“Corona Ergo Sum” Renungan Kecik by : Goro Hendratmoko


Rene Descartes, seorang filsuf Perancis pernah mengungkapkan jargon filsafat yang sangat populer yaitu “cogito ergo sum”. Frase itu punya arti “ketika aku berpikir, maka aku ada”. Untuk saat ini, ijinkan aku mengubah frase itu dengan “corona ergo sum”.

“Corona ergo sum !”
Mungkin kedengarannya aneh, wagu dan duplikatif tapi biarlah, bagiku frase itu representatif untuk menggambarkan fase minor saat ini. Minta maaf bila ungkapan ini berbau plesetan tapi saat ini sangat relevan karena bisa menjadi ungkapan satir yang menggambarkan situasi sulit di masa pandemi yang masif ini.

Ketika corona mewabah seantero jagad dan menjadi perang dunia ketiga ini, hampir semua orang terbelalak matanya bahwa corona ini berdampak pada “ergo sum”, yang kumaksudkan adalah orang orang mulai berpikir ulang atau tersadarkan betapa pentingnya “keberadaanku, nyawaku, hidupku, kesehatanku, keselamatanku, etc”.

Ketika masing masing mulai berpikir kembali atas substansi hidup ini maka mau tidak mau, suka tidak suka corona ini menjadi jelmaan kenabian di dunia saat ini yang mengingatkan semua orang untuk kembali kepada falsafah klasik bahwa “sing penting dudu bondo donya” tapi “piye uripe le madep manembah marang Gusti”.

Gusti tidak lagi dicari di dalam gereja-gereja, masjid-masjid, mimbar kotbah, misa mingguan atau sholat jumat tetapi lebih dari itu, Gusti ditemukan melalui (ijinkan mengambil kata-katanya Gus Mus) kesendirian, mulut yang terkunci, hakekat diri yang senyap, keheningan, ati sing wening, masuk ke dalam ruang batin.

Mungkin selama ini orang terninabobokan oleh perayaan ritual, seolah olah kalau sudah mengikutinya lalu mendapat tempat di hati Tuhan dan yakin mendapat lipat berkat atau pahala padahal dia lupa ketika mengikutinya tak begitu kusuk dan kidmat melainkan sambil bercanda atau sekedar tengok HP mbokmenowo ada telpon panggilan atau WA.

Satu pelajaran terpenting dimasa pandemi ini adalah kita diberi kesempatan untuk kembali pada hakekat diri. Pertanyaannya adalah apakah kita berani untuk meninggalkan keramaian? Beranikah kita masuk ke dalam relung hati yang paling dalam? Meski kita berhadapan dengan kebosanan dan kejenuhan stadium 4, mungkinkah kita bisa tenang dan bijak memandang, memahami dan bersikap pada semesta hidup ini?

Berat dan tidak mudah tentunya untuk beradaptasi dengan perubahan situasi hidup yang drastis ini. Tetapi mau tidak mau kita harus berkubang pada lumpur ini sambil terus berusaha, berikhtiar, meningkatkan askese dan berdoa dalam harapan yaitu harapan kepada Tuhan Semesta Alam supaya badai ini cepat berlalu.

Dalam ratap tanyaku pada situasi ini, aku ingat akan salah satu jargon biblis yang sering kita dengar : iman, harapan dan kasih, dan yang terbesar dari ketiganya adalah kasih. Maka, mungkin fase pandemi ini lebih jauh lagi mengingatkan kepada kita bahwa yang terpenting dalam hidup adalah tidak hanya sekedar beriman dan berpengharapan tetapi bagaimana perbuatan kita di dunia ini.

Sederhananya adalah baik bila kita punya iman dan harapan dalam hidup tetapi semuanya akan menjadi mandul kalau kemudian hidup kita tidak migunani tumraping liyan.

Bolehlah aku share sedikit pengalaman menarik temanku belum lama ini. Seminggu yang lalu aku bertemu dengan seorang teman lama. Temanku itu bercerita sambil mrebes mili, matanya berkaca kaca. Katanya : ” Nek kahanan koyo ngene iki terus, nggo ngopo aku duwe mobil, punya kemewahan, dll ? Lha piye ora tau dinggo. Ora ono gunane? Sekarang yang penting bisa makan dan bertahan hidup ! Itu sudah cukup.”

Kemudian temanku itu menutup ceritanya dengan mengungkapkan niatnya untuk berbagi di masa pandemi ini. Tabik!

Akhir kata kecik, mari tunduk dan madep manembah marang Gusti. Kita rendahkan diri di hadapan Sang Semesta Alam. Kita rendahkan diri serendah tanah.

Sujudku di hadapan Pieta
Kalasan, 12/04/2020

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on ““Corona Ergo Sum” Renungan Kecik by : Goro Hendratmoko”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.