Proposal Psikodrama untuk Mahasiswa Psikologi, Psikolog, dan Praktisi Terapi Kelompok


I. Pengantar

Psikodrama adalah Metode Tindakan (Action Method), sering digunakan sebagai psikoterapi, di mana klien menggunakan dramatisasi spontan, bermain peran, dan presentasi diri yang dramatis untuk mengungkapkan dan mendapatkan wawasan tentang kehidupan mereka.

Psikodrama dikembangkan oleh Jacob L. Moreno, seorang psikiater, psikososiologis sekaligus pendidik Amerika kelahiran Rumania. Ketika tinggal di Wina pada awal 1900-an, Moreno memulai sebuah teater improvisasi, Stegreif theater, the Theatre of Spontaneity, di mana ia merumuskan bentuk psikoterapi yang disebut psikodrama, yang menggunakan dramatisasi improvisasi, permainan peran, dan terapi lainnya, menggunakan ekspresi dramatis yang memanfaatkan dan melepaskan spontanitas dan kreativitas kelompok dan anggota individualnya.

Moreno melihat “psikodrama sebagai langkah logis berikutnya di luar psikoanalisis.” Itu adalah “kesempatan untuk bertindak alih-alih hanya berbicara, untuk mengambil peran orang-orang penting dalam hidup kita untuk memahami mereka dengan lebih baik, untuk menghadapi mereka secara imajinatif dalam situasi aman teater terapeutik, dan yang paling penting secara tidak langsung menjadi manusia yang lebih kreatif.

Psikodrama mencakup elemen teater, sering dilakukan di atas panggung, atau ruang yang berfungsi sebagai area panggung, di mana alat peraga dapat juga digunakan.

Terapi Kelompok psikodrama, yang dilakukan di bawah arahan psikodramatis berlisensi, memperagakan kembali kehidupan nyata, situasi di masa lalu (atau proses mental batin), melakukan semua (permasalahan)  itu di masa sekarang. Peserta kemudian memiliki kesempatan untuk mengevaluasi perilaku itu semua, merefleksikan bagaimana insiden masa lalu dimainkan di masa sekarang dan lebih dalam memahami situasi tertentu dalam kehidupan mereka.

Psikodrama menawarkan cara kreatif bagi individu atau kelompok untuk mengeksplorasi dan memecahkan masalah pribadi. Ini dapat digunakan dalam berbagai setting klinis dan berbasis komunitas, dan paling sering digunakan dalam setting kelompok, di mana anggota kelompok berfungsi sebagai agen terapeutik satu sama lain dalam drama yang ditetapkan.
Psikodrama bukanlah bentuk terapi untuk kelompok, melainkan merupakan psikoterapi individual yang dijalankan dari dalam kelompok.

Ada “manfaat sampingan” yang mungkin dialami oleh anggota kelompok lainnya, karena mereka membuat hubungan dan wawasan yang relevan dengan kehidupan mereka sendiri dari psikodrama orang lain. Psikodrama paling baik dilakukan dan diproduksi oleh seseorang yang terlatih dalam metode ini, yang disebut director (sutradara) psikodrama.
Dalam suatu sesi psikodrama, satu klien dari kelompok itu menjadi protagonis, dan berfokus pada situasi yang khusus, pribadi, dan bermasalah secara emosional untuk didramakan di atas panggung.

Berbagai adegan dapat diberlakukan, yang menggambarkan, misalnya, ingatan tentang kejadian tertentu di masa lalu klien, situasi yang belum selesai, inner drama, fantasi, mimpi, persiapan untuk situasi pengambilan risiko di masa depan, atau ekspresi keadaan mental yang tidak dipahami di sini dan sekarang. Adegan ini sebaiknya mendekati situasi kehidupan nyata atau eksternalisasi proses mental batin.

Anggota lain dari kelompok tersebut dapat menjadi pembantu, dan mendukung protagonis dengan memainkan peran penting lainnya dalam adegan atau mungkin melangkah masuk, sebagai “double” yang memainkan peran protagonis.

Prinsip inti psikodrama adalah teori “kreativitas spontanitas” Moreno. Moreno percaya bahwa cara terbaik bagi seorang individu untuk merespons secara kreatif terhadap suatu situasi adalah melalui spontanitas, yaitu melalui kesiapan untuk berimprovisasi dan merespons pada saat itu. Dengan mendorong individu untuk mengatasi masalah dengan cara yang kreatif, bereaksi spontan dan berdasarkan dorongan hati, mereka mungkin mulai menemukan solusi baru untuk masalahnya dan belajar peran baru yang dapat mereka gunakan dalam hidup mereka.

Fokus Moreno pada tindakan spontan dalam psikodrama dikembangkan di Theater of Spontaneity, yang ia arahkan di Wina pada awal 1920-an. Kecewa dengan stagnansi yang dia amati di teater konvensional yang ditulis, dia menemukan dirinya tertarik pada spontanitas yang diperlukan dalam kerja improvisasi. Ia mendirikan rombongan improvisasi pada tahun 1920-an. Karya di dalam teater ini berdampak pada perkembangan teori psikodramatisnya.

II. Psikodrama Memiliki Tingkat Kesulitan yang Tinggi.

Bersama beberapa rekan praktisi Psikodrama, kami berdiskusi dan sharing pendapat mengenai pengalaman belajar dan praktek Psikodrama. Kami sepakat bahwa Psikodrama memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Hal ini diawali dengan pernyataan Iip Fariha, rekan Psikolog yang di Bandung, mengatakan bahwa Drs. Asep Hairul Gani ( Lebih dikenal sebagai Kang Asep, seorang Trainer dengan berbagai spektrum keahlian ) mempersyaratkan agar belajar teknik-teknik lain sebelum belajar Psikodrama. Psikodrama masuk kategori teknik tertinggi dari psikoterapi.

Psikodrama itu powerfull dan penuh resiko, sehingga tepat Kang Asep mengarahkan untuk mengusai berbagai macam teknikterapi psikologis terlebih dahulu, untuk memastikan pemahaman berbagai Proses terapi bekerja, karena ada yang menyatakan bahwa Psikodrama adalah kolaborasi berbagai teknik (ekletik). Dengan kata lain mempraktekkan Psikodrama adalah meramu berbagai macam teknik dengan tindakan untuk membantu Klien.

Mario Cossa, ( seorang praktisi psikodrama ternama dari New York yang belajar Psikodrama dari Zerka Moreno, istri dari founder Psikodrama J.L. Moreno ) pernah berkata , bahwa Psikodrama tidak boleh dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya. Psikodrama memiliki resiko yang besar bila dilakukan tidak tepat, di Amerika hanya mereka yang telah memiliki sertifikasilah yang boleh melakukan praktek Psikodrama. Bahkan Sertifikat dari negara bagian Amerika yang lain belum tentu berlaku.

Untunglah ada ahli Psikodrama yang lebih asyik (menurut saya), yaitu: Adam Blatner (dalam Penjelasannya mengenai Psikodrama adalah Eksplorasi Tindakan) yang menyatakan bahwa Psikodrama memiliki dua peran dalam budaya modern:
1. Psikodrama dapat digunakan sebagai “terapi” atau
2. Dapat digunakan terpisah dari terapi, untuk melayani tujuan peningkatan kesadaran lainnya. Dalam bisnis, pendidikan, pengembangan pribadi, pelatihan peran di industri, untuk penyelesaian konflik, permainan, dan sebagainya, apa yang saya sebut “Eksplorasi Tindakan” menerapkan metode psikodramatik dalam melayani banyak tujuan lainnya. Bukan hanya untuk pengobatan penyakit jiwa! Hal ini harus dilakukan secara eksplisit!

Berdasarkan pernyataan Adam Blatner, saya berani mengajak banyak orang untuk segera ber-Psikodrama. Saya berkeinginan agar makin banyak orang mengenal Psikodrama dan mempraktekkannya di Indonesia. Maka saya mem”provokasi” agar siapa saja yang kenal Psikodrama segera mempraktekkannya. Sejauh bukan untuk Terapi (peran ke-2 Eksplorasi Tindakan nya Adam Blatner) makin banyak berpraktek akan makin mahir.

Sementara untuk mempraktekkan Peran Utamanya (peran-1 Eksplorasi Tindakan-nya Adam Blatner) sebagai Metode Terapi, tetap wajib yang bersertifikat, yaitu bergelar Psikolog dan memiliki ijin Praktek Psikologi di Indonesia yang tentunya sudah memahami kode etik Terapi Psikologi

III. Tahapan Utama dalam Psikodrama

Psikodrama terdiri dari tiga tahap utama, yaitu:
1. Pemanasan (Warming up)
2. Pentas (Action)
3. Integrasi / Refleksi

Tiga tahap ini menjadi tahapan utama untuk membantu mengintegrasikan proses psikodrama ke dalam kelompok, dalam merancang spontanitas, dan mengaplikasikannya ke proses terapi. Boleh juga jika ingin ditambahkan untuk mengawali dengan tahap Perkenalan, dan diakhiri dengan tahap Penutup, berterima kasih dan bersalaman.
Mari kita bahas lebih lanjut:

1. Pemanasan (Warming Up)
Tujuan tahap ini adalah membangun kepercayaan dari peserta kepada Director dan yang lebih penting adalah membangun kepercayaan antar peserta. Pemanasan merupakan bagian penting dalam menumbuhkan kepercayaan dan ikatan dalam kelompok. Karena Psikodrama adalah terapi dalam setting kelompok yang proses terapinya mengambil dari dinamika interaksi dari kelompok.

Pemanasan bisa dilakukan dengan aktivitas fisik, seperti menari, bermain musik, dll untuk pemanasan fisik atau Olah Tubuhnya. Sementara untuk mengolah Rasa dengan mengenalkan emosi dan mengekpresikan emosi. Dalam tahap ini juga perlu pemanasan Pikiran dengan berimajinasi dan penjelasan tujuan dan situasi apa yang akan dikembangkan.

Berdasarkan pengalaman berpraktek, tahap pemanasan ini dirasa cukup, jika sudah muncul ungkapan rasa yang otentik, baik berupa “getar” kala berkata-kata, atau ada setitik air mata. Tanda-tanda tersebut dapat dijadikan pedoman sudah adanya saling percaya dalam kelompok. Tanda bahwa peserta sudah berani jujur kepada dirinya sendiri. Saatnya memasuki tahap berikutnya.

2. Pentas (Action)
Dalam tahap ini perlu diperhatikan adalah pemilihan protagonis, seorang yang kita minta kesediaannya menceritakan “drama” hidupnya untuk dipertunjukkan. Ini merupakan penghargaan terhadap pilihan peserta untuk memutuskan kedalaman (keterlibatan) berprosesnya dalam terapi.

Pemilihannya dapat dengan menggunakan teknik Sosiometri agar keterlibatan semua anggota kelompok terwujud. Keterlibatan setiap anggota kelompok akan mendukung Protagonis untuk lebih berani mendapatkan “feel” yang dibutuhkan. Mereka dapat menjadi ego pendukung dalam drama yang dimainkan, mendukung Protagonis mencapai pemahaman baru atas masalah yang dihadapinya.

Meskipun hanya drama dari Protagonis yang dipertunjukkan, namun semua anggota kelompok akan larut dalam adegan-adegannya, baik yang terlibat menjadi Ego Pembantu, maupun yang hanya menonton. Karena turut merasakan apa yang dirasakan Protagonis, tanpa disadari semua anggota mengolah juga perasaannya sendiri, yang dihubungkan dengan pengalaman pribadi masing masing, demikianlah proses terapeutik terjadi pada seluruh anggota kelompok.

3. Integrasi / Refleksi
Setelah pentas, pengalaman tersebut direfleksikan dan diintegrasikan, dengan melakukan sharing dalam kelompok. Sharing diawali dengan mengungkapkan perasaan dan pengalaman baru yang didapatkan. Perlu diperhatikan untuk tidak mengeluarkan pendapat yang menghakimi antar sesama.

Sharing ini diarahkan untuk tiap peserta mampu mengambil pelajaran dari pentas (action) yang telah dipertunjukkan tadi, dan mampu menemukan hal-hal yang mempengaruhi perasaan mereka dan mempengaruhi pola pikir mereka. Dengan demikian akan didapatkan perubahan pola pikir yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.

IV. 15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno

V. Fasilitator Pelatihan

1. Retmono Adi , seorang pecinta teater yang juga Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada. Ia mengawali karirnya sebagai pendidik, kemudian menjadi praktisi HRD di sebuah perusahaan pertambangan. Dalam berbagai pencarian, akhirnya ia memutuskan untuk mengawinkan hobbynya dalam bidang seni Peran (teater/drama) dan profesinya sebagai Psikolog dengan fokus pada Psikodrama dan menerapkan aplikasi ini dalam berbagai bidang kehidupan melalui pelatihan. Ia telah menerapkan pelatihan Psikodrama ini sejak tahun 2010 dan menjadi fasilitator pelatihan berbasis drama baik untuk perusahaan, para psikolog, konselor, mahasiswa Psikologi, serta penerapannya dalam dunia pendidikan dan spiritual.

2. Deddy Endriyanto, Pengalaman dalam bidang  HRD di beberapa perusahaan lebih dari 10 Tahun, menjadi konsultan dan Trainer, akhirnya memutuskan untuk menjalankan perusahaan sendiri sebagai direktur.

VI. Peserta pelatihan

1. Mahasiswa Psikologi
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan :
• Memahami berbagai peran dalam kehidupan
• Mengatasi kecemasan akan masa depan
• Membangun visi
• Memahami Psikologi Terapan
Durasi waktu
Pelatihan dilaksanakan dalam durasi 8 Jam. (1 Hari)

2. Psikolog, Terapis, Guru BK
Setelah Mengikuti pelatihan ini
• Memahami berbagai teknis dalam Psikodrama
• Mampu melakukan Konseling/Terapi Kelompok dengan Psikodrama
Durasi waktu
Pelatihan dilakasanakan dalam durasi 16 Jam (2 hari)

3. Pengajar, Trainer, Guru Paud,
Setelah Mengikuti pelatihan ini
• Memahami berbagai teknis dalam Psikodrama
• Mampu Menerapkan Psikodrama untuk metode Pembelajaran aktif
Durasi waktu
Pelatihan dilaksanakan dalam durasi 8 Jam. (1 Hari)

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.