Tanggapan Kasus, SENYUM PALSU Seorang SAHABAT Oleh Iip Fariha


Menyalahkan diri sendiri, labeling bodoh, terjebak dengan masa lalu, kecewa terhadap perlakuan orang lain, dan segala hal yang terjadi di MASA LALU. Belum bisa menerima diri sendiri bahkan sejak dalam pikiran, bahkan bahagia pun penuh dengan kepura-puraan. Apakah ini dirimu, wahai sahabat? Kurasa ini tidak bisa disebut sebagai dirimu. Lalu siapa?

Ketidakpercayaan diri, kesulitan untuk berelasi sosial dan kekakuan dalam membawa diri di lingkungan merupakan akibat dari “keributan di dalam diri “ yang belum selesai. Pura-pura kuat, berusaha untuk bahagia, memang terpaksa dilakukan untuk sekedar mengelabui diri sendiri dan mungkin kadang bisa saja berhasil mengelabui orang lain.

Banyak orang yang juga terkelabui oleh sikap yang tidak asli/ genuine ( alias palsu ) ini dan lalu menanggapi dengan cara dan sikap yang tidak genuine juga. Salah satu kepribadian seseorang yang mengalami hambatan menurut Frankl, adalah ketika orang lalu bersikap kompromi atas situasi lingkungannya. Saya selalu salah, dan orang lain yang benar, maka saya hanya bisa mengikuti apa kata orang lain saja. Maka kebayang gak, kalau setiap orang lalu memasang topengnya masing-masing dalam berinteraksi? Maka … setiap orang akan mengeluh di dalam hatinya masing-masing , cape…. deh. Gue bersandiwara.. loe juga bersandiwara. Memang hidup ini panggung sandiwara? Enak kalau jadi artis, bersandiwara dibayar dan menjadi media untuk healing atas sisi kepribadian yang tidak bisa ditampilkan dalam situasi normal. Ya kan??

Saya tidak maksud menyalahkan sahabat ini dengan sikap seperti ini, saya ingin agar kita belajar menengok ke dalam diri kita juga. Betapa banyak sisi dari diri kita yang selalu ingin kita sembunyikan atau terpaksa demikian karena ketidakpercayaan pada diri kita sendiri.

Mengapa begitu takut melihat diri, karena ada sesuatu yang memalukan atau rapuh di dalam sana. Bukankah ada juga sisi baik yang niscaya dimiliki oleh setiap orang?

Saya menyukai teknik psikodrama, yang sebelum pandemi ini saya gunakan untuk kegiatan grup healing. Alih-alih belajar bersandiwara atau bermain seperti artis film, psikodrama mengajak belajar untuk melihat hidup kita dalam drama yang sesungguhnya.

Bila kita berkesempatan nanti melakukannya, situasi grup yang diciptakan dalam psikodrama memang untuk belajar membuka topeng diri yang tidak genuine. Sekaligus bermasalah ini untuk jujur pada diri sendiri, dan sekaligus juga belajar untuk melihat orang lain tanpa topeng, tanpa kepura-puraan tanpa merasa takut untuk tampak bodoh atau diberi label seperti kamu bodoh atau kamu kaku, kamu gak menyenangkan, apa pun label itu baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan.

Sebetulnya kita sama dalam upaya melatih “menerima diri apa adanya” dan menghormati orang lain “apa adanya pula”.

Judgmental dalam bentuk memberi label, memang merugikan diri sendiri atapun orang lain. Sebuah label yang melekat dan umumnya negatif membuat kita tidak pernah bisa melihat sisi lain dalam kepribadian kita. Sebagai contoh, kamu itu baperan, gampang sakit hati atau kamu itu sok tahu dan dominan, bikin orang terintimidasi. Dan lain sebagainya.

Memang ada tipe-tipe kepribadian pada orang, dan secara khusus banyak di kaji dalam kuliah psikologi. Lalu banyak juga buku-buku populer dan cara-cara orang awam/non psikolog menilai dirinya sendiri, untuk mengenal tipe apa atau termasuk karakteristik kepribadian apakah dirinya. Apakah itu bukan labeling?

Sebagai contoh, setelah mengikuti test, ternyata saya tipe Introvert, intuitif, thingking dan judging (INTJ ) hayoo… siapa yang seneng ngetest dirinya sendiri??

Jadi saya sibuk dengan diri sendiri, suka merenung, mendahulukan logika, selalu perlu kepastian. Tapi apakah hanya itu??

Sesungguhnya, manusia sangat unik. Upaya manusia dengan ilmu ini merupakan cara kita untuk memberi kebaikan dan kesejahteraan mental pada manusia lain, bila lalu labeling menjadi cap dan mengikat seseorang sehingga stuck, buntu, dan seolah-olah hanya itu saja yang dia punya, maka orang akan terikat selamanya dengan penamaan dari label tersebut. Apalagi kalau labelnya jelas-jelas negatif. Kamu bodoh, kamu tidak percaya diri, kamu kaku.

Mungkin benar, tapi apa hanya itu saja yang ada pada diri anda??

Misalnya anda bodoh, tidak percaya diri di lingkungan. Anda juga baperan. Bukan berarti tidak ada manfaatnya untuk kebaikan anda. Ada sisi kepribadian lain yang menjadikan hal yang kurang ini justru menjadi suatu kekuatan pada diri anda.

Manusia memang paradox. Dan begitulah cara kita membalik suatu keadaan. Bukankah setiap ada masalah, selalu terselip disitu suatu kemudahan dan kebaikan?

Katakan saja Anda lebih mudah mengerti apa yang dirasakan oleh diri sendiri dan juga orang lain, bisa belajar untuk lebih empati pada orang, bisa lebih mengerti bahwa setiap orang ternyata punya masalah juga seperti kita, dan belajar untuk memaafkan diri yang baperan, yaitu ketika mudah terhanyut oleh suasana hati, terima saja dulu. Itu memang dirimu.
Dengan merasa bodoh dan menyesali masa lalu, lalu kita bisa belajar untuk lebih pinter dan waspada. Mencari cara-cara baru untuk berelasi, dan melakukan tindakan dengan lebih terencana.

Buatkan suatu kalimat afirmasi yang disampaikan pada diri sendiri misalnya :
Saya menghargai diri saya yang membutuhkan waktu untuk belajar menerima kekurangan diri. Saya tahu saya punya sisi potisif dan akan saya berikan kesempatan untuk muncul dan membuktikan bahwa saya baik, berguna, berharga dan patut mendapat kesempatan.

Tidak apa-apa kalau kita salah dan lalu menyesali kesalahan itu, itu satu point baik, bahwa kita sadar diri dan lalu mengetahui bahwa orang lain juga sama, kadang berbuat salah, maka kita belajar memaafkan orang lain dan menerima kekurangan diri.

Banyak tips orang untuk belajar memaafkan diri sendiri. Namun ini memang paling sulit, seperti yang saya sampaikan pada bab tentang pemaafan.

Hal itu disebabkan kita selalu memiliki standar diri dan punya harapan pada diri sendiri, yang bisa jadi itu tidak realistis. Bisa juga kita di tuntut oleh lingkungan dan kita tak mau menolak padahal hal itu menjadi beban mental bagi kita. Maka jujurlah pada diri sendiri. Dan terimalah segala hal yang kurang pada diri kita, sebagai mana kita juga wajib menerima kekurangan orang lain. Sebab semua manusia sama. Tidak pernah ada yang sempurna. Sebab kesempurnaan adalah milik yang menciptakan kita.

Tidak penting orang lain tahu siapa kita, kitalah yang patut mengenal diri kita apa adanya dan ingatlah bahwa Tuhan tahu apa adanya diri kita, Tuhan bersedia dengan pemaafan dan kasih sayangNYa. Apakah kita mau menolak hal itu??

Be Yourself.

Bandung, 4 April 2020

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.