Hanya Orang yang Merasa Dicintai yang Mampu Mencintai, Refleksi Pengalaman Cinta


“Menarik nih,..mengenai cinta,…”

Demikian komentarku atas tanggapan bahasan di Group WhatsApp #Indonesiabahagia1 yang dikomandani oleh Iip Fariha. Selanjutnya aku menuliskan pemahamanku tentang mengelola cinta, yang aku dapatkan dari seorang Pastor di Pusat Spiritualitas Girisonta.

Rumusannya sederhana (sebagai bahan refleksi).
– Cinta itu need (menuntut untuk diberi)
atau
– Cinta itu Value (suka cita dengan memberi).

“Hanya orang yang merasa dicintai mampu mencintai”

Jikalau Cinta masih menjadi “need” maka orang akan menuntut sekitarnya untuk mencintainya…ini sakit, lalu orang itu menyakiti orang lain dengan tuntutannya itu, sadar maupun tidak sadar.

Nah jikalau cinta sudah merupakan “Value”maka orang akan menyebarkan aura positif pada sekitarnya. Suka citanya akan diberikan pada orang lain dan lingkungannya.

Cara paling utama untuk menjadikan Cinta sebagai “Value” adalah dengan menemukan, menyadari dirinya dicintai (merefleksikan diri hingga menemukan dan merasakan bahwa, orang lain, Keluarga, Lingkungan, dan tentunya dari Sang Maha Cinta, telah memberikan Cinta itu tanpa syarat).

Contoh kasus yang disharingkan di group :

Pernah saat itu ada teman yang selama hidupnya merasa ibunya terlalu keras atas dirinya, tidak memberi apresiasi, kaku, dan kurang penyayang. Dia merasa dengan hal tersebut, menjadikan dirinya kaku dan flat juga.

Akhirnya teman ini diminta untuk memperagakan (teknik Role Play dalam Psikodrama) lagi dengan orang lain atas suatu keadaan masa kecilnya. (playback)

Pada adegan tersebut, dia menjadi dirinya sendiri saat masih kecil yang melaporkan kepada ibunya bahwa dia juara 1. Kata per kata ibunya saat dulu, diperagakan ulang oleh orang lain yang berperan sebagai ibunya, yang intinya mengabaikan atas capaian itu.

Saat peragaan awal itu perasaannya, masih belum gimana-gimana.
Terus dilibatkan lagi orang lain lagi yang berperan sebagai dirinya, dia mengamati saja. (Teknik Mirorring)
Kata per kata ucapannya saat dulu dia masih kecil, diperagakan oleh orang baru ini.

Setelah teman saya ini berperan sebagai pengamat, dia baru menyadari bahwa sebenarnya perasaan dia sendiri saja yang lebay menuntut ini itu ke ibunya. Sementara cinta ibunya bisa dia rasakan dari ketika ibunya bekerja keras menyekolahkan dia. Ibunya ini single parent dan memang sangat sibuk mencari uang untuk dirinya. Jadi ingat iklan Thailand gak sih hehe…

Tapi yang menarik dari cerita teman saya ini, setelah itu dia tidak lagi menganggap ibunya terlalu keras atau apa. Terlebih lagi sekarang dia sudah menjadi ibu dari beberapa orang anak, sehingga dia berubah 180 derajat, penilaian atas ibunya menjadi lebih positif.

Dari sharing ini nampak akhirnya teman ini menemukan (menyadari) bahwa ia dicintai oleh ibunya.🙏👍👍👍

Berani menyelami pengalaman masa kecil, berani jujur pada diri sendiri,…, Mampu melihat dari berbagi sisi,…menjadi hal yang perlu dilatih,…agar mampu menemukan…Cinta itu…🙏🙏🙏👍👍👍.

Demikian pernyataan sebagai penutup komentar dalam Group itu.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 08 April 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.