger, Kain, Kacamata, Lipstik, Sepatu dll.

Aku ambil Lampu darurat, yang lain, ada yang ambil kursi, sapu, Keset, dll yang ada di lokasi.

Seluruh benda ada di pinggir panggung, kami berdiri berderet di depan panggung, menunggu instruksi berikutnya.

Dijelaskan bahwa kami diminta meletakkan obyek di panggung tanpa bicara, membangun ruang aman. Tiap orang diberi kesempatan setiap masuk panggung  hanya boleh meletakkan satu obyek. Boleh melakukan berkali-kali tiap masuk panggung satu obyek, meletakkan obyek lalu keluar lagi. Demikian sampai seluruh obyek ada di atas panggung. Kami boleh juga masuk panggung lagi untuk merubah posisi obyek obyek itu, hingga kami semua puas. Instruksi terakhir, kami juga boleh memposisikan diri di dalam panggung di antara obyek-obyek itu. Latihan ini tidak dibatasi waktu, namun kami kelompok I, dalam waktu kurang lebih 45 menit sudah berhenti dan tidak ada lagi yang ingin merubah posisi obyek, dan posisi badan. Semua obyek ada di ruang panggung, beberapa dari kami, termasuk aku ada di atas panggung, beberapa ada diluar saja. Seluruh proses ini didokumentasikan dengan film, dan foto.

Demikian juga dengan prosedur yang sama dilakukan oleh kelompok II. Ada sedikit tambahan instruksi. Tiap peserta di kelompok II diberi kesempatan untuk melakukan gerakan, akting di panggung, tetap dengan tanpa suara. Hal itu dilakukan saat merubah posisi obyek, maupun untuk merespon obyek.

Kami akhiri latihan ini sekitar pukul 21.30 WIB. Kami lanjutkan dengan makan malam bersama. Kami makan nasi bungkus yang sudah disediakan sambil diskusi dan sharing.

Kami semua senang dalam latihan ini. beberapa mengungkapkan dalam sharing. Pelatih yang dari Jepang cukup senang, ia melihat bahwa prosesnya relatif cepat. Ia berekspektasi akan memakan waktu relatif lama, ada konflik antar peserta dalam memposisikan benda di panggung. Apalagi benda-benda yang dibawa tiap orang adalah benda yang dianggap penting. Konflik yang dimaksud adalah saling merubah posisi benda di atas panggung. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Ada Kompromi dalam prosesnya. Semua peserta relatif cepat merasa aman, dan merasa saling percaya untuk latihan ini. Apakah hal ini berlaku juga dalam kelompok lain, di daerah lain, di budaya lain? Masih perlu eksperimen lagi.

Mungkin karena bukan merupakan tujuannya, atau karena waktunya yang terbatas, aku tidak menangkap makna rasa yang dalam. Perasaan yang muncul saat proses tidak nampak. Pada saat sharing pun tidak digali lebih dalam kecuali rasa senang dan tertarik. Padahal menurutku latihan ini pastilah melatih rasa, kan yang mau diungkap adalah Rasa Aman dan Rasa Saling Percaya. Jangan-jangan aku yang tidak memperhatikan atau daya tangkapku yang kurang karena menggunakan bahasa Inggris.

Semoga aku dapat memiliki waktu untuk mempraktekkannya dan kugunakan untuk khusus menggali perasaan yang ada saat proses. Tentu dengan Bahasa Indonesia dan tambahan bahasa jawa.

Terima Kasih

Yogyakarta, 7 Maret 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.