Mengelola Inner Child “HEALING YOUR INNER CHILD”


Tujuan dari bahasan ini adalah untuk memahami “siapa” Inner Child itu, memeriksa dinamikanya, mengidentifikasi inner child yang terluka dan memahami pentingnya menyembuhkan luka itu. Selanjutnya juga untuk mempraktekkan penyembuhan luka batin dalam setting klinis jika dibutuhkan.

Inner Child adalah aspek layaknya anak kecil yang ada dalam pikiran bawah sadar kita. Inner Child dapat dilihat sebagai ‘subpersonalitas’, sisi karakter kita yang dapat mengambil alih ketika kita dihadapkan dengan tantangan atau permasalahan yang menekan.

Inner child mencerminkan masa lalu ketika kita kanak-kanak yang berada dalam aspek ‘negatif’ dan ‘positif’. Kebutuhan kita yang tidak terpenuhi dan emosi saat kita masih kecil (kanak-kanak) yang tertekan, serta kepolosan, kreativitas, dan sukacita kita yang kekanak-kanakan, masih menunggu di dalam diri kita. ”

Dinamika Inner child merupakan emosi yang tersembunyi atau yang kita sembunyikan. Emosi bawah sadar kita yang dikendalikan oleh orang tua kita. Kita merasa bahwa kita hanya diterima dan dicintai jika kita “baik” menurut orang tua kita. Emosi yang tersembunyi ini biasanya dominan rasa takut terhadap penolakan, diabaikan, atau dilecehkan. Jiwa kanak-kanak yang takut disakiti atau ditolak lagi.

Mengolah Inner Child dapat membantu kita untuk menerima dan merasakan emosi kita. Kita dapat melindungi ‘jiwa kanak-kanak di dalam diri’ dalam pribadi dewasa kita. Sehingga akhirnya kita menjadi ‘dewasa’, dapat menghormati dan mengurus kebutuhan kita sendiri.

Inner child ini penting. menurut penasihat dan mentor terkemuka, Mateo Sol: “Mengolah Inner child adalah proses menghubungi, memahami, merangkul dan menyembuhkan inner child kita yang terluka (luka batin masa kanak-kanak). Inner Child juga mewakili diri kita yang asli dalam menghadapi kehidupan di dunia ini; itu berisi kemampuan kita untuk mengalami keajaiban, kegembiraan, kepolosan, kepekaan, dan kesenangan.”

Inner Child yang terluka perlu disembuhkan, dikelola dengan kesadaran. Kita dapat menemukan dan melepaskan emosi yang tertekan yang menghambat perkembangan kemampuan kita. Pengolahan Inner child dapat membantu kita untuk mengenali kebutuhan yang belum terpenuhi. menyelesaikan pola pikir, rasa dan tindakan yang menghambat, serta menawarkan kesempatan untuk meningkatkan pengelolaan diri, membantu kita menjadi pribadi yang kreatif dan menyenangkan. Hal ini akan meningkatkan rasa harga diri kita, sebagai pondasi untuk kepercayaan diri.

Kita dapat menemukan tanda-tanda Inner Child yang terluka (Luka Batin) dalam diri kita, dengan mencoba mengidentikasi diri kita sendiri. Mari kita coba beberapa diantaranya. Jika, kita merasa ada sesuatu yang salah di bagian terdalam diri kita. Kita mengalami kegelisahan ketika keluar dari zona nyaman. Kita selalu berusaha membuat orang-orang senang dengan mengabaikan perasaan sendiri. Kita tidak memiliki identitas diri yang kuat, mudah diombang ambingkan oleh pendapat orang lain. Kita sering berkonflik dengan orang-orang di sekitar kita.

Selain itu kita juga memendam banyak hal, pikiran, emosi, orang-orang, dan kita kesulitan dalam melepaskannya (sulit move on). Kita merasa sebagai pribadi yang tidak pantas, terus-menerus mengkritik tentang hal tidak memadainya itu. Kita tidak dapat memaafkan diri sendiri, kaku dan perfeksionis. Kita sulit berkomitmen dan percaya orang lain, jika menghadapi permasalahan sering mengabaikan atau suka ngeles. Perlu direfleksikan jika kita merasa ada salah satu diantaranya.

Ada 6 langkah untuk membantu menyembuhkan inner child kita yang terluka. Menurut John Bradshaw, penulis buku Home Coming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, proses ini melibatkan enam langkah:

1. Keyakinan, bahwa apa yang terjadi pastilah memiliki hikmah dan sesuatu yang baik.
2. Validasi, perlu validasi ulang, pastikan yang terjadi dengan melihat dari berbagai sudut pandang.
3. Shock dan kemarahan, mulai menyadari perasaan marah, menemukan sesuatu yang baru, pemahaman baru yang selama ini ditekan atau diingkari, awalnya akan marah pada lingkungan luar dirinya, orang lain, namun selanjutnya akan mengarah pada diri sendiri.
4. Kesedihan, Ada muncul kesedihan, mengapa hal itu bisa terjadi, kesadaran bahwa marah pada diri sendiri tidak cukup untuk memperbaiki situasi. Hingga puncaknya sudah tidak dapat mengungkapkan rasa, tinggallah air mata.
5. Penyesalan, merasa bahwa yang terjadi, juga karena ada kontribusi diri sendiri. Mulai mengasihani diri, menyesal dan bertobat, mohon ampunan
6. Kesunyian diri, Ada kelegaan bahwa semua berasal dari diri sendiri, dan bisa diatasi oleh diri sendiri, dan ada tekad untuk berani menjadi diri sendiri.

Kesemua langkah tersebut adalah proses yang akan dialami dalam pengolahan inner child untuk menuju kesembuhan.

KIta dapat melakukan proses pengolahan Inner child dengan menghubungkan kembali pengalaman masa kanak kanak kita. Kita identifikasi pengalaman yang spesifik, yang paling terkesan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, atau untuk memudahkan pengalaman yang selalu teringat. Kita dapat menulis surat pada “dia” (diri kita sendiri ketika masih kanak-kanak). Perhatikan perasaan apa yang ada pada waktu itu. Waspadai kritik batin kita (kritik batin dari diri kita yang sudah dewasa) bisa jadi hal ini yang menghambat perkembangan diri kita. Pengalaman masa kecil yang dikritik oleh orang tua.

Ingatkan diri kita betapa istimewanya dan hebatnya kita sebagai seorang anak. Temukan dari pengalaman kita selama kanak kanak, memiliki tempat yang aman, yang menyenangkan dan memberikan rasa tenang. Berbicaralah dengan baik kepada inner child kita setiap hari dan dengan suara/kata kata yang menenangkan. Beri tahu dia (inner child kita) bahwa ia sekarang dicintai, dihargai (dihargai oleh kita sendiri). Beri tahu dia tidak harus membuktikan dirinya kepada siapa pun. Dia tidak perlu merasa bersalah atau malu. Menjadi diri kita apa adanya.

Tidak ada yang salah dengan dirinya. Beri tahu “dia” betapa bangganya kita terhadapnya. Dia perlu merasa dihargai. Jangan mentolerir rasa tidak hormat lagi. Jadilah wali, pengasuh, dan pelindungnya mulai dari sekarang . Dia seharusnya tidak pernah lagi takut sendirian karena kita selalu ada untuknya sekarang. Minta maaflah kepadanya, karena tidak menyadari rasa sakitnya dan kebutuhan untuk diperhatikan di masa itu, dan sering memaksanya terlalu keras untuk mencoba dan mengesankan orang lain.

Yakinkan dia bahwa kita hanya akan mengizinkan orang-orang yang memberi rasa aman, dapat dipercaya, dan menghargai ke dalam dunianya sekarang . Secara teratur tanyakan padanya bagaimana perasaannya dan apa yang dia inginkan. Perlihatkan rasa hormat pada tubuh kita – rumah inner child kita. Dapatkan kembali hal-hal yang memberi kita kegembiraan sebagai seorang anak. Siapkan kegiatan kreatif untuk dinikmati inner child kita yang asyik!

Beberapa teknik dan strategi untuk berhubungan kembali dengan Inner child kita. Melihat foto diri ketika masih kanak-kanak. Kita dapat membuat dialog dengan “inner child kita sendiri. Kita dapat juga membuat surat untuknya. Membuat catatan harian. Mengatakan hal hal yang menguatkan dan menyenangkan. Melakukan visualisasi, membayangkan ketika kita masih kecil. Melakukan Meditasi. dapat juga dengan mengikuti terapi bermain. (salah satunya Psikodrama).

Kita perlu menjaga inner child kita. Inner child tidak perlu dihilangkan, kita perlu merengkuhnya. Kita rawat dan penuhi kebutuhannya dengan sadar. Kita lindungi inner child kita. Kita peluk “dia” tujuannya bukan untuk menyelesaikan urusan kita di masa lalu (masa kanak-kanak) yang belum tuntas, melainkan untuk merangkul menerima dengan penuh hormat serta menghargai perasaan “dia” (perasaan kita sendiri).

Beberapa tantangan dalam setting terapi yang perlu diperhatikan. Proses terapi mengolah Inner child dapat memunculkan ketergantungan yang tidak sehat pada terapis. Juga adanya kendala dalam waktu dan uang, prosenya sering membutuhkan waktu relalif lama. Kurangnya kesadaran masyarakat kita – banyak budaya dan masyarakat masih mengabaikan pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam kehidupan orang dewasa. Dan yang terakhir terdapat batas dan harapan yang kabur dalam mengukur keberhasilannya.

 

*Terjemahan bebas dari materi Webinarnya 
Caroline Asirvatham EAP Counselor Health Psychologist
Workplace Option
Professional Development Institute
Pada tanggal 12 September 2019

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Mengelola Inner Child “HEALING YOUR INNER CHILD””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.